Merancang Apartemen Ramah Disabilitas dengan Pendekatan Lingkungan yang Menyehatkan di Jakarta Timur


Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Jakarta Timur - Desain Apartemen Ramah Disabilitas di Jakarta Timur Tawarkan Hunian Sehat dan Inklusif. Temuan yang dilakukan oleh Gabriela Natasya bersama M. Maria Sudarwani dan Ulinata dari Universitas Kristen Indonesia dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 3  Tahun 2026 menyoroti bahwa pentingnya hunian yang mampu meningkatkan kualitas hidup, terutama bagi penyandang disabilitas fisik.

Penelitian yang dilakukan oleh 
Gabriela Natasya bersama M. Maria Sudarwani dan Ulinata dari Universitas Kristen Indonesia menyoroti bahwa  sebagian besar apartemen saat ini belum sepenuhnya memperhatikan kebutuhan penyandang disabilitas, terutama dalam hal aksesibilitas dan kenyamanan.

Hunian Inklusif yang Masih Minim
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 menegaskan bahwa penyandang disabilitas memiliki hak yang sama atas hunian yang layak. Namun dalam praktiknya, banyak bangunan hunian di perkotaan belum ramah bagi mereka. Hambatan seperti tangga tanpa ramp, lorong sempit, hingga fasilitas umum yang sulit diakses masih sering ditemui. Penelitian menyoroti bahwa keterbatasan ini tidak hanya berdampak pada mobilitas, tetapi juga membatasi interaksi sosial dan kualitas hidup penyandang disabilitas. Di sisi lain, tekanan hidup di kota besar yang padat turut meningkatkan tingkat stres masyarakat secara umum. Di sinilah konsep healing environment menjadi relevan. Lingkungan yang dirancang dengan memperhatikan unsur alam, pencahayaan, dan kualitas udara terbukti dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan penghuni.

Metodologi: Menggabungkan Desain dan Kebutuhan Nyata
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan perancangan arsitektur. Tim peneliti mengumpulkan data melalui studi literatur, analisis lingkungan, serta kajian terhadap kebutuhan pengguna, khususnya penyandang disabilitas fisik.
Analisis dilakukan terhadap beberapa aspek utama, antara lain:
  • Kondisi lokasi di Jakarta Timur.
  • Kebutuhan ruang dan hubungan antar ruang.
  • Standar aksesibilitas bangunan.
  • Prinsip desain universal.
  • Penerapan konsep healing environment.
Pendekatan ini menghasilkan konsep desain yang tidak hanya memenuhi standar teknis, tetapi juga memperhatikan kenyamanan psikologis dan emosional penghuni.

Temuan Utama: Konsep “Healing Inclusive Living”
Hasil penelitian melahirkan konsep utama bernama Healing Inclusive Living. Konsep ini menggabungkan dua elemen penting: desain inklusif dan lingkungan penyembuhan.
Beberapa fitur utama yang diusulkan dalam desain apartemen ini meliputi:
Aksesibilitas tanpa hambatan
  • Jalur sirkulasi bebas hambatan (barrier-free).
  • Ramp dengan kemiringan standar.
  • Lift yang ramah kursi roda.
  • Koridor luas dan pintu lebar.
Unit hunian fleksibel
  • Tata ruang yang memungkinkan mobilitas kursi roda.
  • Kamar mandi aksesibel.
  • Area manuver yang cukup luas.
Optimalisasi lingkungan alami
  • Pencahayaan alami maksimal.
  • Ventilasi silang untuk sirkulasi udara sehat.
  • Integrasi ruang terbuka hijau.
Fasilitas pendukung kesehatan
  • Healing garden dan taman vertikal.
  • Area relaksasi dan yoga.
  • Ruang interaksi sosial.
Desain ruang yang menenangkan
  • Penggunaan material alami.
  • Elemen air dan vegetasi.
  • Pemandangan terbuka ke area hijau.

Salah satu elemen kunci adalah keberadaan courtyard di tengah bangunan yang berfungsi sebagai pusat sirkulasi udara sekaligus ruang sosial. Selain itu, setiap lantai dilengkapi healing terrace yang dapat digunakan untuk relaksasi dan aktivitas ringan.

Dampak: Lebih dari Sekadar Tempat Tinggal
Konsep ini mengubah fungsi apartemen dari sekadar tempat tinggal menjadi ruang hidup yang mendukung kesehatan secara menyeluruh. Lingkungan yang nyaman dan aksesibel memungkinkan penyandang disabilitas untuk hidup lebih mandiri dan aktif. Menurut peneliti, pendekatan ini penting untuk menciptakan hunian yang tidak hanya layak, tetapi juga memberdayakan. Ia menegaskan bahwa integrasi desain inklusif dengan healing environment mampu meningkatkan kualitas hidup penghuni secara signifikan. Manfaat yang dihasilkan tidak hanya dirasakan oleh penyandang disabilitas, tetapi juga oleh seluruh penghuni. Lingkungan yang sehat dan minim stres menjadi kebutuhan penting di tengah tekanan hidup perkotaan. Bagi pengembang properti, konsep ini juga membuka peluang baru dalam menciptakan hunian yang lebih berkelanjutan dan berorientasi pada kebutuhan manusia. Sementara bagi pemerintah, hasil penelitian ini dapat menjadi referensi dalam merumuskan kebijakan pembangunan perumahan inklusif.

Profil Penulis
Gabriela Natasya
merupakan peneliti di bidang arsitektur dari Universitas Kristen Indonesia yang fokus pada desain hunian inklusif dan berkelanjutan.
M. Maria Sudarwani adalah akademisi dan dosen arsitektur di Universitas Kristen Indonesia dengan keahlian dalam perencanaan ruang dan desain lingkungan binaan.
Ulinata juga merupakan peneliti arsitektur di Universitas Kristen Indonesia yang menaruh perhatian pada desain inklusif dan kualitas lingkungan hunian.

Sumber Penelitian
Natasya, G., Sudarwani, M. M., & Ulinata. (2025). Designing Disability-Friendly Apartments with a Healing Environment Approach in East Jakarta. Formosa Journal of Applied Sciences, Vol. 5 No. 3, halaman 851–858.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjas.v5i3.30
URLhttps://journalfjas.my.id/index.php/fjas

Posting Komentar

0 Komentar