Kebijakan efisiensi anggaran yang tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 01 Tahun 2025 menyebabkan pengurangan besar pada kegiatan pemerintah, termasuk rapat, seminar, dan konferensi. Padahal, kegiatan MICE selama ini menjadi tulang punggung pendapatan hotel, terutama di kota-kota besar seperti Surakarta. Dampaknya langsung terasa pada tingkat hunian hotel yang turun signifikan, bahkan hanya mencapai kisaran 20–30% setelah kebijakan diberlakukan.
Dalam konteks ini, peran Public Relations menjadi krusial. PR tidak hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga menjaga citra, membangun kepercayaan publik, serta mengelola hubungan dengan berbagai pemangku kepentingan. Ketika krisis terjadi, fungsi ini menjadi semakin strategis karena menyangkut keberlangsungan bisnis.
Latar Belakang dan Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Informan utama meliputi tim Marketing Communication Hotel Solo Paragon dan perwakilan PR dari PHRI Surakarta. Data juga diperkuat dengan laporan industri serta aktivitas media sosial hotel.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti memahami secara mendalam bagaimana strategi komunikasi dibentuk dan dijalankan dalam situasi krisis nyata, bukan sekadar berdasarkan teori.
Temuan Utama: Adaptasi Strategi Komunikasi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hotel Solo Paragon tidak bergantung pada satu strategi, melainkan menerapkan kombinasi pendekatan komunikasi yang fleksibel dan responsif terhadap perubahan pasar.
Beberapa temuan utama meliputi:
1. Perubahan target pasarFokus dialihkan dari segmen pemerintah ke korporasi swasta, acara sosial (pernikahan, ulang tahun), serta wisatawan individu dan keluarga.
2. Penguatan media digital
Kampanye dilakukan secara intensif melalui Instagram dan TikTok, termasuk kolaborasi dengan influencer untuk meningkatkan jangkauan promosi.
3. Kemitraan strategis
Hotel memperkuat kerja sama dengan platform Online Travel Agent seperti Traveloka dan Agoda untuk menarik pasar baru.
4. Promosi berbasis kebutuhan pasar
Paket harga kompetitif ditawarkan tanpa mengurangi kualitas layanan, sebagai solusi atas keterbatasan anggaran pelanggan.
5. Pendekatan komunikasi terpadu
Menggabungkan media digital dan konvensional (TV, surat kabar) untuk menjangkau berbagai segmen usia dan institusi.
Strategi ini menunjukkan bahwa fleksibilitas dan pemahaman pasar menjadi kunci utama dalam menghadapi krisis eksternal.
Analisis Krisis: Hotel sebagai “Korban”
Penelitian ini menggunakan kerangka Situational Crisis Communication Theory (SCCT) dari W. Timothy Coombs. Dalam perspektif ini, krisis yang dialami Hotel Solo Paragon dikategorikan sebagai victim crisis, yaitu krisis yang disebabkan oleh faktor eksternal di luar kendali organisasi.
Karena bukan kesalahan internal, tingkat tanggung jawab yang diberikan publik kepada hotel relatif rendah. Hal ini menjadi keuntungan strategis karena hotel tidak perlu fokus pada permintaan maaf, melainkan pada adaptasi dan inovasi.
Strategi Respons Krisis
Hotel Solo Paragon menerapkan tiga strategi utama dalam merespons krisis:
1. Deny strategy (klarifikasi)Menegaskan bahwa penurunan aktivitas bukan akibat kualitas layanan, melainkan kebijakan pemerintah.
2. Diminish strategy (pengurangan persepsi negatif)
Menunjukkan bahwa krisis ini dialami seluruh industri, bukan hanya satu hotel.
3. Bolstering strategy (penguatan citra)
Menonjolkan keunggulan hotel melalui promosi, inovasi layanan, dan hubungan dengan pelanggan setia.
Kombinasi strategi ini terbukti efektif dalam menjaga reputasi dan mempertahankan kepercayaan publik.
Integrasi Nilai Lokal: Kunci Keberhasilan
Salah satu temuan menarik adalah integrasi nilai budaya Jawa dalam strategi komunikasi. Hotel mengadopsi prinsip seperti “tepa selira” (empati), “andhap asor” (rendah hati), dan komunikasi yang halus serta sopan.
Pendekatan ini terlihat ketika hotel memilih dialog dan empati dibandingkan penalti saat acara dibatalkan oleh instansi pemerintah. Strategi ini tidak hanya meredam konflik, tetapi juga membangun loyalitas jangka panjang dengan klien.
Dengan kata lain, keberhasilan strategi PR tidak hanya bergantung pada teori modern, tetapi juga pada kemampuan mengintegrasikan kearifan lokal.
Dampak dan Implikasi
Temuan penelitian ini memberikan beberapa implikasi penting:
- Bagi industri hotel: pentingnya diversifikasi pasar dan tidak bergantung pada satu sumber pendapatan.
- Bagi praktisi PR: strategi komunikasi harus adaptif, berbasis data, dan mempertimbangkan persepsi publik.
- Bagi pembuat kebijakan: dampak kebijakan fiskal perlu dipertimbangkan secara menyeluruh, termasuk sektor pariwisata.
- Bagi akademisi: membuka peluang penelitian lanjutan dengan pendekatan kuantitatif untuk mengukur efektivitas strategi secara numerik.
Profil Penulis
- Tri Ulan Romantias – Akademisi dan peneliti di Universitas Slamet Riyadi, fokus pada komunikasi krisis dan Public Relations.
- Fikriana Mahar Rizqi – Peneliti di bidang komunikasi strategis dan industri perhotelan, Universitas Slamet Riyadi.
0 Komentar