Pendidikan Turunkan Pengangguran, Kenaikan UMP Justru Berisiko Naikkan Angka Pengangguran di Banten

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Banten - Tingkat pengangguran terbuka di Provinsi Banten masih menjadi perhatian serius meski wilayah ini dikenal sebagai salah satu pusat industri di Indonesia. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Rizky Wahyu Pranata dan Sishadiyati dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur pada periode 2014–2023 mengungkap bahwa pendidikan, upah minimum, dan pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh berbeda terhadap pengangguran. Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi saja belum cukup untuk menyerap tenaga kerja secara optimal.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, Banten mencatat tingkat pengangguran terbuka sebesar 7,52 persen—tertinggi di antara beberapa provinsi besar di Indonesia. Kondisi ini menunjukkan adanya paradoks pembangunan: di satu sisi ekonomi tumbuh dan kawasan industri berkembang, namun di sisi lain kesempatan kerja tidak meningkat secara seimbang.

Ketimpangan antara Pertumbuhan dan Penyerapan Tenaga Kerja

Secara teori, pertumbuhan ekonomi seharusnya diikuti dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja. Namun, realitas di Banten menunjukkan hal sebaliknya. Struktur ekonomi daerah ini cenderung didominasi oleh sektor padat modal seperti industri manufaktur besar dan teknologi, yang tidak membutuhkan banyak tenaga kerja.

Akibatnya, peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tidak secara otomatis menurunkan angka pengangguran. Fenomena ini dikenal sebagai jobless growth, yaitu pertumbuhan ekonomi tanpa diikuti penciptaan lapangan kerja yang memadai.

Metode Penelitian: Analisis Data 10 Tahun

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data panel dari tahun 2014 hingga 2023 yang bersumber dari BPS. Analisis dilakukan menggunakan model regresi data panel Fixed Effect Model (FEM) untuk melihat hubungan antara:

  • Tingkat pendidikan (rata-rata lama sekolah)
  • Upah Minimum Provinsi (UMP)
  • Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
  • Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)

Model ini mampu menjelaskan sekitar 65% variasi pengangguran di Banten, yang menunjukkan tingkat akurasi analisis yang cukup kuat.

Temuan Utama Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan penting:

1. Pendidikan menurunkan pengangguran secara signifikan
Setiap peningkatan satu tahun rata-rata lama sekolah dapat menurunkan tingkat pengangguran sekitar 4,15 persen. Artinya, semakin tinggi pendidikan masyarakat, semakin besar peluang mereka untuk mendapatkan pekerjaan.
2. Kenaikan UMP justru meningkatkan pengangguran
Data menunjukkan bahwa kenaikan upah minimum memiliki pengaruh positif terhadap pengangguran. Hal ini terjadi karena peningkatan biaya produksi mendorong perusahaan mengurangi tenaga kerja atau menunda perekrutan.
3. PDRB tidak berpengaruh signifikan terhadap pengangguran
Meski memiliki arah negatif (berpotensi menurunkan pengangguran), pengaruh PDRB tidak signifikan. Ini menandakan bahwa pertumbuhan ekonomi di Banten belum inklusif dan belum mampu menciptakan lapangan kerja secara luas.

Temuan ini juga diperkuat oleh tabel hasil regresi pada halaman 5 dan 6, yang menunjukkan nilai koefisien pendidikan (-4,1475), UMP (positif signifikan), dan PDRB (negatif namun tidak signifikan).

Pendidikan Jadi Kunci, Tapi Harus Relevan

Penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan adalah faktor paling efektif dalam menekan pengangguran. Namun, peningkatan pendidikan harus diiringi dengan kesesuaian antara kurikulum dan kebutuhan industri.

Tanpa relevansi tersebut, justru akan muncul pengangguran struktural—di mana lulusan pendidikan tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan oleh pasar kerja.

Menurut penulis, peningkatan kualitas pendidikan bukan hanya kebijakan sosial, tetapi juga strategi ekonomi jangka panjang untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja.

Dilema Kebijakan Upah Minimum

Di sisi lain, kebijakan upah minimum menghadirkan dilema. Di satu sisi, UMP penting untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja. Namun di sisi lain, jika kenaikannya tidak diimbangi dengan produktivitas, maka perusahaan cenderung mengurangi tenaga kerja.

Dalam konteks Banten yang masih banyak didominasi sektor padat karya dan UMKM, kenaikan upah dapat meningkatkan beban operasional dan berdampak pada pengurangan tenaga kerja.

Implikasi untuk Kebijakan Publik

Hasil penelitian ini memberikan sejumlah rekomendasi strategis bagi pemerintah daerah:

  • Meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan, terutama pendidikan vokasi berbasis industri
  • Menetapkan kebijakan upah yang seimbang, mempertimbangkan produktivitas tenaga kerja
  • Mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, dengan memperkuat sektor padat karya
  • Meningkatkan pelatihan dan sertifikasi tenaga kerja, agar lebih siap menghadapi kebutuhan industri

Pendekatan terintegrasi ini dinilai penting untuk mengatasi pengangguran yang bersifat multidimensional.

Profil Penulis

Rizky Wahyu Pranata adalah peneliti di bidang ekonomi pembangunan yang berfokus pada isu ketenagakerjaan dan ekonomi regional.
Sishadiyati merupakan akademisi dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur dengan keahlian di bidang ekonomi publik dan kebijakan pembangunan.

Sumber Penelitian

Judul: Analysis of the Effect of Education Level, Minimum Wage, and Gross Regional Domestic Product on the Open Unemployment Rate in Banten Province
Jurnal: Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR), Vol. 5 No. 3, 2026

Posting Komentar

0 Komentar