Pendidikan Kesehatan Reproduksi: Membangun Generasi Muda yang Sehat dan Bertanggung Jawab di Gereja Injili Lutheran Marthen GKI Abepura

Ilustrasi by AI

Papua- Edukasi Kesehatan Reproduksi di GKI Abepura Soroti Risiko HIV dan Aplikasi Kencan. Kegiatan yang dipimpin Ricky Lazarus Rumboiruisi bersama Izak Yesaya Samay, Maryam Katrien Labobar, Kaida Irma Setyarini, Try Purmanasari, dan Indra Harianto Rante dari Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih yang dipublikasikan dalam Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB) Vol. 5 No. 2 (Februari 2026).

Kasus HIV/AIDS pada usia produktif di Kota Jayapura masih tergolong tinggi. Minimnya ruang diskusi tentang kesehatan reproduksi, yang sering dianggap tabu baik di keluarga maupun gereja, membuat banyak remaja dan pemuda memperoleh informasi yang tidak akurat. Menjawab persoalan ini, tim Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih menggelar seminar edukasi kesehatan reproduksi di Gereja Kristen Injili (GKI) Marthen Luther Abepura.

Jayapura dan Tantangan HIV/AIDS

Data Dinas Kesehatan Kota Jayapura menunjukkan bahwa sebagian besar kasus baru HIV/AIDS terjadi pada kelompok usia produktif. Masalah ini bukan fenomena baru di Tanah Papua. Bahkan sebelum akses internet meluas, HIV/AIDS dan penyakit menular seksual (PMS) telah menjadi tantangan kesehatan masyarakat.

Perkembangan teknologi dan penggunaan aplikasi kencan seperti Tinder dan MiChat menambah kompleksitas persoalan. Aplikasi tersebut membuka peluang interaksi tanpa batas yang berpotensi meningkatkan risiko penularan PMS jika tidak disertai pemahaman yang benar.

Meski pemerintah pernah menutup lokalisasi Tanjung Elmo pada 2015 sebagai langkah pengendalian, angka kasus HIV/AIDS di Jayapura masih cukup tinggi. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan edukatif yang lebih menyentuh akar rumput.

Mengapa Gereja Dipilih?

GKI di Tanah Papua merupakan denominasi gereja tertua dengan jumlah jemaat asli Papua yang dominan. Di dalam struktur gereja terdapat Persekutuan Anggota Muda (PAM) yang mewadahi remaja dan pemuda belum menikah.

Gereja dipandang sebagai ruang strategis karena memiliki peran dalam pembinaan moral dan spiritual. Namun selama ini, topik kesehatan reproduksi jarang dibahas secara terbuka karena dianggap sensitif.

Tim pengabdi melihat peluang untuk membuka ruang diskusi yang aman, terarah, dan tetap menghormati nilai agama serta budaya setempat.

Metode Pelaksanaan Seminar

Seminar dilaksanakan pada 12 Juli 2025 di ruang gereja GKI Marthen Luther Abepura setelah ibadah jemaat. Sebanyak 44 peserta, sebagian besar remaja dan pemuda, mengikuti kegiatan ini.

Materi disampaikan melalui:

  • Presentasi berbasis PowerPoint
  • Diskusi interaktif
  • Sesi tanya jawab terbuka

Topik yang dibahas meliputi:

  • Dasar-dasar kesehatan reproduksi
  • Bahaya penyakit menular seksual (PMS)
  • Dampak HIV/AIDS
  • Risiko penggunaan aplikasi kencan
  • Mitos dan fakta tentang seks pranikah

Pendekatan dialogis membuat peserta lebih nyaman menyampaikan pertanyaan dan pengalaman.

Diskusi yang Selama Ini Dianggap Tabu

Hasil diskusi menunjukkan bahwa banyak peserta menganggap kesehatan reproduksi sebagai topik yang tabu untuk dibicarakan, baik di rumah maupun di gereja. Sebagian remaja merasa malu bertanya kepada orang tua atau orang dewasa.

Fenomena ini selaras dengan temuan berbagai survei nasional yang menunjukkan bahwa remaja Indonesia semakin terbuka terhadap perilaku berpacaran dengan kontak fisik, namun belum tentu diimbangi pemahaman kesehatan reproduksi yang memadai.

Peserta sepakat bahwa mereka membutuhkan ruang diskusi yang aman agar dapat memperoleh informasi yang benar dan tidak menyesatkan.

Dampak Positif bagi Jemaat Muda

Seminar ini memberikan tambahan pengetahuan tentang:

  • Pentingnya menjaga kesehatan reproduksi
  • Risiko dan pencegahan PMS
  • Dampak penggunaan aplikasi kencan
  • Pentingnya keputusan yang bertanggung jawab

Peserta menunjukkan antusiasme tinggi dan menyatakan keinginan agar kegiatan serupa diadakan secara rutin. Edukasi ini dinilai membantu mereka memahami batasan moral sekaligus risiko kesehatan secara ilmiah.

Dengan pemahaman yang lebih baik, diharapkan remaja dan pemuda gereja mampu:

  • Membuat keputusan yang bijak
  • Menghindari perilaku berisiko
  • Menjaga masa depan pendidikan dan karier

Rekomendasi dan Harapan ke Depan

Tim pengabdian merekomendasikan agar gereja dan fakultas kedokteran menjalin kemitraan berkelanjutan. Gereja diharapkan menjadi mitra strategis dalam membuka ruang diskusi kesehatan reproduksi secara berkala.

Edukasi yang terstruktur dan diawasi oleh tenaga kesehatan, orang tua, serta pemimpin gereja dapat menciptakan lingkungan yang mendukung literasi kesehatan reproduksi.

Topik yang sebelumnya dianggap tabu diharapkan dapat dibicarakan secara bijak dan ilmiah demi melindungi generasi muda dari risiko kesehatan yang serius.

Profil Penulis

  • Ricky Lazarus Rumboiruisi- Universitas Cenderawasih
  • Izak Yesaya Samay- Universitas Cenderawasih.
  • Maryam Katrien Labobar- Universitas Cenderawasih
  •  Kaida Irma Setyarini- Universitas Cenderawasih
  •  Try Purmanasari- Universitas Cenderawasih
  •  Indra Harianto Rante- Universitas Cenderawasih

Sumber Penelitian

Rumboiruisi, R. L., Samay, I. Y., Labobar, M. K., Setyarini, K. I., Purmanasari, T., & Rante, I. H. (2026). Reproductive Health Education: Building a Healthy and Responsible Young Generation at the Marthen Luther Evangelical Christian Church (GKI) Abepura. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB), Vol. 5 No. 2, 139–144.

DOI: https://doi.org/10.55927/jpmb.v5i2.610

URL: https://nblformosapublisher.org/index.php/jpmb


Posting Komentar

0 Komentar