Pendampingan Branding dan Pemasaran Digital sebagai Upaya Percepatan Daya Saing UMKM Keripik Jelethot di Desa Samudra

Ilustrasi by AI

Banyumas, Jawa Tengah—Pendampingan Branding dan Pemasaran Digital sebagai Upaya Percepatan Daya Saing UMKM Keripik Jelethot di Desa Samudra. Penelitian ini dilakukan oleh Aulia Maharani bersama Siti Anisa, Gustavo Aditiya Pratama, Alan Syahbian, Yolan Tresna Hapsari, Aisyah Indah Setiawan, Regita Hikmah Zarlianti, Alfian Zharan Ma’ruf, Nabila Cahya Fatimah, Giezka Nuruzzahra, Alun Arya Titis, Fajra Wahyu Prasetyo, Selamet Eko Budi Santoso, dan Arifin Suryo Nugroho, yang dipublikasikan dalam Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF) Volume 5 Nomor 1 tahun 2026.

Penelitian yang dilakukan oleh Aulia Maharani bersama Siti Anisa, Gustavo Aditiya Pratama, Alan Syahbian, Yolan Tresna Hapsari, Aisyah Indah Setiawan, Regita Hikmah Zarlianti, Alfian Zharan Ma’ruf, Nabila Cahya Fatimah, Giezka Nuruzzahra, Alun Arya Titis, Fajra Wahyu Prasetyo, Selamet Eko Budi Santoso, dan Arifin Suryo Nugroho mengungkapkan bahwa intervensi sederhana seperti pembuatan logo, pembaruan kemasan, serta optimalisasi WhatsApp Business dan Facebook berdampak langsung pada peningkatan penjualan.

Produk Lokal dengan Potensi Besar, Tapi Kurang Identitas

Keripik Jelethot merupakan camilan pedas khas Desa Samudra, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas. Produk ini memiliki cita rasa unik dan pasar potensial, namun sebelumnya dikelola secara konvensional.

Sebelum pendampingan, produk belum memiliki logo resmi dan masih dikemas dalam plastik transparan sederhana. Strategi pemasaran hanya mengandalkan penjualan langsung dan unggahan status WhatsApp pribadi. Akibatnya, jangkauan pasar terbatas dan produk sulit bersaing dengan merek lain yang tampil lebih profesional.Tim UMP menemukan bahwa lemahnya identitas visual dan rendahnya literasi digital menjadi hambatan utama perkembangan usaha.

Transformasi Dimulai dari Logo dan Kemasan

Pendampingan dilakukan secara partisipatif selama program Kuliah Kerja Nyata (KKN) awal 2026. Tim lintas disiplin dari bidang Farmasi, Ekonomi, Teknik, Psikologi, dan Kesehatan bekerja langsung bersama pemilik usaha, Ibu AL.

Intervensi difokuskan pada tiga pilar utama:

  1. Penguatan identitas merek melalui pembuatan logo resmi.
  2. Inovasi kemasan dari plastik biasa menjadi standing pouch modern.
  3. Digitalisasi pemasaran menggunakan WhatsApp Business dan Facebook.

Logo baru dirancang untuk mencerminkan karakter pedas dan khas produk. Kemasan standing pouch dipilih untuk meningkatkan daya tarik visual sekaligus memberi kesan higienis dan profesional. Awalnya, mitra ragu karena biaya kemasan lebih tinggi. Namun setelah memahami bahwa kemasan adalah bagian dari strategi menaikkan nilai jual, perubahan pun dilakukan.

WhatsApp Business Jadi Titik Balik

Selain branding fisik, tim memberikan pelatihan teknis penggunaan WhatsApp Business. Fitur katalog dimanfaatkan untuk menampilkan produk secara lebih terstruktur dan profesional. Facebook digunakan untuk memperluas jangkauan promosi.

Perubahan ini berdampak signifikan pada performa usaha. Data yang dipublikasikan dalam jurnal menunjukkan:

  • Penjualan meningkat dari 50 kg menjadi 60 kg per minggu.
  • Pendapatan naik dari sekitar Rp500.000 menjadi Rp600.000 per minggu.
  • Pasar meluas hingga luar kota, termasuk Jakarta dan Bogor.

Bahkan, pendapatan Rp500.000 dapat dicapai hanya dalam lima hari setelah kanal digital diaktifkan. Ini menunjukkan percepatan perputaran modal dan peningkatan minat konsumen.

Branding Bukan Sekadar Tampilan

Tim peneliti dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto menegaskan bahwa branding bukan hanya soal desain. Identitas visual berfungsi sebagai alat komunikasi yang membangun kepercayaan konsumen dan memperkuat posisi tawar produk lokal.

Kemasan profesional membantu meningkatkan persepsi kualitas dan higienitas. Sementara itu, digitalisasi membuka akses pasar tanpa batas geografis.Pendekatan ini juga mengubah pola pikir pelaku usaha. Dari sebelumnya bergantung pada metode tradisional, kini mitra lebih adaptif terhadap teknologi.

Model Replikasi untuk UMKM Desa

Keberhasilan program ini memberi pelajaran penting bagi UMKM lain di wilayah perdesaan:

        Digitalisasi tidak harus mahal atau kompleks.

        Platform sederhana seperti WhatsApp Business sudah efektif.

        Kemasan dan logo berpengaruh langsung pada persepsi konsumen.

        Pendampingan berkelanjutan penting untuk menjaga konsistensi promosi.

Model ini dapat direplikasi untuk mempercepat penguatan ekonomi kreatif desa dan meningkatkan kemandirian pelaku usaha kecil.

Profil Penulis

        Aulia Maharani – Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

        Siti Anisa, Gustavo Aditiya Pratama, Alan Syahbian, Yolan Tresna Hapsari, Aisyah Indah Setiawan, Regita Hikmah Zarlianti, Alfian Zharan Ma’ruf, Nabila Cahya Fatimah, Giezka Nuruzzahra, Alun Arya Titis, Fajra Wahyu Prasetyo, Selamet Eko Budi Santoso, dan Arifin Suryo Nugroho –Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Sumber Penelitian

Maharani, A., Anisa, S., Pratama, G. A., Syahbian, A., Hapsari, Y. T., Setiawan, A. I., Zarlianti, R. H., Ma’ruf, A. Z., Fatimah, N. C., Nuruzzahra, G., Titis, A. A., Prasetyo, F. W., Santoso, S. E. B., & Nugroho, A. S. (2026). Branding and Digital Marketing Assistance as an Effort to Accelerate the Competitiveness of Jelethot Chips MSMEs in Samudra Village.

Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF), Vol. 5 No. 1, hlm. 89–94.
DOI: https://doi.org/10.55927/jpmf.v5i1.139
URL Resmi: https://ntlformosapublisher.org/index.php/jpmf


Posting Komentar

0 Komentar