Pengaruh Financial Distress dan Modal Intelektual terhadap Nilai Perusahaan dengan Ukuran Perusahaan sebagai Variabel Moderasi pada Industri Pariwisata dan Rekreasi

Ilustrasi by AI

Bandung, Jawa Barat—Pengaruh Financial Distress dan Modal Intelektual terhadap Nilai Perusahaan dengan Ukuran Perusahaan sebagai Variabel Moderasi pada Industri Pariwisata dan Rekreasi. Penelitian ini dilakukan oleh Dhea Handayani dan Rosmini Ramli dari Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) yang terbit di East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR) tahun 2026.

Penelitian yang dilakukan oleh Dhea Handayani dan Rosmini Ramli mengungkapkan bahwa financial distress menjadi faktor utama yang menurunkan nilai perusahaan sektor pariwisata dan rekreasi di Indonesia. Sementara itu, modal intelektual belum terbukti memengaruhi valuasi pasar secara signifikan pada periode pemulihan pascapandemi 2020–2024.

Financial Distress Jadi Sinyal Negatif bagi Investor

Menggunakan data 10 perusahaan pariwisata dan rekreasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama 2020–2024 (200 observasi kuartalan), penelitian ini mengukur nilai perusahaan dengan Tobin’s Q, tekanan keuangan dengan model Springate (S-Score), serta modal intelektual menggunakan metode VAIC.Hasil analisis regresi panel menunjukkan financial distress berpengaruh negatif signifikan terhadap nilai perusahaan, dengan nilai probabilitas 0,0074 (di bawah 0,05). Artinya, semakin tinggi tekanan keuangan, semakin rendah nilai perusahaan di mata investor.

Tekanan keuangan dinilai sebagai sinyal risiko kebangkrutan dan ketidakpastian kelangsungan usaha. Perusahaan pariwisata yang memiliki biaya tetap tinggi—seperti pemeliharaan fasilitas, tenaga kerja, dan operasional destinasi—menjadi sangat rentan ketika arus kas belum stabil.Secara statistik, model penelitian dinyatakan signifikan dengan nilai F sebesar 4,0766 dan probabilitas 0,0184. Meski demikian, kedua variabel utama hanya menjelaskan sekitar 3,97 persen variasi nilai perusahaan, menunjukkan banyak faktor lain di luar model turut memengaruhi valuasi pasar.

Modal Intelektual Belum Jadi Pertimbangan Utama

Berbeda dengan banyak penelitian sebelumnya, studi ini menemukan bahwa modal intelektual tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Nilai probabilitasnya mencapai 0,3786, jauh di atas ambang batas signifikansi.

Temuan ini menunjukkan bahwa selama periode pemulihan, investor lebih fokus pada kinerja keuangan nyata seperti arus kas dan kemampuan membayar kewajiban dibandingkan pada pengelolaan sumber daya manusia, inovasi, atau sistem organisasi.

Perusahaan pariwisata yang sangat bergantung pada aset fisik dan layanan langsung dinilai lebih ditentukan oleh stabilitas operasional dibandingkan kekuatan aset berbasis pengetahuan.

Perusahaan Besar Lebih Rentan terhadap Reaksi Pasar

Penelitian ini juga menguji peran ukuran perusahaan sebagai variabel moderasi. Hasilnya menunjukkan bahwa ukuran perusahaan justru memperkuat dampak negatif financial distress terhadap nilai perusahaan.Koefisien interaksi financial distress dan ukuran perusahaan signifikan dengan probabilitas 0,0000. Artinya, ketika perusahaan besar mengalami tekanan keuangan, penurunan nilainya lebih tajam dibanding perusahaan kecil.

Hal ini terjadi karena perusahaan besar memiliki eksposur publik lebih tinggi, aset dan utang lebih besar, serta menjadi sorotan investor. Ketika muncul masalah keuangan, pasar merespons lebih cepat dan lebih keras. Sebaliknya, ukuran perusahaan justru melemahkan pengaruh modal intelektual terhadap nilai perusahaan. Koefisien interaksi antara intellectual capital dan ukuran perusahaan signifikan negatif (probabilitas 0,0185). Ini menunjukkan bahwa pada perusahaan besar, faktor aset fisik dan stabilitas finansial lebih dominan dibandingkan pengelolaan modal intelektual.

Implikasi bagi Industri dan Investor

Penelitian ini memberikan pesan strategis bagi pelaku industri pariwisata dan rekreasi:

  1. Manajemen keuangan harus menjadi prioritas utama, terutama dalam menjaga likuiditas dan mengendalikan utang.
  2. Perusahaan besar perlu lebih waspada karena tekanan keuangan berdampak lebih besar pada valuasi pasar.
  3. Pengembangan modal intelektual tetap penting, tetapi harus diiringi peningkatan kinerja keuangan agar diakui pasar.
  4. Investor perlu mempertimbangkan indikator kesehatan keuangan dan ukuran perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi di sektor ini.

Temuan ini juga menegaskan bahwa pemulihan sektor pariwisata secara makro belum tentu mencerminkan pemulihan kinerja korporasi secara mikro.

Profil Penulis

        Dhea Handayani – Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani).

        Rosmini Ramli –Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani).

Sumber Penelitian

Handayani, D., & Ramli, R. (2026). The Influence of Financial Distress and Intellectual Capital on Company Value with Company Size as a Moderating Variable in the Tourism and Recreation Industry.

East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5 No. 2, hlm. 663–680.

DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i2.15

URL Resmi : https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr


Posting Komentar

0 Komentar