Sikap Mental Petani dan Kurangnya Minat Generasi Z dalam Bertani Tanaman Pangan di Desa Beru-Beru, Kecamatan Kalukku, Mamuju, Sulawesi Barat pada Tahun 2025

Gambar Ilustrasi AI

Dilema Regenerasi Petani di Sulawesi Barat: Antara Mentalitas Tangguh Generasi Tua dan Hambatan Modal Gen-Z

MAMUJU – Keberlanjutan sektor pangan di Indonesia kini berada di persimpangan jalan. Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Muhammadiyah Mamuju menyoroti fenomena kontras antara semangat baja para petani senior dengan keraguan yang menyelimuti Generasi Z (Gen-Z) dalam menggeluti sektor pertanian.

Penelitian yang dipimpin oleh Siti Nur Syam Ismaniza A. bersama Indriani, Siti Nurazizah Jufri, Muhsin Husain, dan Ananda ini dilaksanakan pada Mei 2025 di Desa Beru-Beru, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Studi yang dipublikasikan dalam International Journal of Contemporary Sciences (IJCS) awal tahun 2026 ini menjadi krusial karena membedah akar masalah mengapa profesi petani kian ditinggalkan oleh kaum muda, padahal kebutuhan pangan dunia tidak pernah berhenti tumbuh.

Krisis Penerus di Tengah Potensi Alam yang Melimpah

Secara geografis, Desa Beru-Beru memiliki potensi pertanian tropis yang sangat besar dengan curah hujan tinggi mencapai 2.100 mm per tahun. Namun, kekayaan alam ini terancam sia-sia karena adanya tren penurunan minat Gen-Z pada sektor tanaman pangan.

Latar belakang penelitian ini mengungkap fakta lapangan yang memprihatinkan: mayoritas pekerja di sektor pertanian saat ini telah berusia di atas 50 tahun. Minimnya penerus dari kalangan muda menyebabkan penurunan jumlah tenaga kerja produktif secara signifikan. Generasi muda cenderung melihat pertanian sebagai pekerjaan yang "kurang menjanjikan," berpendapatan rendah, serta identik dengan kondisi kerja yang berat dan kotor.

Metodologi: Mendengar Langsung dari Dua Generasi

Tim peneliti dari Universitas Muhammadiyah Mamuju menggunakan pendekatan kualitatif untuk mendapatkan gambaran mendalam. Mereka melakukan wawancara langsung dan penyebaran kuesioner kepada lima petani aktif serta lima perwakilan kelompok Gen-Z di Desa Beru-Beru. Metode ini dipilih untuk menangkap persepsi, hambatan, serta harapan yang nyata dari kedua belah pihak tanpa sekat-sekat statistik yang kaku.

Temuan Utama: Petani Senior yang Adaptif, Gen-Z yang Terhambat Modal

Hasil penelitian mengungkapkan temuan yang menarik dan mematahkan beberapa stigma lama:

Optimisme Petani Senior: Para petani seperti Hadi Marsono menyatakan rasa bangga dan bahagia menjalani profesinya. Meski menghadapi tantangan seperti serangan hama dan fluktuasi harga, mereka tetap terbuka terhadap inovasi teknologi pertanian baru demi meningkatkan hasil panen.

  1. Minat yang Terpendam: Berlawanan dengan asumsi umum, mayoritas responden Gen-Z (4 dari 5 orang) sebenarnya memiliki minat pada sektor pertanian karena menyadari bahwa pangan adalah kebutuhan abadi.
  2. Hambatan Teknis, Bukan Ideologis: Alasan utama Gen-Z enggan terjun ke sawah bukanlah karena rasa malu, melainkan karena kendala nyata seperti keterbatasan modal untuk membeli benih dan pupuk, kurangnya akses ke teknologi modern, serta minimnya pelatihan dan bimbingan.
  3. Pergeseran Karir: Sebagian kecil Gen-Z tetap memilih sektor industri atau perkantoran karena merasa tidak memiliki keahlian atau ketahanan fisik untuk bekerja langsung di lapangan.

Siti Nur Syam Ismaniza A. dan tim mencatat adanya kesenjangan yang lebar: petani tua siap mewariskan usahanya, namun Gen-Z merasa tidak memiliki "senjata" yang cukup (modal dan teknologi) untuk mengambil alih tongkat estafet tersebut.

Implikasi bagi Kebijakan Masa Depan

Penelitian ini menegaskan bahwa untuk menyelamatkan masa depan pangan, tidak cukup hanya dengan mengajak anak muda kembali ke desa. Diperlukan intervensi strategis dari pemerintah dan lembaga pendidikan.

Rekomendasi utama dari tim peneliti Universitas Muhammadiyah Mamuju mencakup kemudahan akses pembiayaan bagi petani muda, penyediaan benih unggul, serta modernisasi sarana prasarana. Selain itu, pelatihan berbasis teknologi harus diperbanyak agar wajah pertanian di mata Gen-Z berubah dari sektor tradisional yang melelahkan menjadi peluang bisnis yang modern dan inovatif.

Jika tantangan modal dan akses teknologi ini tidak segera diatasi, regenerasi petani akan terus terhambat, yang pada akhirnya dapat mengancam ketahanan pangan nasional.

Profil Peneliti

Siti Nur Syam Ismaniza A. adalah peneliti dan dosen di Universitas Muhammadiyah Mamuju. Bersama rekan-rekannya, Indriani, Siti Nurazizah Jufri, Muhsin Husain, dan Ananda, ia aktif mengkaji dinamika sosial ekonomi masyarakat agraris dan pengembangan sektor pangan di wilayah Sulawesi Barat. Fokus utamanya adalah pada pemberdayaan masyarakat desa dan adaptasi teknologi bagi generasi muda di sektor pertanian.

Sumber Penelitian:

Judul Artikel: The Mental Attitude of Farmers and the Lack of Interest of Gen-Z in Food Crop Farming in Beru-Beru Village, Kalukku District, Mamuju, West Sulawesi in 2025

Penulis: Siti Nur Syam Ismaniza A, Indriani, Siti Nurazizah Jufri, Muhsin Husain, Ananda
Publikasi: International Journal of Contemporary Sciences (IJCS), Vol. 4, No. 2, 2026
DOI: https://doi.org/10.55927/1twkze96

URL: https://journalijcs.my.id/index.php/ijcs


Posting Komentar

0 Komentar