Menelusuri Tindakan Wacana dan Kesamaan Pandangan dalam Diskursus Korupsi Mahasiswa: Temuan dari Universitas-Universitas di Wilayah Tenggara Nigeria

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Nigeria - Bahasa Terselubung Korupsi di Kampus: Studi Ungkap Cara Mahasiswa dan Dosen Berkomunikasi. Temuan yang dilakukan oleh Kenneth Obinna Patrick dari Abia State University dan Amarachi Stephenie Osondu dari Federal Polytechnic Nekede dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada  Journal of Language Development and Linguistics (JLDL) edisi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 menyoroti bahwa ahwa mahasiswa dan staf kampus menggunakan bahasa terselubung, kode, dan istilah khusus untuk menyampaikan maksud koruptif tanpa menyebutnya secara langsung.

Penelitian yang dilakukan oleh 
Kenneth Obinna Patrick dari Abia State University dan Amarachi Stephenie Osondu dari Federal Polytechnic Nekede menyoroti bahwa bagaimana bahasa dapat menjadi alat untuk mempertahankan praktik korupsi dalam institusi pendidikan tinggi.

Bahasa sebagai Cermin Realitas Sosial
Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cerminan realitas sosial. Di lingkungan kampus, interaksi antara mahasiswa, dosen, dan staf administratif sering kali dipengaruhi oleh konteks sosial, relasi kekuasaan, serta tujuan komunikasi. Penelitian ini berangkat dari fenomena bahwa praktik korupsi di kampus seperti suap nilai, manipulasi administrasi, hingga “jalan belakang” akademik sering kali tidak diungkapkan secara eksplisit. Sebaliknya, pelaku menggunakan istilah yang hanya dipahami oleh kelompok tertentu.

Metode Penelitian: Menggabungkan Wawancara dan Observasi
Tim peneliti menggunakan pendekatan campuran (mixed methods) dengan mengumpulkan data dari 10 universitas di wilayah tenggara Nigeria. Metode yang digunakan meliputi:
Wawancara mendalam dengan informan kunci.
  • Diskusi kelompok terarah (focus group).
  • Observasi partisipatif.
  • Percakapan alami di lingkungan kampus.
Sebanyak 65% responden adalah perempuan dan 35% laki-laki, dengan latar belakang beragam mulai dari mahasiswa hingga dosen dan staf administrasi. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menangkap bagaimana bahasa digunakan secara nyata dalam situasi sehari-hari, bukan sekadar dalam konteks formal.

Temuan Utama: Kode, Sindiran, dan Istilah Terselubung
Penelitian menemukan bahwa praktik korupsi di kampus banyak disampaikan melalui tindak tutur (speech acts) dan common ground atau pemahaman bersama antar pelaku. Beberapa temuan penting meliputi:
Dominasi Perintah Terselubung
Sebagian besar ungkapan yang digunakan bersifat perintah (directive), seperti:
  • “You know what to do”.
  • “Bring something for drinks”.
  • “Show me love”.
Ungkapan ini tidak menyebutkan uang secara langsung, tetapi dipahami sebagai permintaan suap.

Penggunaan Peribahasa dan Pernyataan Umum
Pelaku juga menggunakan pernyataan yang tampak netral, seperti:
  • “Nothing goes for nothing”.
  • “A labourer deserves his wages”.
Menurut peneliti, ungkapan ini digunakan untuk membenarkan permintaan ilegal dengan membingkainya sebagai sesuatu yang “wajar”.

Janji sebagai Alat Negosiasi
Beberapa ungkapan mengandung janji, misalnya:
“Money for hand, back for ground”.
Artinya, jika uang diberikan, layanan atau nilai akan diberikan sebagai imbalan.

Julukan untuk Membangun Tekanan Sosial
Menariknya, peneliti menemukan penggunaan nama panggilan seperti:
  • “Dangote” (merujuk pada orang kaya).
  • “Odogwu” (orang berpengaruh).
  • “Boss” atau “Leader”.
Julukan ini menciptakan tekanan sosial agar pihak yang diajak bicara merasa “mampu” memenuhi permintaan.
Istilah Khusus untuk Uang dan Proses Suap
Berbagai istilah digunakan untuk menyamarkan uang suap, seperti:
  • “Runs”.
  • “Sorting”.
  • “Support system”.
  • “Ransom”.
Istilah-istilah ini terus berkembang untuk menjaga kerahasiaan praktik tersebut.

Implikasi untuk Pendidikan dan Kebijakan
Temuan ini memiliki implikasi luas, terutama bagi:
Institusi Pendidikan
Kampus perlu memahami bahwa korupsi tidak selalu terlihat secara eksplisit. Pengawasan harus mencakup pola komunikasi informal.
Penegak Hukum dan Linguistik Forensik
Analisis bahasa dapat menjadi alat penting untuk mengidentifikasi praktik korupsi yang tersembunyi.
Pembuat Kebijakan
Program anti-korupsi perlu mempertimbangkan aspek budaya dan bahasa, bukan hanya regulasi formal.

Profil Penulis
Kenneth Obinna Patrick adalah akademisi dari Abia State University, Nigeria, dengan keahlian di bidang sosiolinguistik dan pragmatik bahasa.
Amarachi Stephenie Osondu merupakan dosen di School of General Studies, Federal Polytechnic Nekede, yang fokus pada studi bahasa dan komunikasi sosial.

Sumber Penelitian
Patrick, K. O., & Osondu, A. S. (2026). Exploring Speech Acts and Common Ground in Student Corruption Discourse: Insights from Southeastern Universities in Nigeria. Journal of Language Development and Linguistics (JLDL), Vol. 5 No. 1, 27–42.
DOI: https://doi.org/10.55927/jldl.v5i1.16107
URLhttps://journal.formosapublisher.org/index.php/jldl

Posting Komentar

0 Komentar