Yogyakarta — Penelitian terbaru yang dilakukan Sarjiono dan Sri Harti Widyastuti dari Universitas Negeri Yogyakarta pada 2026 menunjukkan bahwa puisi Jawa modern tidak hanya berfungsi sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai media efektif untuk menyampaikan kesadaran lingkungan. Studi yang dipublikasikan dalam East Asian Journal of Multidisciplinary Research ini menyoroti bagaimana pilihan kata atau diksi dalam antologi geguritan Ngreksa Alam mampu membangun pesan ekologis yang kuat dan relevan bagi masyarakat saat ini.
Temuan ini menjadi penting di tengah meningkatnya krisis lingkungan global. Isu seperti perubahan iklim, kerusakan hutan, dan pencemaran lingkungan menuntut pendekatan baru dalam membangun kesadaran publik. Sastra, khususnya puisi tradisional yang berkembang dalam budaya lokal, muncul sebagai medium alternatif yang mampu menyentuh aspek emosional dan kultural masyarakat secara lebih mendalam dibandingkan pendekatan ilmiah semata.
Antologi Ngreksa Alam sendiri merupakan kumpulan puisi Jawa modern yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul pada tahun 2021. Karya ini mengangkat tema hubungan manusia dan alam, serta menggambarkan kondisi lingkungan melalui bahasa yang puitis dan simbolik. Dalam konteks ini, Sarjiono dan Sri Harti Widyastuti melihat bahwa bahasa dalam puisi bukan sekadar alat ekspresi, tetapi juga sarana penyampaian nilai dan ideologi lingkungan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis stilistika dan semantik. Peneliti menganalisis 53 satuan bahasa dalam puisi-puisi yang terdapat dalam antologi tersebut. Fokus analisis diarahkan pada bagaimana pilihan kata digunakan untuk membentuk makna, efek estetika, serta pesan ekologis yang terkandung di dalamnya. Metode ini memungkinkan peneliti memahami secara mendalam hubungan antara bahasa, makna, dan konteks sosial yang melatarbelakangi karya sastra.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa diksi dalam puisi-puisi tersebut memiliki peran yang sangat kompleks dan strategis. Penggunaan imbuhan khas bahasa Jawa, seperti infiks, serta gaya bahasa personifikasi menjadi ciri dominan yang memperkuat pesan yang ingin disampaikan. Alam tidak digambarkan sebagai objek pasif, melainkan sebagai entitas hidup yang memiliki perasaan, kehendak, dan peran aktif dalam kehidupan manusia.
Melalui personifikasi, unsur-unsur alam seperti angin, air, dan pepohonan digambarkan seolah-olah mampu berbicara dan berinteraksi dengan manusia. Pendekatan ini membuat pembaca lebih mudah merasakan kedekatan emosional dengan alam. Dampaknya, pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan menjadi lebih kuat dan membekas.
Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa fungsi diksi dalam antologi tersebut tidak hanya bersifat estetis, tetapi juga mencakup fungsi semantik, stilistik, imajinatif, dan ideologis. Secara estetis, pilihan kata memperindah karya sastra. Secara semantik, diksi memperjelas makna yang ingin disampaikan. Secara stilistik, penggunaan bahasa menciptakan ciri khas yang membedakan karya ini dari yang lain. Sementara itu, secara imajinatif dan ideologis, diksi mampu membangun kesadaran ekologis dan mendorong pembaca untuk memikirkan kembali hubungan mereka dengan alam.
Sarjiono dari Universitas Negeri Yogyakarta menjelaskan bahwa kekuatan utama sastra terletak pada kemampuannya menyampaikan pesan secara halus namun mendalam. Ia menegaskan bahwa estetika bahasa dalam sastra Jawa dapat menjadi media efektif untuk menyuarakan isu lingkungan dan menanamkan nilai-nilai etika yang berpusat pada alam. Perspektif ini dikenal sebagai pendekatan ekostilistika, yaitu kajian yang menghubungkan gaya bahasa dengan kesadaran ekologis.
Implikasi dari penelitian ini cukup luas. Dalam dunia pendidikan, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar yang mengintegrasikan pembelajaran bahasa dan kesadaran lingkungan. Guru dapat menggunakan karya sastra seperti geguritan untuk mengajarkan nilai-nilai ekologis secara kontekstual dan menarik.
Dalam ranah kebijakan budaya, temuan ini menunjukkan pentingnya pelestarian sastra lokal sebagai bagian dari strategi komunikasi lingkungan. Pemerintah daerah dan lembaga kebudayaan dapat mendorong produksi karya sastra yang mengangkat tema lingkungan sebagai bagian dari kampanye publik.
Bagi masyarakat umum, penelitian ini membuka perspektif baru bahwa membaca puisi bukan hanya kegiatan estetis, tetapi juga refleksi kritis terhadap kondisi lingkungan. Sastra menjadi ruang dialog antara manusia dan alam, sekaligus sarana untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga keberlanjutan.
Di tengah dominasi teknologi digital dan informasi instan, pendekatan berbasis budaya seperti ini menawarkan cara yang lebih humanis dan berakar pada kearifan lokal. Hal ini menjadi penting terutama di Indonesia, yang memiliki kekayaan budaya dan bahasa daerah yang sangat besar.
Sarjiono dan Sri Harti Widyastuti dari Universitas Negeri Yogyakarta
0 Komentar