Tapanuli
Selatan, Sumatra Utara— Perendaman
Air Kelapa 24 Jam Direkomendasikan untuk Bibit Salak Merah Sidimpuan.Penelitian
yang dilakukan oleh Wanda Andika Hasibuan dan tim dari Universitas Graha
Nusantara pada 2025 yang dipublikasikan International
Journal of Integrated Science and Technology (IJIST)Volume 4, Nomor 2,
Februari 2026.
Penelitian yang dilakukan oleh Wanda Andika Hasibuan dan tim menunjukkan bahwa perendaman benih salak merah Sidimpuan dalam air kelapa muda selama 24 jam dapat mendukung pertumbuhan awal tanaman, meski sebagian besar benih sebenarnya sudah memiliki daya tumbuh sangat tinggi. Temuan ini penting bagi petani karena memberikan teknik sederhana dan murah untuk meningkatkan kualitas bibit komoditas hortikultura unggulan Sumatra Utara tersebut.
Metode sederhana di rumah kaca
Riset ini dilakukan di rumah kaca
Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan pada
Mei–Juli 2025. Tim peneliti menggunakan benih salak merah dari kebun petani di
Kecamatan Angkola Barat, Tapanuli Selatan.
Benih dikelompokkan berdasarkan jumlah
biji per buah:
- satu
biji
- dua
biji
- tiga
biji
Setiap kelompok direndam dengan
perlakuan berbeda:
- air
biasa 24 jam (kontrol)
- air
kelapa muda 12 jam
- air
kelapa muda 18 jam
- air
kelapa muda 24 jam
Benih kemudian ditanam dalam media tanah, pasir, dan kompos (1:1:1) di polybag dan dipelihara hingga fase pertumbuhan awal. Peneliti mengamati daya kecambah, kecepatan tumbuh, tinggi tanaman, waktu muncul daun, dan lebar daun.
Daya kecambah sangat tinggi
Hasil penelitian menunjukkan hampir
semua benih salak merah Sidimpuan berkualitas sangat baik. Rata-rata daya
kecambah mencapai 97,22 persen pada semua perlakuan. Perendaman air kelapa 24
jam menghasilkan angka tertinggi, yaitu 100 persen, meski secara statistik
tidak berbeda nyata dengan perlakuan lain.
Kecepatan berkecambah juga relatif seragam, rata-rata 7,44 hari setelah tanam. Artinya, benih salak merah Sidimpuan secara alami memiliki viabilitas tinggi sehingga variasi perlakuan awal tidak banyak memengaruhi fase perkecambahan.
Benih tunggal tumbuh lebih tinggi
Perbedaan mulai terlihat pada
pertumbuhan vegetatif awal. Pada umur 38 dan 45 hari setelah tanam, jenis benih
berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman. Bibit yang berasal dari buah dengan
satu biji cenderung lebih tinggi dibandingkan bibit dari buah dengan dua atau
tiga biji.
Peneliti menjelaskan bahwa benih
tunggal umumnya berukuran lebih besar dan memiliki cadangan makanan lebih
banyak. Cadangan nutrisi yang terkonsentrasi ini mendukung pembelahan dan
pemanjangan sel lebih cepat pada fase awal pertumbuhan.
Sebaliknya, pada buah dengan dua atau tiga biji, cadangan nutrisi terbagi sehingga pertumbuhan tunas awal relatif lebih lambat. Perbedaan ini terutama tampak pada fase vegetatif awal, sebelum tanaman mampu menyerap nutrisi optimal dari media tanam.
Air kelapa berdampak pada fase
tertentu
Durasi perendaman air kelapa
menunjukkan pengaruh pada umur 59 hari setelah tanam. Perendaman 18–24 jam
menghasilkan pertumbuhan tanaman lebih tinggi dibanding perlakuan lain. Namun,
efek ini tidak konsisten pada semua waktu pengamatan.
Menurut tim peneliti, hormon alami
dalam air kelapa dapat merangsang aktivitas meristem dan pemanjangan batang
pada tahap tertentu. Pengaruhnya cenderung kuat pada fase awal, lalu menurun
ketika tanaman mulai aktif berfotosintesis dan menyerap nutrisi dari media.
Sementara itu, waktu muncul daun pertama (sekitar 52 hari setelah tanam) dan lebar daun tidak berbeda pada semua perlakuan. Hal ini menunjukkan pembentukan organ daun lebih dipengaruhi faktor genetik dan kondisi internal benih dibanding perlakuan awal.
Faktor internal lebih dominan
Secara keseluruhan, penelitian ini
menyimpulkan bahwa kualitas fisiologis benih menjadi faktor utama keberhasilan
perkecambahan dan pertumbuhan awal salak merah Sidimpuan. Karena benih yang
digunakan sudah berkualitas tinggi, perlakuan perendaman tidak memberikan
perbedaan signifikan pada sebagian besar parameter.
Namun demikian, tren data menunjukkan
kombinasi benih tunggal dan perendaman air kelapa 18–24 jam tetap memberi
keuntungan pada pertumbuhan vegetatif awal. Temuan ini relevan terutama ketika
kualitas benih sedang atau rendah, seperti pada praktik pembibitan skala
petani.
Wanda Andika Hasibuan dari Universitas Graha Nusantara menjelaskan bahwa teknologi sederhana berbasis bahan alami masih penting bagi petani. Air kelapa mudah diperoleh di daerah sentra salak dan tidak memerlukan biaya tambahan. Pendekatan ini dapat meningkatkan efisiensi pembibitan tanpa ketergantungan pada zat pengatur tumbuh sintetis.
Implikasi bagi petani dan agribisnis
salak
Hasil penelitian ini memberi beberapa
rekomendasi praktis bagi pembibitan salak merah Sidimpuan:
- pilih
benih dari buah dengan satu biji bila tersedia
- rendam
benih dalam air kelapa muda sekitar 24 jam sebelum tanam
- gunakan
media tanam gembur dan kaya bahan organik
- jaga
kelembapan awal untuk mendukung perkecambahan
Dengan teknik sederhana ini, petani
dapat menghasilkan bibit lebih seragam dan vigor pada fase awal. Bibit yang
kuat pada tahap awal biasanya memiliki peluang lebih tinggi tumbuh optimal
hingga fase produksi.
Bagi pengembangan agribisnis,
peningkatan kualitas bibit merupakan langkah penting untuk menjaga
produktivitas kebun salak lokal. Salak merah Sidimpuan memiliki identitas
geografis dan potensi pasar premium, sehingga konsistensi produksi menjadi
faktor daya saing utama.
Selain itu, penelitian ini memperkuat pemanfaatan bahan alami lokal dalam teknologi budidaya hortikultura. Penggunaan air kelapa sebagai zat perangsang tumbuh alami dapat mendukung pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Profil penulis
- Wanda
Andika HasibuanUniversitas
Graha Nusantara
- Rasmita
AdelinaUniversitas
Graha Nusantara
- Dewi
SartikaUniversitas
Graha Nusantara
- Yusriani
NasutionUniversitas
Graha Nusantara
- Sutan PulunganUniversitas Graha Nusantara
Sumber penelitian
Hasibuan, W. A., Adelina, R., Sartika, D., Nasution, Y., & Pulungan, S. (2026). The Effect of Seed Type in Fruit and Coconut Water Soaking on Germination and Growth Red Snake Fruit (Salacca sumatrana Becc.). International Journal of Integrated Science and Technology (IJIST), 4(2), 96–103.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijist.v4i2.278
URL: https://ntlmultitechpublisher.my.id/index.php/ijist

0 Komentar