Cirebon- BI-Rate dan Net Interest Margin
Terbukti Mempengaruhi Kredit Bermasalah Perbankan di Indonesia. Penelitian
terbaru yang dilakukan oleh Putri Nur Asih Linggawati dan Krisdiana dari
Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) Cirebon. Hasil studi dipublikasikan
dalam Indonesian Journal of Business Analytics (IJBA) Vol. 6 No. 1
(Februari 2026).
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Putri Nur Asih Linggawati dan Krisdiana dari Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) Cirebon menunjukkan bahwa suku bunga kebijakan Bank Indonesia (BI-Rate) dan Net Interest Margin (NIM) memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) pada bank konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Perbankan sebagai Penggerak Ekonomi
Dalam sistem ekonomi modern, bank
memiliki peran penting sebagai lembaga intermediasi keuangan, yaitu
menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit.
Aktivitas ini menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi karena mendorong
investasi dan konsumsi.
Namun, kegiatan penyaluran kredit juga
membawa risiko, terutama risiko kredit yang tercermin dari tingkat Non-Performing
Loan (NPL). Rasio NPL menggambarkan persentase kredit bermasalah
dibandingkan total kredit yang disalurkan bank.
Semakin tinggi rasio NPL, semakin besar pula risiko yang dihadapi bank karena kualitas aset produktifnya menurun. Kondisi ini bahkan dapat memengaruhi stabilitas sistem perbankan secara keseluruhan.
Peningkatan NPL di Tengah Pemulihan
Ekonomi
Data dari Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) menunjukkan bahwa rasio kredit bermasalah perbankan sempat mengalami
peningkatan pada awal 2024.
Beberapa data penting yang dicatat
antara lain:
- Rasio
NPL bruto meningkat menjadi 2,35% pada Januari 2024, naik dari
2,19% pada Desember 2023.
- Rasio
NPL net meningkat dari 0,71% menjadi 0,79% pada periode yang sama.
Selain itu, sejumlah bank besar juga
mengalami kenaikan kredit bermasalah. Misalnya:
- Bank
Rakyat Indonesia (BRI)
mencatat NPL sekitar 3,08%
- Bank
Tabungan Negara (BTN)
sekitar 3,4%
- Bank
Mandiri
mengalami peningkatan NPL dari 1,13% menjadi 1,19%
Fenomena ini menunjukkan bahwa kualitas kredit perbankan masih menghadapi tekanan di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.
Analisis terhadap Bank Konvensional di
Bursa Efek Indonesia
Penelitian ini menggunakan metode
kuantitatif dengan pendekatan regresi data panel untuk menganalisis
hubungan antara tiga variabel utama, yaitu:
- BI-Rate (suku bunga kebijakan Bank
Indonesia)
- Net
Interest Margin (NIM)
- BOPO
(Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional)
Ketiga variabel tersebut dianalisis
pengaruhnya terhadap Non-Performing Loan (NPL) pada bank konvensional
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2021–2024.
Data penelitian diambil dari laporan keuangan tahunan bank yang dipublikasikan melalui situs resmi Bursa Efek Indonesia. Dari total 43 bank yang terdaftar, penelitian memfokuskan sampel pada bank devisa konvensional yang memiliki karakteristik operasional relatif seragam.
BI-Rate dan NIM Berpengaruh Signifikan
terhadap NPL
Hasil analisis menunjukkan bahwa dua
variabel memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat kredit bermasalah.
Temuan utama penelitian meliputi:
- BI-Rate
memiliki pengaruh signifikan terhadap NPL dengan arah negatif
- Net
Interest Margin (NIM) juga berpengaruh signifikan terhadap NPL
- BOPO
tidak menunjukkan pengaruh signifikan secara parsial
Persamaan regresi penelitian
menunjukkan hubungan berikut:
NPL = 7,331 – 0,271(BI-Rate) –
0,519(NIM) – 0,007(BOPO)
Koefisien negatif pada BI-Rate
menunjukkan bahwa dalam periode penelitian, kenaikan suku bunga kebijakan
Bank Indonesia justru diikuti penurunan rasio NPL.
Hal ini dapat dijelaskan karena ketika suku bunga meningkat, bank cenderung lebih selektif dalam menyalurkan kredit, sehingga risiko kredit bermasalah dapat ditekan.
Profitabilitas Bank Membantu
Mengendalikan Risiko Kredit
Penelitian ini juga menemukan bahwa Net
Interest Margin (NIM) memiliki pengaruh signifikan terhadap NPL.
NIM menggambarkan kemampuan bank
menghasilkan pendapatan bunga bersih dari aset produktif yang dimiliki. Semakin
tinggi NIM, semakin besar kemampuan bank untuk:
- menghasilkan
laba dari aktivitas intermediasi
- menutup
potensi kerugian akibat kredit bermasalah
- memperkuat
stabilitas keuangan bank
Dengan demikian, bank yang memiliki tingkat profitabilitas lebih baik cenderung memiliki kemampuan lebih kuat dalam mengelola risiko kredit.
Efisiensi Operasional Tidak Selalu
Menentukan Risiko Kredit
Berbeda dengan dua variabel
sebelumnya, BOPO tidak terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap NPL.
BOPO merupakan indikator efisiensi
operasional bank yang membandingkan biaya operasional dengan pendapatan
operasional. Meskipun efisiensi penting dalam manajemen bank, penelitian ini
menunjukkan bahwa faktor tersebut tidak secara langsung memengaruhi risiko
kredit selama periode penelitian.
Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh
beberapa faktor lain seperti:
- kebijakan
restrukturisasi kredit pasca pandemi
- penguatan
manajemen risiko perbankan
- peningkatan cadangan kerugian kredit.
Faktor Internal dan Eksternal
Berpengaruh Bersama
Meskipun BOPO tidak signifikan secara
parsial, hasil uji statistik menunjukkan bahwa BI-Rate, NIM, dan BOPO secara
simultan memiliki pengaruh signifikan terhadap NPL.
Artinya, tingkat kredit bermasalah
dalam sistem perbankan tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal bank,
tetapi juga oleh kondisi makroekonomi dan kebijakan moneter.
Namun demikian, nilai Adjusted
R-Square sebesar 20,8% menunjukkan bahwa masih banyak faktor lain yang
memengaruhi NPL, seperti:
- pertumbuhan
ekonomi
- kualitas
manajemen kredit
- kondisi
sektor riil
- kebijakan regulasi perbankan.
Implikasi bagi Industri Perbankan
Hasil penelitian ini memberikan
beberapa implikasi penting bagi sektor perbankan dan regulator.
Bank disarankan untuk:
- memperkuat
manajemen risiko kredit
- menjaga
keseimbangan antara profitabilitas dan prinsip kehati-hatian
- meningkatkan
kualitas analisis kredit
Selain itu, regulator juga perlu mempertimbangkan dampak kebijakan suku bunga terhadap stabilitas kredit perbankan.
Kesimpulan
Penelitian ini menegaskan bahwa BI-Rate
dan Net Interest Margin memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat
Non-Performing Loan pada bank konvensional di Indonesia.
Kombinasi antara faktor makroekonomi
dan kinerja internal bank memainkan peran penting dalam menentukan tingkat
risiko kredit di sektor perbankan.
Temuan ini memberikan gambaran penting bagi industri keuangan mengenai bagaimana kebijakan moneter dan strategi manajemen bank dapat membantu menjaga stabilitas sistem perbankan nasional.
Profil Penulis
- Putri Nur Asih Linggawati- Universitas Swadaya Gunung Jati
- Krisdiana- Universitas Swadaya Gunung Jati
Sumber Penelitian
Linggawati, P. N. A., & Krisdiana. (2026).The Effect of BI-Rate, Net Interest Margin (NIM), and BOPO on Non-Performing Loans (NPL) in Conventional Banks Listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) in 2021–2024. Indonesian Journal of Business Analytics (IJBA), Vol. 6 No. 1, 127–144.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijba.v6i1.16227
URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijba

0 Komentar