Pelatihan Digital Dorong Daya Saing UMKM Sukabumi Lewat Kolaborasi Kampus dan Industri

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Sukabumi - Pelatihan kewirausahaan digital yang digelar oleh tim peneliti dari STIE Indonesia Banking School (IBS) bersama PT Jamkrindo dan PTPN I Regional 1 menunjukkan dampak nyata dalam meningkatkan kemampuan pemasaran digital pelaku UMKM di Sukabumi. Program ini dilaksanakan pada 8–9 Agustus 2025 di kawasan Perkebunan Teh Goalpara, melibatkan pelaku UMKM lokal serta perwakilan dari Jakarta Selatan. Hasilnya penting karena menunjukkan bagaimana pelatihan singkat berbasis praktik mampu meningkatkan literasi digital dan kesiapan bisnis di era ekonomi digital.

Indonesia memiliki lebih dari 65 juta UMKM yang menyumbang lebih dari 61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja. Namun, sebagian besar UMKM masih menghadapi kendala dalam beradaptasi dengan perkembangan teknologi, terutama dalam pemasaran digital dan pengelolaan bisnis berbasis online. Padahal, lebih dari 77% masyarakat Indonesia telah terhubung ke internet, dan 61% di antaranya aktif melakukan transaksi digital. Kondisi ini menunjukkan adanya peluang besar yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku usaha kecil, terutama di daerah rural seperti kawasan perkebunan.

Program pelatihan ini dirancang untuk menjawab kesenjangan tersebut. Tim peneliti yang terdiri dari Santi Rimadias, Deni Wardani, Ossi Ferli, Erric Wijaya, Meta Andriani, Gita Fitri M. Jowey, dan Naila Putri Nabawi dari STIE Indonesia Banking School menyusun materi yang praktis dan aplikatif. Mereka menggabungkan pendekatan ceramah interaktif, diskusi, simulasi, serta sesi berbagi pengalaman dari pelaku UMKM sukses.

Materi pelatihan mencakup beberapa aspek utama. Pertama, strategi memulai dan mengembangkan bisnis digital, termasuk cara memanfaatkan marketplace seperti Tokopedia dan Shopee, serta platform layanan seperti Gojek dan Grab. Kedua, pengelolaan keuangan berbasis digital untuk membantu pelaku usaha memahami arus kas dan pencatatan transaksi. Ketiga, pemanfaatan media sosial seperti Instagram dan TikTok untuk memperluas jangkauan pemasaran.

Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan Business Model Canvas (BMC), sebuah kerangka sederhana untuk merancang model bisnis secara terstruktur. Melalui simulasi kelompok, peserta diminta menganalisis usaha mereka menggunakan sembilan elemen utama BMC, mulai dari segmen pelanggan hingga sumber pendapatan. Pendekatan ini membantu pelaku UMKM memahami bisnis mereka secara lebih sistematis dan strategis.

Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta. Berdasarkan pre-test dan post-test, terjadi peningkatan pengetahuan sebesar sekitar 20%, dengan 85% peserta mengalami kenaikan skor. Selain itu, survei kepuasan menunjukkan bahwa 75% peserta merasa puas dan tertarik mengikuti program lanjutan. Data ini mengindikasikan bahwa metode pelatihan yang interaktif dan berbasis praktik efektif dalam meningkatkan kapasitas pelaku UMKM.

Manfaat pelatihan tidak hanya terlihat dari peningkatan pengetahuan, tetapi juga perubahan perspektif peserta terhadap bisnis digital. Banyak peserta mengaku lebih termotivasi untuk memulai usaha online, memahami pentingnya pencatatan keuangan, serta mulai merencanakan pengembangan bisnis jangka panjang. Bahkan, beberapa peserta dari sektor kuliner menyatakan bahwa mereka kini lebih memahami strategi promosi online yang sebelumnya belum mereka kuasai.

Menurut Erric Wijaya dari STIE Indonesia Banking School, kolaborasi antara institusi pendidikan, lembaga penjamin seperti PT Jamkrindo, dan sektor perkebunan seperti PTPN I menjadi kunci keberhasilan program ini. Sinergi tersebut memungkinkan tersedianya dukungan pendanaan, fasilitas, serta pendekatan yang relevan dengan kebutuhan lapangan. Ia menegaskan bahwa peningkatan literasi digital bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang perubahan mindset pelaku usaha.

Implikasi dari program ini cukup luas. Bagi masyarakat, peningkatan kemampuan digital UMKM dapat membuka peluang usaha baru dan meningkatkan pendapatan. Bagi dunia usaha, digitalisasi memungkinkan ekspansi pasar yang lebih luas tanpa batas geografis. Sementara itu, bagi pemerintah, program semacam ini dapat menjadi model pemberdayaan ekonomi berbasis kolaborasi lintas sektor.

Namun, tantangan tetap ada. Beberapa peserta masih menghadapi keterbatasan akses teknologi dan infrastruktur, terutama di wilayah rural. Selain itu, kebutuhan pendampingan lanjutan menjadi hal penting agar pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada pelatihan saja, tetapi benar-benar diterapkan dalam praktik bisnis sehari-hari.

Ke depan, tim peneliti merekomendasikan adanya program pendampingan berkelanjutan yang fokus pada implementasi digital marketing, pengelolaan keuangan, serta akses pembiayaan. Peserta juga menunjukkan minat untuk mempelajari topik lanjutan seperti iklan digital di Google, penggunaan aplikasi e-commerce, serta strategi bisnis di daerah terpencil.

Profil Penulis
Santi Rimadias, adalah dosen dan peneliti di STIE Indonesia Banking School dengan fokus pada manajemen dan pengembangan UMKM. Deni Wardani, memiliki keahlian di bidang teknologi informasi dan bisnis digital. Ossi Ferli, meneliti literasi keuangan dan keberlanjutan UMKM. Erric Wijaya, merupakan akademisi yang aktif dalam pengabdian masyarakat dan transformasi digital UMKM. Meta Andriani, Gita Fitri M. Jowey, dan Naila Putri Nabawi juga merupakan bagian dari tim akademisi yang berkontribusi dalam pengembangan kapasitas bisnis berbasis digital.

Sumber Penelitian
Rimadias, S., Wardani, D., Ferli, O., Wijaya, E., Andriani, M., Jowey, G. F. M., & Nabawi, N. P. (2026). Enhancing MSME Competitiveness through Digital Marketing: A Collaborative Program between STIE IBS, JAMKRINDO, and PTPN I Regional 1. Jurnal Pengabdian Pancasila (JPP), Vol. 5, No. 1. DOI: https://doi.org/10.55927/jpp.v5i1.1, URL: https://journaljpp.my.id/index.php/jpp

Posting Komentar

0 Komentar