Maluku- Komunikasi
Buruk Picu Stres dan Kecemasan Mahasiswa, Edukasi Digelar di STIKes Maluku
Husada. Pengabdian Masyarakat yang dilakukan Fany Sabban, Syahfitrah Umamity,
dan Trysna Ayu Sukardi dari Program Studi Keperawatan STIKes Maluku Husada,
Indonesia yang dipublikasikan dalam Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari
(JPMB) Vol. 5 No. 2 (Februari 2026).
Pengabdian
Masyarakat yang dilakukan Fany Sabban, Syahfitrah Umamity, dan Trysna Ayu
Sukardi mengungkapkan bahwa komunikasi yang tidak sehat terbukti berdampak
serius pada kesehatan mental mahasiswa.
Masalah
Nyata di Lingkungan Mahasiswa
Pada
bagian pendahuluan (halaman 125–126), penulis menjelaskan bahwa komunikasi
merupakan fondasi penting dalam kehidupan akademik, organisasi, dan sosial
mahasiswa. Namun dalam praktiknya, masih banyak mahasiswa mengalami:
- Kesalahpahaman
dalam interaksi
- Penggunaan
bahasa yang menyakitkan
- Kurangnya
empati
- Ketidakmampuan
menyampaikan pendapat secara asertif
Komunikasi
yang tidak sehat ini sering menjadi sumber tekanan psikologis. Konflik antar
mahasiswa, tekanan dalam kerja kelompok, hingga perlakuan tidak menyenangkan di
lingkungan kampus dapat memperburuk kondisi mental.
Di
era digital, persoalan ini semakin kompleks. Media sosial dapat memicu:
- Cyberbullying
- Fear
of Missing Out (FOMO)
- Perbandingan
sosial yang tidak realistis
- Ketergantungan
pada validasi “likes” dan komentar
Paparan
konten yang menampilkan standar kehidupan ideal juga berpotensi menurunkan rasa
percaya diri mahasiswa.
Metode
Edukasi: Pre-Test dan Post-Test
Kegiatan
dilaksanakan melalui dua tahap utama: persiapan dan sosialisasi (halaman
126–127).
Pada
tahap sosialisasi, tim memberikan:
- Pre-test
untuk mengukur pengetahuan awal
- Penyampaian
materi melalui metode ceramah
- Sesi
tanya jawab interaktif
- Post-test
untuk mengevaluasi peningkatan pemahaman
Sebanyak
35 mahasiswa semester II Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Maluku Husada menjadi
peserta kegiatan yang dilaksanakan pada 2 Juni 2025.
Materi
yang disampaikan meliputi:
- Dampak
komunikasi buruk terhadap kesehatan mental
- Etika
penggunaan media sosial
- Strategi
komunikasi empatik dan asertif
- Upaya
pencegahan stres akibat interaksi sosial negatif
Hasil:
Lonjakan Pengetahuan yang Signifikan
Sebelum
sosialisasi, tingkat pengetahuan mahasiswa tentang dampak komunikasi buruk
terhadap kesehatan mental tergolong rendah.
Data
pada halaman 128 menunjukkan:
- 50%
mahasiswa berada pada kategori pengetahuan kurang
- Hanya
15% yang memiliki pengetahuan baik
Setelah
intervensi edukasi:
- 70%
mahasiswa mencapai kategori pengetahuan baik
- Hanya
10% yang masih berada pada kategori kurang
Hasil
ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam literasi kesehatan mental
mahasiswa.
Menurut
Johnson (dalam Supraktinya, 1995) yang dikutip pada halaman 127, komunikasi
interpersonal memiliki peran penting dalam membentuk kebahagiaan, identitas
diri, serta kesehatan mental seseorang. Komunikasi yang terbuka dan empatik
dapat meningkatkan rasa aman dan mengurangi stres.
Komunikasi
Kesehatan Mental sebagai Kunci
Pada
bagian pembahasan (halaman 128), dijelaskan bahwa komunikasi kesehatan mental
berperan penting dalam membantu individu lebih terbuka mengungkapkan
permasalahan psikologisnya.
Komunikasi
yang efektif memungkinkan:
- Mahasiswa
merasa didengar dan dipahami
- Proses
pencarian solusi dilakukan bersama
- Dukungan
sosial terbangun secara optimal
Sebaliknya,
komunikasi yang buruk dapat memperparah tekanan mental dan memperburuk
kesejahteraan psikologis.
Dokumentasi
kegiatan pada halaman 129 memperlihatkan suasana sosialisasi dan foto bersama
tim pengabdian dengan seluruh peserta, menunjukkan keterlibatan aktif mahasiswa
dalam kegiatan ini.
Rekomendasi:
Edukasi Rutin dan Dukungan Sistemik
Dalam
kesimpulan (halaman 128–129), penulis menyatakan bahwa kegiatan ini berdampak
positif terhadap peningkatan pemahaman mahasiswa mengenai kesehatan mental.
Namun,
literasi kesehatan mental dinilai masih perlu diperkuat secara berkelanjutan.
Oleh karena itu, direkomendasikan:
- Perguruan
tinggi menyelenggarakan program edukasi kesehatan mental secara rutin
- Penguatan
layanan konseling kampus
- Keterlibatan
dosen, orang tua, dan teman sebaya sebagai sistem pendukung
Lingkungan
kampus yang peduli dan responsif terhadap kesehatan mental dinilai krusial
dalam menciptakan kesejahteraan psikologis mahasiswa.
Profil
Penulis
- Fany
Sabban- STIKes Maluku
Husada
- Syahfitrah
Umamity- STIKes
Maluku Husada
- Trysna
Ayu Sukardi- STIKes
Maluku Husada
Sumber
Penelitian
Sabban, F., Umamity, S., & Sukardi, T. A. (2026). Education on the Impact of Poor Communication on Students' Mental Health. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB), Vol. 5 No. 2, 123–130.
DOI: https://doi.org/10.55927/jpmb.v5i2.604
URL: https://nblformosapublisher.org/index.php/jpmb

0 Komentar