Modal Sosial dan Aksi Kolektif Tingkatkan Pendapatan Warga Desa Wisata Bilebante di Lombok Tengah

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Nusa Tenggara Barat - Pengembangan desa wisata tidak hanya bergantung pada keindahan alam atau fasilitas wisata, tetapi juga pada kekuatan hubungan sosial masyarakatnya. Temuan inilah yang diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Eka Agustiani bersama Titi Yuniarti, Abdul Manan, Baiq Ismiwati, Endang Astuti, dan Baiq Nurul Windayani dari Universitas Mataram. Penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 ini menunjukkan bahwa modal sosial dan aksi kolektif masyarakat memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan pendapatan warga di Desa Wisata Bilebante, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika masyarakat memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi, jaringan sosial yang kuat, norma bersama, serta partisipasi aktif dalam kegiatan desa, mereka lebih mudah bekerja sama dalam mengembangkan potensi ekonomi desa wisata. Kolaborasi tersebut kemudian mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat secara nyata.

Desa Wisata sebagai Motor Ekonomi Baru

Dalam beberapa tahun terakhir, pengembangan desa wisata menjadi strategi penting pemerintah Indonesia untuk memperkuat ekonomi desa. Program pembangunan berbasis desa mendapat dorongan kuat setelah diberlakukannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, yang menekankan pemberdayaan masyarakat desa agar lebih mandiri dan sejahtera.

Di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), pemerintah daerah bahkan mengembangkan program 99 desa wisata yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota. Tujuannya adalah memanfaatkan potensi alam, budaya, dan kreativitas masyarakat lokal untuk menciptakan sumber pendapatan baru sekaligus membuka lapangan kerja.

Salah satu desa yang berkembang pesat adalah Desa Bilebante di Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah. Desa ini dikenal dengan hamparan sawah yang luas, lanskap alam yang indah, serta berbagai atraksi wisata berbasis budaya dan kuliner lokal.

Beberapa daya tarik wisata di Bilebante antara lain:

  1. Wisata alam dengan panorama persawahan
  2. Tur bersepeda keliling desa
  3. Pasar kuliner tradisional
  4. Pertunjukan seni budaya seperti tari tradisional dan musik daerah
  5. Produk makanan lokal seperti semprong, kerupuk, dan dodol rumput laut

Atraksi tersebut membuat Bilebante semakin populer sebagai destinasi wisata berbasis alam dan budaya.

Pariwisata Bilebante Sempat Terpuruk

Meski berkembang pesat, sektor pariwisata Bilebante pernah mengalami penurunan signifikan. Dua peristiwa besar menjadi penyebabnya: gempa bumi Lombok pada 2018 serta pandemi COVID-19 pada 2020.

Kedua kejadian ini menyebabkan jumlah wisatawan menurun drastis. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kondisi mulai pulih. Data kunjungan wisata menunjukkan tren peningkatan kembali, baik dari wisatawan domestik maupun mancanegara.

Pemulihan ini tidak terjadi secara kebetulan. Penelitian dari Universitas Mataram menunjukkan bahwa kekuatan hubungan sosial masyarakat menjadi faktor penting yang membantu desa ini bangkit kembali.

Mengukur Pengaruh Modal Sosial terhadap Pendapatan

Untuk memahami hubungan antara modal sosial dan kesejahteraan masyarakat, tim peneliti menggunakan metode Structural Equation Modeling (SEM) dengan program SmartPLS 4. Metode ini memungkinkan peneliti menganalisis hubungan kompleks antara berbagai variabel sosial dan ekonomi.

Dalam penelitian ini, modal sosial dianalisis melalui empat komponen utama:

  1. Kepercayaan (trust) antar warga dan terhadap institusi desa
  2. Jaringan sosial yang menghubungkan masyarakat dengan berbagai kelompok
  3. Norma sosial yang mengatur kerja sama dan perilaku kolektif
  4. Partisipasi masyarakat dalam kegiatan ekonomi dan pembangunan desa

Selain itu, penelitian juga menilai aksi kolektif, yaitu kemampuan masyarakat untuk bekerja bersama dalam mencapai tujuan bersama, seperti mengelola kegiatan wisata atau mengembangkan usaha lokal.

Temuan Utama Penelitian

Hasil analisis statistik menunjukkan hubungan yang kuat antara modal sosial, aksi kolektif, dan peningkatan pendapatan masyarakat.

Beberapa temuan penting penelitian ini antara lain:

  • Modal sosial memiliki pengaruh positif signifikan terhadap pendapatan masyarakat, dengan koefisien lebih dari 0,5.
  • Aksi kolektif juga berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan, meskipun dengan pengaruh yang lebih moderat.
  • Modal sosial sangat kuat dalam mendorong aksi kolektif masyarakat, terutama dalam kerja sama antara masyarakat dan pemerintah desa.
  • Sekitar 65,3% variasi tingkat pendapatan masyarakat dapat dijelaskan oleh faktor modal sosial dan aksi kolektif.

Penelitian juga menunjukkan bahwa aksi kolektif berperan sebagai penghubung penting antara modal sosial dan peningkatan pendapatan. Artinya, hubungan sosial yang kuat akan lebih efektif meningkatkan kesejahteraan jika diwujudkan dalam kegiatan bersama yang nyata.

Kolaborasi Jadi Kunci Keberhasilan Desa Wisata

Menurut para peneliti, keberhasilan Desa Wisata Bilebante tidak hanya berasal dari potensi alamnya, tetapi juga dari budaya gotong royong yang masih kuat di masyarakat.

Eka Agustiani dan tim dari Universitas Mataram menjelaskan bahwa kepercayaan antar warga, jaringan kerja sama, serta kepatuhan terhadap norma bersama mampu memperkuat kolaborasi masyarakat dalam mengelola pariwisata desa.

Ketika masyarakat bekerja bersama—mulai dari pengelolaan destinasi, pengembangan kuliner lokal, hingga penyediaan paket wisata—maka manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh warga desa.

Dengan kata lain, pariwisata tidak hanya menguntungkan segelintir pelaku usaha, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi banyak keluarga di desa.

Implikasi bagi Pengembangan Desa Wisata di Indonesia

Temuan penelitian ini memberikan pelajaran penting bagi pengembangan desa wisata di berbagai daerah Indonesia.

Beberapa strategi yang dapat dilakukan antara lain:

  • Memperkuat kepercayaan dan komunikasi antar warga
  • Membangun jaringan kerja sama antara masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta
  • Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan wisata
  • Menyediakan pelatihan dan pendampingan bagi pelaku usaha lokal

Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan daya tarik wisata, tetapi juga memastikan bahwa manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh masyarakat secara merata.

Profil Penulis Penelitian

Eka Agustiani – Peneliti dari Universitas Mataram yang menekuni bidang ekonomi pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa.

Penelitian ini juga melibatkan beberapa akademisi dari universitas yang sama:

  • Dr. Titi Yuniarti – Universitas Mataram, bidang ekonomi pembangunan
  • Dr. Abdul Manan – Universitas Mataram, bidang ekonomi dan kebijakan publik
  • Baiq Ismiwati – Universitas Mataram, bidang pembangunan wilayah
  • Endang Astuti – Universitas Mataram, bidang ekonomi masyarakat
  • Baiq Nurul Windayani – Universitas Mataram, bidang pengembangan desa dan pariwisata

Tim peneliti ini fokus pada kajian hubungan antara modal sosial, pembangunan desa, dan kesejahteraan masyarakat.

Sumber Penelitian

Agustiani, E., Yuniarti, T., Manan, A., Ismiwati, B., Astuti, E., & Windayani, B. N. (2026). “Analysis of Social Capital Determinants and Collective Action on Community Income Levels in Bilebante Tourism Village, Central Lombok.”
Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR), Vol. 5, No. 3, 357–368.

Posting Komentar

0 Komentar