Pengaruh Infrastruktur Jalan, Harga Bahan Bakar, dan Armada Logistik terhadap Biaya Distribusi PT Kereta Api Logistik (KALOG) 2019-2024


FORMOSA NEWS-Bandung

Biaya Distribusi Logistik KAI Ternyata Dipengaruhi Kombinasi Faktor, Bukan Satu Penyebab

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Adang Djatnika Effendi (UIN Sunan Gunung Djati Bandung), Amelia Hayati (Universitas Padjadjaran), dan Fauzi Abdul Rohman (UIN Sunan Gunung Djati Bandung) mengungkap bahwa biaya distribusi di PT Kereta Api Logistik (KALOG) selama periode 2019–2024 tidak ditentukan oleh satu faktor tunggal. Studi ini menegaskan bahwa kombinasi kondisi infrastruktur jalan, harga bahan bakar, dan pengelolaan armada logistik secara bersama-sama menjadi penentu utama efisiensi biaya distribusi.

Riset yang dipublikasikan pada 2026 ini menjadi penting karena Indonesia masih menghadapi persoalan biaya logistik yang tinggi—bahkan mencapai lebih dari 14% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Tingginya biaya ini berdampak langsung pada daya saing produk nasional di pasar global.

Masalah Lama: Biaya Logistik Masih Tinggi

Selama ini, banyak pihak menganggap bahwa perbaikan jalan atau penurunan harga bahan bakar akan otomatis menurunkan biaya distribusi. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu.

Indonesia terus berinvestasi dalam pembangunan infrastruktur, tetapi kinerja logistik nasional belum menunjukkan peningkatan signifikan. Hal ini menandakan adanya faktor lain yang ikut bermain, termasuk manajemen operasional perusahaan logistik itu sendiri.

PT KALOG, sebagai anak usaha PT Kereta Api Indonesia, memiliki peran penting dalam distribusi barang berbasis kereta api yang didukung armada truk untuk layanan first-mile dan last-mile. Kompleksitas operasional inilah yang menjadi fokus utama penelitian.

Cara Penelitian Dilakukan

Peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menganalisis data sekunder dari laporan tahunan PT KALOG dan data resmi pemerintah periode 2019–2024.

Tiga variabel utama yang dianalisis meliputi:

-Kondisi infrastruktur jalan nasional

-Harga bahan bakar diesel

-Jumlah dan kapasitas armada logistik

Sementara itu, biaya distribusi perusahaan dijadikan sebagai variabel utama yang diukur. Analisis dilakukan menggunakan model regresi linier berganda untuk melihat pengaruh masing-masing faktor, baik secara parsial maupun simultan.

Temuan Utama: Tidak Ada Faktor Tunggal yang Dominan

Hasil penelitian menunjukkan fakta menarik:

1. Secara parsial (sendiri-sendiri), tidak ada faktor yang signifikan

-Infrastruktur jalan tidak berpengaruh signifikan

-Harga bahan bakar tidak berpengaruh signifikan

-Armada logistik juga tidak berpengaruh signifikan

2. Namun secara simultan (bersama-sama), ketiga faktor berpengaruh signifikan

Artinya, perubahan biaya distribusi tidak bisa dijelaskan hanya oleh satu variabel saja. Ketiganya harus dilihat sebagai satu sistem yang saling berinteraksi.

3. Model penelitian sangat kuat

-Sebesar 96,66% variasi biaya distribusi dapat dijelaskan oleh kombinasi ketiga faktor tersebut

Mengapa Bisa Terjadi?

Peneliti menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi karena adanya efek kompensasi internal dalam operasional perusahaan.

Misalnya:

-Saat harga BBM naik, perusahaan bisa meningkatkan efisiensi operasional

-Saat infrastruktur membaik, dampaknya bisa tertahan jika utilisasi armada belum optimal

-Penambahan armada tidak selalu meningkatkan biaya jika digunakan secara efisien

Menurut Adang Djatnika Effendi, pendekatan parsial tidak lagi relevan untuk memahami biaya logistik modern.
“Biaya distribusi lebih dipengaruhi oleh interaksi antar faktor, bukan oleh satu variabel saja,” jelasnya.

Dampak bagi Industri dan Kebijakan

Temuan ini membawa beberapa implikasi penting:

1. Strategi perusahaan harus terintegrasi
Perusahaan logistik tidak bisa hanya fokus pada satu aspek, seperti menambah armada atau menekan konsumsi BBM. Semua aspek harus dikelola secara bersamaan.

2. Pentingnya sistem multimoda
Penggabungan transportasi kereta api dan truk terbukti mampu meredam dampak fluktuasi biaya eksternal seperti harga bahan bakar.

3. Kebijakan pemerintah perlu lebih komprehensif
Pembangunan infrastruktur saja tidak cukup. Pemerintah juga perlu mendorong efisiensi operasional perusahaan logistik melalui regulasi dan insentif.

4. Manajemen risiko energi menjadi kunci
Perusahaan besar seperti KALOG dapat mengurangi dampak kenaikan BBM melalui kontrak jangka panjang, efisiensi energi, dan diversifikasi moda transportasi.

Kontribusi Baru dalam Dunia Ilmu

Penelitian ini menawarkan perspektif baru dalam studi logistik, khususnya di negara berkembang:

-Menggunakan data nyata perusahaan (bukan hanya data makro nasional)

-Menunjukkan perbedaan antara pengaruh parsial dan simultan

-Menegaskan pentingnya pendekatan sistem dalam manajemen biaya logistik

Temuan ini juga memperkuat teori bahwa efisiensi logistik tidak hanya ditentukan oleh faktor eksternal, tetapi juga oleh strategi internal perusahaan.

Profil Peneliti

Adang Djatnika Effendi
Dosen dan peneliti di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dengan keahlian di bidang manajemen logistik dan transportasi.

Amelia Hayati
Akademisi dari Universitas Padjadjaran Bandung, fokus pada manajemen bisnis dan ekonomi transportasi.

Fauzi Abdul Rohman
Peneliti dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang mendalami bidang logistik dan operasional perusahaan.

Sumber Penelitian

Effendi, A. D., Hayati, A., & Rohman, F. A. (2026).
“The Influence of Road Infrastructure, Fuel Prices, and Logistics Fleet on PT Kereta Api Logistik (KALOG) Distribution Costs 2019–2024.”
International Journal of Business and Management Practices (IJBMP), Vol. 4 No. 1, hlm. 95–118.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijbmp.v4i1.156

https://mrymultitechpublisher.my.id/index.php/ijbmp/index


Posting Komentar

0 Komentar