Pendampingan Operasional UMKM di Depok Tingkatkan Pemahaman Manajemen dan Daya Saing Usaha Rumah Tangga

Ilustrasi by AI

Usaha mikro yang dikelola ibu rumah tangga di kawasan Cipayung, Depok, mendapat dorongan baru untuk berkembang setelah mengikuti program pendampingan operasional bisnis yang dilakukan oleh tim akademisi dari STIE Indonesia Banking School. Kegiatan ini dipimpin oleh Alvien Nur Amalia, Salsabila Yulianti, Salsabila Putri Susanti, Nadia Aulia, dan Santi Rimadias, yang meneliti sekaligus memberikan pendampingan langsung kepada pelaku UMKM pada tahun 2025.

Hasil kegiatan tersebut dipublikasikan dalam artikel ilmiah berjudul “Operational Analysis Guidelines for Strengthening MSMEs in the Cipayung Area, Depok” di Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF) Vol. 5 No. 1 Tahun 2026. Penelitian ini menyoroti bagaimana pelatihan sederhana tentang manajemen operasional dapat membantu usaha mikro memahami kekuatan bisnis mereka, memperbaiki kelemahan operasional, serta meningkatkan keberlanjutan usaha.

Studi ini penting karena sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia. Data nasional menunjukkan bahwa UMKM menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja, menyumbang sekitar 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB), serta mencakup hampir 99,99 persen dari seluruh unit usaha di Indonesia. Dengan jumlah sekitar 64,2 juta unit usaha, UMKM menjadi sektor ekonomi terbesar di Asia Tenggara.

Namun di tingkat lokal, banyak pelaku usaha kecil—terutama usaha rumahan—masih menghadapi tantangan mendasar, seperti pengelolaan operasional yang belum terstruktur, pencatatan keuangan yang sederhana, hingga kurangnya pemanfaatan teknologi digital dalam pemasaran.

Masalah Nyata di Lapangan

Tim peneliti menemukan berbagai persoalan tersebut saat melakukan observasi awal pada beberapa UMKM di Kelurahan Cipayung, Depok. Dua usaha mikro menjadi fokus utama pendampingan, yaitu:

  • Usaha kuliner milik Ibu Nadiah, yang menjual lauk matang dan kue tradisional Betawi.
  • Usaha jahit rumahan milik Ibu Wati, yang melayani pembuatan pakaian wanita dan anak-anak, termasuk pesanan seragam.

Kedua usaha ini tergolong usaha mikro dengan omzet bulanan di bawah Rp5 juta. Walaupun memiliki pelanggan tetap, mereka belum menerapkan sistem manajemen usaha yang terstruktur. Pencatatan keuangan masih minim, strategi pemasaran masih mengandalkan pelanggan sekitar, dan pemanfaatan teknologi digital masih sangat terbatas.

Melihat kondisi tersebut, tim dari STIE Indonesia Banking School melakukan program pendampingan yang berfokus pada analisis operasional usaha.

Pendekatan Pendampingan Sederhana tapi Praktis

Program pendampingan dilaksanakan pada 22 Mei 2025 secara langsung di kawasan Cipayung, Depok. Kegiatan ini melibatkan lima peserta UMKM, termasuk dua pelaku usaha aktif yang menjadi fokus utama.

Materi pelatihan disampaikan secara interaktif melalui diskusi, studi kasus, serta tanya jawab langsung dengan pelaku usaha. Pendekatan ini dirancang agar mudah dipahami oleh peserta yang sebagian besar belum pernah mengikuti pelatihan manajemen bisnis formal.

Tim peneliti memfokuskan pelatihan pada empat aspek penting dalam manajemen operasional usaha, yaitu:

Pemilihan lokasi usaha strategis

Peserta diajak memahami pentingnya lokasi usaha yang dekat dengan pasar, mudah diakses konsumen, serta didukung fasilitas publik.

Proses produksi halal dan higienis

Khusus bagi usaha kuliner, peserta diberi pemahaman mengenai penggunaan bahan baku halal serta proses produksi yang memenuhi standar kebersihan.

Peningkatan kualitas produk dan kemasan

Pelaku usaha dilatih memperhatikan kualitas bahan baku, pengemasan produk, serta daya tahan makanan agar lebih menarik bagi konsumen.

Pemanfaatan teknologi sederhana dalam bisnis

Peserta diperkenalkan pada penggunaan media sosial untuk promosi serta pengelolaan pesanan secara digital.

Pendampingan ini tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga mengaitkan materi dengan kondisi nyata usaha peserta.

Hasil: Pelaku UMKM Lebih Paham Cara Mengelola Usaha

Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman yang cukup signifikan di kalangan peserta. Setelah mengikuti pelatihan, para pelaku usaha mulai memahami beberapa hal penting dalam pengelolaan bisnis.

Beberapa perubahan yang terlihat antara lain:

  • Peserta mulai memahami pentingnya manajemen operasional yang terstruktur.
  • Pelaku usaha kuliner mulai memperhatikan standar halal dan kebersihan produksi.
  • Kesadaran terhadap kualitas kemasan produk meningkat.
  • Peserta mulai mempertimbangkan promosi melalui media sosial.
  • Pelaku usaha mulai menetapkan target produksi dan pendapatan.

Dalam kasus usaha jahit milik Ibu Wati, misalnya, sebelum pendampingan ia tidak memiliki target produksi harian. Setelah kegiatan berlangsung, ia mulai menetapkan jumlah pesanan yang harus diselesaikan setiap hari.

Sementara itu, pada usaha kuliner milik Ibu Nadiah, pemahaman tentang standar halal menjadi perhatian baru. Ia mulai memperhatikan sumber bahan baku ayam serta memperbaiki kemasan produk agar terlihat lebih profesional.

Menurut Santi Rimadias, dosen Program Studi Manajemen STIE Indonesia Banking School, pendekatan edukasi yang sederhana dan kontekstual sangat efektif untuk meningkatkan kapasitas pelaku UMKM.

Pendekatan yang langsung menyentuh praktik usaha sehari-hari membuat pelaku bisnis lebih mudah memahami dan menerapkan materi yang diberikan.

Dampak Lebih Luas bagi Pemberdayaan Ekonomi Perempuan

Penelitian ini juga menyoroti peran penting usaha rumahan yang dikelola perempuan dalam memperkuat ekonomi keluarga. Banyak ibu rumah tangga menjalankan usaha kecil sebagai sumber pendapatan tambahan sekaligus sarana pemberdayaan ekonomi.

Dengan dukungan pelatihan dan pendampingan yang tepat, usaha mikro ini berpotensi berkembang menjadi bisnis yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Tim peneliti menilai bahwa program serupa perlu diperluas, terutama dalam beberapa aspek lanjutan seperti:

  • digitalisasi pencatatan keuangan
  • pemasaran berbasis media sosial
  • pendampingan sertifikasi halal MUI
  • akses terhadap pembiayaan mikro

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan pelaku usaha dinilai penting untuk menciptakan ekosistem pengembangan UMKM yang berkelanjutan.

Profil Penulis Penelitian

Alvien Nur Amalia, Salsabila Yulianti, Salsabila Putri SusantiSanti Rimadias dan Nadia Aulia dari STIE Indonesia Banking School.

Sumber PENELITIAN

Amalia, A. N., Yulianti, S., Susanti, S. P., Aulia, N., & Rimadias, S. (2026).
Operational Analysis Guidelines for Strengthening MSMEs in the Cipayung Area, Depok.
Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF), Vol. 5 No. 1, halaman 69–80.


Posting Komentar

0 Komentar