Peneliti Temukan 31 Spesies Lumut Kerak Mangrove di Davao, Ungkap Peran Penting Ekosistem Pesisir

Ilustrasi by AI

Davao — Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Edgie Boy B. Tadena dari Davao Oriental State University bersama Analou D. Dedal berhasil mendokumentasikan keberadaan lumut kerak (lichen) mangrove untuk pertama kalinya di Kota Davao, Filipina. Studi yang dilakukan pada September hingga Oktober 2025 ini menjadi penting karena mengisi kekosongan data keanekaragaman hayati di wilayah pesisir tropis yang selama ini kurang diteliti.

Penelitian ini menyoroti peran penting lumut kerak sebagai bioindikator lingkungan, terutama dalam ekosistem mangrove yang menghadapi tekanan dari pembangunan pesisir dan aktivitas manusia. Temuan ini memberikan dasar ilmiah baru untuk mendukung upaya konservasi mangrove di kawasan perkotaan.

Mangrove dikenal sebagai bagian dari ekosistem “blue carbon” yang berperan besar dalam menyerap karbon dan melindungi garis pantai. Namun, organisme kecil seperti lumut kerak yang hidup menempel pada batang mangrove sering kali terabaikan. Padahal, keberadaan mereka sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, sehingga dapat menjadi indikator alami kondisi ekosistem.

Dalam penelitian ini, tim mengambil sampel dari 90 pohon mangrove di tiga lokasi berbeda, yaitu Matina, Panacan, dan Lasang. Ketiga lokasi tersebut dipilih karena memiliki tingkat gangguan lingkungan yang berbeda, mulai dari kawasan lindung hingga area yang terdampak industrialisasi.

Melalui analisis morfologi dan uji kimia sederhana, peneliti berhasil mengidentifikasi sebanyak 31 spesies lumut kerak yang tergolong dalam 12 famili dan 19 genus. Temuan ini menunjukkan bahwa keanekaragaman lumut kerak di mangrove Davao jauh lebih tinggi dari yang sebelumnya diketahui.

Lokasi Matina muncul sebagai pusat keanekaragaman tertinggi dengan jumlah spesies dan tingkat kompleksitas komunitas paling tinggi. Kawasan ini bahkan disebut sebagai “reservoir biodiversitas” karena mampu mempertahankan spesies-spesies sensitif terhadap perubahan lingkungan. Sebaliknya, lokasi Lasang menunjukkan keanekaragaman yang lebih rendah dan didominasi oleh spesies yang tahan terhadap stres lingkungan.

Perbedaan ini mencerminkan dampak aktivitas manusia terhadap ekosistem mangrove. Di wilayah yang lebih terganggu, komunitas lumut kerak cenderung lebih sederhana dan didominasi oleh spesies umum yang mampu bertahan dalam kondisi ekstrem. Sementara itu, kawasan yang lebih terjaga mampu mendukung spesies yang lebih beragam dan kompleks.

Menurut Tadena, temuan ini menunjukkan bahwa hutan mangrove perkotaan tetap memiliki nilai ekologis tinggi jika dikelola dengan baik. Ia menekankan bahwa keberadaan spesies tertentu, khususnya dari famili Graphidaceae, menjadi indikator penting stabilitas mikroklimat dan kesehatan ekosistem.

Penelitian ini juga mengungkap bahwa sebagian besar spesies yang ditemukan belum memiliki data konservasi yang memadai. Banyak di antaranya masih berstatus “Data Deficient” atau bahkan belum pernah dievaluasi. Hal ini menandakan adanya kesenjangan besar dalam pengetahuan ilmiah, yang dikenal sebagai “Linnean shortfall,” yaitu perbedaan antara jumlah spesies yang ada dan yang telah didokumentasikan secara ilmiah.

Kondisi ini berimplikasi serius terhadap kebijakan konservasi. Spesies yang belum terdata dengan baik sering kali tidak mendapatkan perlindungan hukum maupun pendanaan konservasi. Akibatnya, mereka berisiko mengalami kepunahan tanpa pernah benar-benar dikenali.

Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam mengisi kesenjangan tersebut, sekaligus memperluas pemahaman tentang distribusi spesies di kawasan tropis. Data yang dihasilkan juga telah disampaikan kepada otoritas lingkungan setempat sebagai dasar perencanaan konservasi ke depan.

Selain itu, hasil penelitian ini juga memiliki manfaat di bidang pendidikan dan penelitian lanjutan. Informasi tentang keanekaragaman lumut kerak dapat digunakan sebagai referensi bagi mahasiswa dan peneliti yang tertarik pada ekologi, taksonomi, dan konservasi lingkungan.

Secara lebih luas, temuan ini menegaskan bahwa mangrove tidak hanya penting bagi perlindungan pesisir dan mitigasi perubahan iklim, tetapi juga sebagai habitat bagi komunitas mikroorganisme yang unik dan belum banyak dipahami. Kehilangan mangrove berarti juga kehilangan keanekaragaman hayati yang tersembunyi.

Tadena dan Dedal menekankan pentingnya perlindungan mangrove yang tersisa di Davao, terutama di tengah pesatnya pembangunan kawasan pesisir. Mereka juga merekomendasikan penelitian lanjutan dengan metode analisis kimia yang lebih canggih untuk memastikan identifikasi spesies secara lebih akurat.

Penelitian ini menjadi pengingat bahwa konservasi tidak hanya tentang melindungi spesies besar yang terlihat, tetapi juga organisme kecil yang memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Profil Penulis
Edgie Boy B. Tadena – Davao Oriental State University
Analou D. Dedal – Davao Oriental State University

Sumber Penelitian
Tadena, E.B.B., & Dedal, A.D. (2026). Preliminary Record of Mangrove Lichens in Davao City, Philippines. East Asian Journal of Multidisciplinary Research, Vol. 5 No. 3.

Posting Komentar

0 Komentar