Penelitian yang dilakukan oleh Gabriela Natasya bersama M. Maria Sudarwani dan Ulinata dari Universitas Kristen Indonesia menyoroti bahwa sebagian besar apartemen saat ini belum sepenuhnya memperhatikan kebutuhan penyandang disabilitas, terutama dalam hal aksesibilitas dan kenyamanan.
Hunian Inklusif yang Masih Minim
Metodologi: Menggabungkan Desain dan Kebutuhan Nyata
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan perancangan arsitektur. Tim peneliti mengumpulkan data melalui studi literatur, analisis lingkungan, serta kajian terhadap kebutuhan pengguna, khususnya penyandang disabilitas fisik.
- Kondisi lokasi di Jakarta Timur.
- Kebutuhan ruang dan hubungan antar ruang.
- Standar aksesibilitas bangunan.
- Prinsip desain universal.
- Penerapan konsep healing environment.
Temuan Utama: Konsep “Healing Inclusive Living”
Hasil penelitian melahirkan konsep utama bernama Healing Inclusive Living. Konsep ini menggabungkan dua elemen penting: desain inklusif dan lingkungan penyembuhan.
- Jalur sirkulasi bebas hambatan (barrier-free).
- Ramp dengan kemiringan standar.
- Lift yang ramah kursi roda.
- Koridor luas dan pintu lebar.
- Tata ruang yang memungkinkan mobilitas kursi roda.
- Kamar mandi aksesibel.
- Area manuver yang cukup luas.
- Pencahayaan alami maksimal.
- Ventilasi silang untuk sirkulasi udara sehat.
- Integrasi ruang terbuka hijau.
- Healing garden dan taman vertikal.
- Area relaksasi dan yoga.
- Ruang interaksi sosial.
- Penggunaan material alami.
- Elemen air dan vegetasi.
- Pemandangan terbuka ke area hijau.
Salah satu elemen kunci adalah keberadaan courtyard di tengah bangunan yang berfungsi sebagai pusat sirkulasi udara sekaligus ruang sosial. Selain itu, setiap lantai dilengkapi healing terrace yang dapat digunakan untuk relaksasi dan aktivitas ringan.
Dampak: Lebih dari Sekadar Tempat Tinggal
Konsep ini mengubah fungsi apartemen dari sekadar tempat tinggal menjadi ruang hidup yang mendukung kesehatan secara menyeluruh. Lingkungan yang nyaman dan aksesibel memungkinkan penyandang disabilitas untuk hidup lebih mandiri dan aktif. Menurut peneliti, pendekatan ini penting untuk menciptakan hunian yang tidak hanya layak, tetapi juga memberdayakan. Ia menegaskan bahwa integrasi desain inklusif dengan healing environment mampu meningkatkan kualitas hidup penghuni secara signifikan. Manfaat yang dihasilkan tidak hanya dirasakan oleh penyandang disabilitas, tetapi juga oleh seluruh penghuni. Lingkungan yang sehat dan minim stres menjadi kebutuhan penting di tengah tekanan hidup perkotaan. Bagi pengembang properti, konsep ini juga membuka peluang baru dalam menciptakan hunian yang lebih berkelanjutan dan berorientasi pada kebutuhan manusia. Sementara bagi pemerintah, hasil penelitian ini dapat menjadi referensi dalam merumuskan kebijakan pembangunan perumahan inklusif.
Profil Penulis
Gabriela Natasya merupakan peneliti di bidang arsitektur dari Universitas Kristen Indonesia yang fokus pada desain hunian inklusif dan berkelanjutan.
M. Maria Sudarwani adalah akademisi dan dosen arsitektur di Universitas Kristen Indonesia dengan keahlian dalam perencanaan ruang dan desain lingkungan binaan.
Ulinata juga merupakan peneliti arsitektur di Universitas Kristen Indonesia yang menaruh perhatian pada desain inklusif dan kualitas lingkungan hunian.
Sumber Penelitian
Natasya, G., Sudarwani, M. M., & Ulinata. (2025). Designing Disability-Friendly Apartments with a Healing Environment Approach in East Jakarta. Formosa Journal of Applied Sciences, Vol. 5 No. 3, halaman 851–858.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i3.30
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas

0 Komentar