Bogor—
Kosek II/Makassar Hadapi Ancaman Udara di ALKI II dan III. Studi terbaru yang
dilakukan Janner Halomoan Silalahi, Suwito, dan Rudi Sutanto dari The Republic
of Defense University yang dipublikasikan dalam dalam Contemporary Journal
of Applied Sciences (CJAS) Vol. 4 No. 2 (Februari 2026).
Penelitian
terbaru oleh Janner Halomoan Silalahi, Suwito, dan Rudi Sutanto dari The
Republic of Defense University menegaskan bahwa Komando Sektor II/Makassar
(Kosek II/Makassar) memegang peran krusial dalam menghadapi berbagai ancaman
udara di koridor vital tersebut.
ALKI
II dan III: Jalur Internasional yang Strategis dan Rawan
ALKI
II dan III merupakan jalur pelayaran dan penerbangan internasional yang
melintasi perairan serta ruang udara Indonesia bagian tengah dan timur. Jalur
ini berbatasan langsung dengan Malaysia, Filipina, Timor Leste, Australia,
hingga wilayah Palau yang berada dalam pengaruh Amerika Serikat.
Dalam
konteks meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan, frekuensi penerbangan
militer melalui ALKI II dan III mengalami peningkatan signifikan.
Data
pemantauan yang ditampilkan pada Gambar 4 (halaman 176) menunjukkan
terdapat 129 penerbangan militer tidak terjadwal yang melintasi ALKI III
sepanjang tahun 2023. Jenis pesawat yang terdeteksi antara lain C-17, F-22,
B-52, F-16, KC-135, hingga pesawat intai R-135. Pesawat C-17 tercatat sebanyak
44 kali deteksi, sedangkan KC-135 sebanyak 33 kali.
Angka
ini menunjukkan intensitas aktivitas militer asing yang cukup tinggi di wilayah
udara strategis Indonesia.
Peran
Strategis Kosek II/Makassar
Kosek
II/Makassar beroperasi dalam konsep pertahanan berlapis atau defense in
depth. Tugas utamanya meliputi:
- Deteksi
dan identifikasi ancaman udara
- Pengawasan
jalur penerbangan internasional
- Koordinasi
pencegatan pesawat asing
- Mendukung
penegakan hukum pelanggaran wilayah udara
Keberhasilan
tugas ini sangat bergantung pada sistem Intelligence, Surveillance, and
Reconnaissance (ISR) berbasis radar.
Radar
ISR: Tulang Punggung Pertahanan Udara
Radar
militer yang digunakan di wilayah Kosek II/Makassar antara lain:
- Plessey
AWS II
- Plessey
AR-15
- Plessey
AR-325 Commander
- Thomson
TRS 2215/R
Berdasarkan
Tabel 1 (halaman 178), radar-radar tersebut diproduksi antara tahun 1961
hingga 1992, dengan jangkauan maksimum 120–250 nautical mile (Nm). Sebagian
masih menggunakan teknologi tabung magnetron dengan daya pancar terbatas.
Peran
Intelijen
Radar
berfungsi mengumpulkan informasi terhadap aktivitas udara mencurigakan. Namun,
jangkauan Primary Surveillance Radar (PSR) yang di bawah 200 Nm pada beberapa
sistem membatasi kemampuan deteksi dini di luar Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE).
Keterbatasan ini berisiko memperlemah kemampuan Indonesia dalam menghadapi ancaman modern seperti pesawat stealth dan rudal hipersonik.
Peran
Pengawasan
Idealnya
radar beroperasi 24 jam sehari. Namun di Kosek II/Makassar, radar hanya aktif
12–18 jam per hari untuk mencegah kerusakan akibat usia teknologi yang sudah
tua.
Padahal
wilayah pengawasan mencakup Flight Information Region (FIR) seluas lebih dari
5,19 juta kilometer persegi. Celah waktu operasional ini berpotensi menciptakan
blind spot dalam pengawasan.
Data
penelitian menunjukkan radar mengalami downtime antara 276 hingga 456
jam per bulan akibat keterbatasan suku cadang dan faktor usia.
Peran
Rekonaisans
Dalam
sistem pertahanan udara nasional, wilayah pertahanan dibagi menjadi tiga
lapisan:
- Wilayah
Pertahanan Udara Luar (ZEE)
- Wilayah
Pertahanan Udara Utama (ADIZ)
- Wilayah
Pertahanan Udara Dalam (objek vital nasional)
Namun
pada halaman 180–181, penelitian menjelaskan bahwa radar yang ada saat
ini hanya efektif mendeteksi ancaman pada lapisan pertahanan dalam (118–240
Nm). Deteksi pada lapisan luar masih sangat terbatas.
Sementara
itu, negara lain telah mengembangkan radar Over-The-Horizon (OTHR) dengan
jangkauan hingga 3.000 km, seperti sistem Tacmor milik Australia yang
ditampilkan pada Gambar 7 (halaman 181).
Kesenjangan
teknologi ini menjadi tantangan serius bagi kemampuan deteksi dini Indonesia.
Ancaman
Geopolitik yang Meningkat
Penelitian
ini mengaitkan keterbatasan radar dengan dinamika keamanan regional:
- Peningkatan
penerbangan militer AS dan sekutunya
- Kehadiran
kapal induk dan kapal selam nuklir di sekitar ALKI
- Pengembangan
rudal hipersonik oleh China, Rusia, dan Amerika Serikat
Rudal
hipersonik sulit dideteksi radar konvensional karena kecepatan dan manuvernya
yang tinggi.
Posisi
geografis Indonesia yang strategis membuatnya berada dalam radius operasi
berbagai kekuatan militer global.
Solusi
Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Solusi
Jangka Pendek
Kosek
II/Makassar menjalin kerja sama dengan Makassar Air Traffic Services Center
(MATSC) AirNav Indonesia melalui perjanjian LOCA.
Kerja
sama ini memungkinkan:
- Integrasi
data dari 10 radar sipil
- Penempatan
personel Military Civil Coordination (MCC)
- Perluasan
cakupan deteksi hingga 250 Nm
Langkah
ini membantu memperkuat fungsi ISR dalam deteksi dini.
Strategi
Modernisasi Jangka Panjang
Penelitian
merekomendasikan:
1️⃣ Pengadaan radar aktif modern dengan
kemampuan Mode-S ADS-B
2️⃣
Pengadaan radar pasif untuk menghadapi pesawat stealth
3️⃣
Pengadaan radar OTHR dengan cakupan hingga 2.700 km
4️⃣
Modernisasi perangkat lunak sesuai doktrin operasi pertahanan udara
Radar
pasif dinilai efektif karena mampu mendeteksi emisi elektromagnetik tanpa
memancarkan gelombang aktif.
Modernisasi
Jadi Kebutuhan Mendesak
Penelitian
menyimpulkan bahwa Kosek II/Makassar memiliki peran strategis dalam menjaga
kedaulatan ruang udara di ALKI II dan III. Namun, keterbatasan teknologi radar
yang sudah berusia puluhan tahun mengurangi efektivitas deteksi dini dan
kesiapsiagaan pertahanan udara nasional.
Modernisasi
sistem radar bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
Untuk
menjamin kesiapan 24 jam, peneliti menekankan pentingnya:
- Program
modernisasi radar nasional
- Penguatan
riset dan pengembangan dalam negeri
- Kemandirian
industri pertahanan
- Integrasi
teknologi ISR terbaru
Di
tengah meningkatnya ketegangan kawasan Asia-Pasifik, kemampuan mendeteksi dan
merespons ancaman udara akan menjadi penentu utama dalam menjaga kedaulatan
Indonesia.
Profil
Penulis
- Janner Halomoan Silalahi- Universitas Republik Pertahanan
- Suwito- - Universitas Republik Pertahanan
- Rudi Sutanto- - Universitas Republik Pertahanan
Sumber
Penelitian
Silalahi, J. H., Suwito, &
Sutanto, R. (2026). The Role of Sector Command II/Makassar in Countering
Aerial Threats Via Indonesia's Archipelagic Sea Lanes (ALKI) II and III.
Contemporary Journal of Applied Sciences (CJAS), Vol. 4 No. 2, 169–188.
DOI: https://doi.org/10.55927/cjas.v4i2.135
URL: https://ntlformosapublisher.org/index.php/cjas

0 Komentar