Pembelajaran jarak jauh di perguruan tinggi Nigeria ternyata sangat bergantung pada cara pendanaan dan pengelolaan sumber daya. Hal ini terungkap dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh Idiamini Gold Kitoye dan Amaewhule Eliphaletphebe Chinyere dari Rivers State University, Nigeria, dan dipublikasikan pada 2026. Studi ini menunjukkan bahwa kualitas program Open and Distance Learning (ODL) belum optimal karena sistem pendanaan dan alokasi sumber daya yang masih lemah, padahal keduanya terbukti berpengaruh besar terhadap mutu pendidikan.
Penelitian ini menjadi penting karena ODL kini menjadi solusi utama untuk memperluas akses pendidikan tinggi, terutama bagi mahasiswa yang tidak dapat mengikuti perkuliahan tatap muka. Di wilayah Rivers State, Nigeria, sistem ini digunakan untuk menjangkau mahasiswa pekerja, masyarakat di daerah terpencil, dan kelompok yang sebelumnya sulit mengakses pendidikan tinggi.
Tantangan Besar di Balik Pembelajaran Jarak Jauh
Secara global, ODL telah diakui sebagai strategi penting dalam meningkatkan akses pendidikan. Namun, di Nigeria, sistem ini masih menghadapi berbagai hambatan mendasar. Banyak institusi masih menggunakan pola anggaran lama yang tidak mempertimbangkan kebutuhan teknologi, pelatihan staf, dan pengembangan konten digital.
Kitoye dan Chinyere menjelaskan bahwa masalah utama terletak pada dua hal: tidak adanya sistem pendanaan berbasis kinerja (performance-based funding/PBF) yang jelas, serta model alokasi sumber daya (resource allocation model/RAM) yang belum terstruktur dengan baik.
Akibatnya, program ODL sering mengalami:
- Infrastruktur digital yang tidak memadai
- Materi pembelajaran yang kurang berkualitas
- Dukungan mahasiswa yang terbatas
- Tingkat penyelesaian studi yang rendah
Metode Penelitian: Survei terhadap 312 Dosen
Untuk memahami masalah ini, tim peneliti menggunakan metode survei deskriptif terhadap 312 dosen dari total populasi 1.200 tenaga pengajar di berbagai perguruan tinggi di Rivers State. Data dikumpulkan melalui kuesioner khusus yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya dengan tingkat konsistensi tinggi (Cronbach Alpha 0,87).
Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan regresi untuk melihat hubungan antara sistem pendanaan, alokasi sumber daya, dan kualitas ODL.
Temuan Utama: Sistem Ada, Tapi Tidak Berjalan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi pendanaan berbasis kinerja di perguruan tinggi masih sangat rendah. Hampir semua indikator penting—seperti keterkaitan pendanaan dengan tingkat kelulusan mahasiswa atau kepuasan belajar—belum diterapkan secara serius.
Beberapa temuan utama meliputi:
- Tidak ada indikator kinerja yang jelas untuk menentukan alokasi dana
- Pendanaan tidak dikaitkan dengan hasil belajar mahasiswa
- Tidak ada insentif bagi unit yang berkinerja baik
- Transparansi dan evaluasi kinerja masih lemah
Selain itu, model alokasi sumber daya juga dinilai tidak memadai. Dana untuk kebutuhan penting seperti:
- Infrastruktur ICT (server, LMS, internet)
- Pengembangan materi digital
- Pelatihan dosen
- Layanan dukungan mahasiswa
masih sangat terbatas dan tidak terencana dengan baik.
Fakta Penting: Pendanaan dan Sumber Daya Menentukan 51,8% Kualitas ODL
Salah satu temuan paling signifikan adalah bahwa kombinasi pendanaan berbasis kinerja dan model alokasi sumber daya mampu menjelaskan 51,8% variasi kualitas program ODL.
Secara rinci:
- Pendanaan berbasis kinerja memiliki pengaruh positif signifikan terhadap kualitas ODL (β = 0,38)
- Model alokasi sumber daya memiliki pengaruh lebih kuat (β = 0,45)
- Keduanya bersama-sama menjadi faktor utama penentu kualitas program
Artinya, lebih dari setengah kualitas pembelajaran jarak jauh ditentukan oleh bagaimana dana dikelola dan didistribusikan.
Menurut peneliti, “tanpa sistem pendanaan yang berbasis kinerja dan alokasi sumber daya yang tepat, program ODL sulit berkembang dan berkelanjutan,” terutama dalam aspek teknologi, dukungan mahasiswa, dan kualitas materi ajar.
Dampak Nyata bagi Pendidikan dan Kebijakan
Temuan ini memiliki implikasi luas, tidak hanya bagi Nigeria tetapi juga negara berkembang lainnya yang mengandalkan pembelajaran jarak jauh.
Bagi institusi pendidikan:
- Perlu beralih dari anggaran tradisional ke sistem berbasis kinerja
- Harus mengembangkan model alokasi sumber daya khusus untuk ODL
Bagi pemerintah:
- Diperlukan kebijakan pendanaan yang mendorong kualitas, bukan sekadar jumlah mahasiswa
- Harus ada standar nasional untuk pengelolaan ODL
Bagi mahasiswa:
- Sistem yang lebih baik akan meningkatkan kualitas pembelajaran
- Dukungan akademik dan teknologi menjadi lebih optimal
Penelitian ini juga menegaskan bahwa investasi pada teknologi dan pelatihan dosen bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan utama dalam era pendidikan digital.
Rekomendasi: Reformasi Sistem Pendanaan dan Manajemen
Kitoye dan Chinyere merekomendasikan beberapa langkah strategis:
- Menerapkan sistem pendanaan berbasis indikator kinerja seperti kelulusan dan kepuasan mahasiswa
- Mengembangkan model alokasi sumber daya khusus untuk ODL
- Memperkuat sistem monitoring dan evaluasi berbasis data
Dengan langkah ini, perguruan tinggi diharapkan dapat meningkatkan kualitas, efisiensi, dan daya saing program pembelajaran jarak jauh.
Profil Penulis
Idiamini Gold Kitoye adalah akademisi di Rivers State University yang fokus pada manajemen pendidikan dan kebijakan pembelajaran.
Amaewhule Eliphaletphebe Chinyere, juga dari Rivers State University, merupakan peneliti di bidang administrasi pendidikan.
Sumber Penelitian
Kitoye, I. G., & Chinyere, A. E. E. (2026). Application of Performance-Based Funding and Resource Model for Open and Distance Learning Programmes in Rivers State Tertiary Institutions. International Journal of Applied Educational Research (IJAER), Vol. 4 No. 1, 45–58.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijaer.v4i1.202
URL: https://jpnmultitechpublisher.my.id/index.php/ijaer/index

0 Komentar