Peran Inflasi dan Suku Bunga terhadap Indeks Harga Perdagangan Grosir di Provinsi Banten

Ilustrasi by AI


Inflasi dan Suku Bunga Dorong Kenaikan Harga Grosir di Banten, Ini Temuan Terbarunya

Penelitian terbaru oleh Albertus Maria Setyastanto bersama Sumaryoto dan Syaiful dari Universitas Borobudur Jakarta mengungkap bagaimana inflasi dan suku bunga secara nyata memengaruhi Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) di Provinsi Banten sepanjang awal 2026. Studi yang dipublikasikan di International Journal of Global Sustainable Research (Vol. 4 No. 3, 2026) ini menjadi penting karena terjadi lonjakan inflasi hingga 5,14% pada Februari 2026—melampaui target nasional dan memicu tekanan harga di berbagai sektor.

Penelitian ini menyoroti bahwa dinamika harga di tingkat grosir bukan sekadar angka statistik, melainkan indikator awal yang menentukan arah inflasi di tingkat konsumen. Temuan ini relevan bagi pelaku usaha, pemerintah daerah, hingga otoritas moneter yang berupaya menjaga stabilitas harga.


Lonjakan Inflasi dan Tekanan Musiman

Awal 2026 menjadi periode yang penuh tekanan bagi pasar grosir di Banten. Selain inflasi yang meningkat, permintaan musiman menjelang Ramadan dan Idul Fitri turut mempercepat kenaikan harga.

Permintaan tinggi terhadap bahan pokok seperti makanan dan minuman mendorong lonjakan harga dalam waktu singkat. Kondisi ini membuat pedagang grosir harus menyesuaikan stok dan strategi distribusi secara cepat, yang pada akhirnya memicu volatilitas harga.

Peneliti mencatat bahwa fenomena ini tidak berdiri sendiri. Kenaikan harga di tingkat produsen, ditambah biaya transportasi yang meningkat, menjadi pemicu utama yang kemudian merambat ke harga grosir.


Metode Penelitian: Wawancara dan Analisis Lapangan

Alih-alih menggunakan pendekatan statistik murni, tim peneliti memilih metode kualitatif untuk menggali dinamika yang terjadi di lapangan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan lima informan kunci:

  • Dua pejabat Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) Banten
  • Dua staf Bank Indonesia
  • Satu analis dari Badan Pusat Statistik (BPS) Banten

Selain itu, penelitian juga dilengkapi dengan analisis dokumen seperti laporan harga, kebijakan daerah, dan data statistik resmi.

Pendekatan ini memungkinkan peneliti mengidentifikasi “jalur transmisi” bagaimana inflasi dan suku bunga memengaruhi harga di tingkat grosir secara nyata.


Temuan Utama: Tiga Faktor Kunci Penggerak IHPB

Penelitian ini menemukan bahwa kenaikan IHPB di Banten dipengaruhi oleh tiga faktor utama:

1. Kenaikan biaya produksi dan transportasi
Harga bahan baku yang meningkat serta biaya distribusi—terutama akibat kenaikan harga bahan bakar—langsung mendorong harga grosir naik.

2. Lonjakan permintaan musiman
Periode Ramadan dan Idul Fitri menciptakan lonjakan konsumsi yang signifikan, menyebabkan tekanan tambahan pada harga.

3. Pengaruh suku bunga terhadap pembiayaan usaha
Suku bunga tinggi membuat biaya pinjaman meningkat. Akibatnya, pedagang grosir cenderung mengurangi stok karena mahalnya pembiayaan, yang justru memperparah fluktuasi harga.

Seorang informan dari Bank Indonesia dalam penelitian ini menjelaskan bahwa kebijakan suku bunga memengaruhi cara pedagang mengelola inventaris. Ketika suku bunga tinggi, stok barang menjadi lebih terbatas, sehingga harga lebih mudah bergejolak.


Dampak Nyata bagi Ekonomi dan Masyarakat

Kenaikan harga di tingkat grosir memiliki efek berantai yang luas. Karena IHPB merupakan indikator awal, perubahan di level ini biasanya akan diteruskan ke harga eceran.

Dampaknya antara lain:

  • Kenaikan harga kebutuhan pokok di masyarakat
  • Penurunan daya beli, terutama bagi kelompok berpenghasilan rendah
  • Tekanan bagi pelaku usaha kecil yang bergantung pada stabilitas harga

Penelitian juga menyoroti bahwa kenaikan upah sekitar 2,5% di Banten tidak cukup untuk mengimbangi inflasi, sehingga daya beli riil masyarakat justru menurun.


Implikasi Kebijakan: Tidak Cukup Hanya Mengatur Suku Bunga

Salah satu pesan penting dari penelitian ini adalah perlunya pendekatan kebijakan yang lebih seimbang.

Menurut Albertus Maria Setyastanto dan timnya, pengendalian inflasi tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan moneter seperti penyesuaian suku bunga. Diperlukan langkah tambahan di sisi pasokan, seperti:

  • Perbaikan infrastruktur logistik
  • Stabilisasi distribusi bahan pokok
  • Subsidi atau intervensi pada komoditas strategis
  • Pemantauan harga secara lebih rinci per komoditas

Peneliti menekankan bahwa kombinasi kebijakan moneter dan intervensi sektor riil akan lebih efektif dalam menstabilkan harga grosir.


Pentingnya Pemantauan IHPB Secara Detail

Studi ini juga merekomendasikan agar pemerintah tidak hanya melihat angka IHPB secara agregat, tetapi juga menganalisisnya secara lebih rinci berdasarkan komoditas.

Pendekatan ini membantu mengidentifikasi sumber masalah secara spesifik—apakah berasal dari distribusi, produksi, atau lonjakan permintaan.

Dengan data yang lebih detail, kebijakan yang diambil dapat lebih tepat sasaran dan tidak menimbulkan dampak negatif baru, seperti menghambat investasi.


Profil Penulis

  • Albertus Maria Setyastanto – Akademisi dan peneliti di Universitas Borobudur Jakarta, fokus pada ekonomi makro dan kebijakan publik
  • Sumaryoto – Dosen Universitas Borobudur dengan keahlian di bidang ekonomi pembangunan
  • Syaiful – Peneliti ekonomi yang menaruh perhatian pada dinamika pasar dan inflasi regional

Ketiganya aktif dalam penelitian yang menghubungkan teori ekonomi dengan kondisi nyata di lapangan, khususnya di tingkat daerah.


Sumber Penelitian

Judul: The Role of Inflation and Interest Rates on the Wholesale Trade Price Index in Banten Province
Jurnal: International Journal of Global Sustainable Research (IJGSR)
Tahun: 2026
Volume: 4, Nomor 3, Halaman 259–268

Posting Komentar

0 Komentar