![]() |
| Ilustrasi by Ai |
Peran Orang Tua dan Kepercayaan Diri Ekonomi Bentuk Perilaku Keuangan Mahasiswa UNESA
Mahasiswa yang terbiasa berdiskusi tentang uang dengan orang tua cenderung memiliki perilaku ekonomi yang lebih baik. Temuan ini diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Khansa Adhena Salsabila dan Dr. Mohamad Arief Rafsanjani dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Studi yang dipublikasikan pada tahun 2026 dalam Indonesian Journal of Society Development menunjukkan bahwa cara orang tua menanamkan nilai ekonomi di rumah berperan besar dalam membentuk perilaku keuangan mahasiswa.
Penelitian ini menyoroti tiga faktor utama yang memengaruhi perilaku ekonomi mahasiswa: sosialisasi ekonomi dari orang tua, literasi ekonomi, dan kepercayaan diri dalam mengelola keuangan (economic self-efficacy). Hasilnya memperlihatkan bahwa keyakinan mahasiswa terhadap kemampuan mereka mengelola uang justru lebih menentukan perilaku ekonomi dibandingkan pengetahuan ekonomi semata.
Mengapa perilaku ekonomi mahasiswa penting?
Dalam teori ekonomi klasik, manusia sering digambarkan sebagai homo economicus, yaitu individu rasional yang selalu membuat keputusan ekonomi paling menguntungkan. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak mahasiswa masih menunjukkan perilaku konsumtif, pengeluaran impulsif, atau kesulitan merencanakan keuangan jangka panjang.
Padahal mahasiswa sudah mempelajari konsep ekonomi di bangku kuliah. Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan ekonomi dan praktik pengelolaan keuangan sehari-hari.
Penelitian Salsabila dan Rafsanjani mencoba menjelaskan mengapa kesenjangan tersebut terjadi. Mereka menyoroti peran keluarga—khususnya orang tua—sebagai lingkungan pertama tempat seseorang belajar tentang uang, pengeluaran, dan nilai ekonomi.
Metode penelitian
Studi ini melibatkan 214 mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Negeri Surabaya. Para responden berasal dari angkatan 2022 hingga 2024.
Peneliti mengumpulkan data melalui kuesioner dan tes literasi ekonomi yang dilakukan secara daring. Analisis data menggunakan pendekatan Structural Equation Modeling (SEM) dengan perangkat lunak WarpPLS 7.0 untuk melihat hubungan langsung dan tidak langsung antara berbagai variabel penelitian.
Variabel yang dianalisis meliputi:
- Sosialisasi ekonomi orang tua, seperti kebiasaan memberi contoh pengelolaan uang, diskusi keuangan keluarga, dan pengalaman belajar finansial di rumah.
- Literasi ekonomi, yaitu pemahaman mahasiswa tentang konsep ekonomi seperti inflasi, permintaan dan penawaran, hingga kebijakan fiskal.
- Economic self-efficacy, yaitu keyakinan individu bahwa mereka mampu mengelola keuangan dengan baik.
- Perilaku ekonomi mahasiswa, termasuk kebiasaan menabung, mengelola pengeluaran, dan menghindari konsumsi berlebihan.
Temuan utama penelitian
Hasil penelitian menunjukkan beberapa temuan penting:
Temuan ini memperkuat teori Social Cognitive Theory dari psikolog Albert Bandura yang menyatakan bahwa perilaku manusia terbentuk melalui interaksi antara lingkungan, pengalaman, dan keyakinan diri.
Peran keluarga dalam pendidikan ekonomi
Penelitian ini menegaskan bahwa keluarga adalah tempat pertama seseorang belajar tentang keuangan. Orang tua yang terbuka berdiskusi tentang uang, memberi contoh pengelolaan keuangan, dan melibatkan anak dalam keputusan ekonomi keluarga dapat membantu membentuk perilaku ekonomi yang lebih sehat.
Sebaliknya, jika pendidikan ekonomi hanya diberikan melalui teori di sekolah atau kampus tanpa pengalaman praktis, dampaknya terhadap perilaku keuangan bisa terbatas.
Menurut para peneliti, proses belajar ekonomi di rumah dapat terjadi melalui hal-hal sederhana, seperti:
- memberi contoh menabung
- berdiskusi tentang prioritas pengeluaran keluarga
- melibatkan anak dalam perencanaan belanja
- menjelaskan konsekuensi keputusan finansial
Pengalaman tersebut membantu membangun kepercayaan diri ekonomi, yang pada akhirnya memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan keuangan.
Implikasi bagi pendidikan dan kebijakan
Hasil penelitian ini memiliki beberapa implikasi penting.
Pertama, pendidikan ekonomi di kampus tidak cukup hanya menekankan teori. Mahasiswa juga perlu diberikan pengalaman praktis dalam mengelola keuangan pribadi.
Kedua, program literasi keuangan perlu memperhatikan aspek psikologis, terutama kepercayaan diri dalam mengambil keputusan ekonomi.
Ketiga, orang tua memiliki peran strategis dalam pendidikan finansial anak sejak dini. Nilai ekonomi yang diajarkan di rumah dapat memengaruhi kebiasaan finansial seseorang hingga dewasa.
Bagi lembaga pendidikan, temuan ini dapat menjadi dasar untuk mengembangkan kurikulum yang lebih aplikatif, misalnya melalui simulasi pengelolaan keuangan, proyek kewirausahaan, atau pelatihan literasi keuangan berbasis praktik.
Profil penulis
Sumber penelitian
Salsabila, K. A., & Rafsanjani, M. A. (2026). “The Influence of Parental Socialization, Economic Literacy and Economic Self-Efficacy on Student Economic Behavior: A Study on Economic Education Students of the State University of Surabaya.”
Dipublikasikan dalam Indonesian Journal of Society Development (IJSD), Vol. 5 No. 1 (2026).
DOI: https://doi.org/10.55927/ijsd.v5i1.1

0 Komentar