Bandung- Pembinaan
PAK Perkuat Iman Remaja Kristen di SMP Negeri Muara Enim. Pengabdian Masyarakat
yang Damaianti Tamba dan Yohanes Suprandono dari Sekolah Tinggi Teologi
Kharisma Bandung yang dipublikasikan dalam Jurnal Pengabdian Masyarakat
Bestari (JPMB) Vol. 5 No. 2 (Februari 2026).
Keterbatasan
guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) di sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Negeri di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, mendorong lahirnya program
pembinaan iman bagi remaja Kristen. Program ini dipimpin oleh Damaianti Tamba
dan Yohanes Suprandono dari Sekolah Tinggi Teologi Kharisma Bandung sebagai
bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Remaja
SMP dalam Masa Transisi yang Rentan
Pada
bagian pendahuluan (halaman 105–106), penulis menjelaskan bahwa usia 12–15
tahun merupakan masa transisi penting dari anak menuju remaja. Perubahan fisik,
psikologis, dan kognitif membuat remaja mudah terpengaruh lingkungan, termasuk
media sosial.
Banyak
siswa SMP menghabiskan waktu untuk:
- Scroll
media sosial seperti TikTok
- Bermain
game online
- Mencari
pertemanan digital
Tanpa
pendampingan iman yang kuat, kebiasaan ini dapat membentuk pola pikir dan
perilaku tanpa pertimbangan nilai moral Kristen.
Selain
itu, remaja mulai mengalami pencarian jati diri, ketertarikan terhadap lawan
jenis, hingga rasa ingin mencoba hal-hal baru seperti merokok. Kondisi ini
menuntut pembinaan iman yang konsisten dan kontekstual.
Sekolah
Kekurangan Guru PAK
Data
peserta pada tabel di halaman 107–108 menunjukkan bahwa siswa berasal dari SMPN
1, 2, 3, 4, dan 5 di Muara Enim.
Beberapa
temuan penting:
- SMPN
2, 3, 4, dan 5 tidak memiliki guru PAK tetap.
- SMPN
1 hanya memiliki satu guru PAK pelayanan mandiri yang dibiayai dari iuran
siswa.
Kondisi
ini menyebabkan pembelajaran PAK tidak berjalan optimal. Jika seluruh siswa
bergantung pada satu sekolah, efektivitas pembinaan menjadi terbatas.
Situasi
inilah yang mendorong dilaksanakannya program pembinaan lintas sekolah sebagai
solusi darurat sekaligus bentuk panggilan misi pendidikan iman.
Metode
Pembinaan yang Kontekstual dan Holistik
Program
dilaksanakan setiap hari Jumat selama tiga bulan, pukul 12.00–16.00 WIB, dengan
pembagian kelas berdasarkan jenjang 7, 8, dan 9 (halaman 107).
Metode
yang digunakan meliputi:
- Pengajaran
PAK secara kontekstual
- Ceramah
interaktif dua arah
- Diskusi
kelompok kecil
- Refleksi
iman pribadi
- Ibadah
bersama
- Implementasi
iman melalui pelayanan kasih
Pendekatan
ini tidak hanya menyampaikan materi teoretis, tetapi mendorong siswa mengalami
dan mempraktikkan iman dalam kehidupan nyata.
Mengikuti
Pola Misi yang Holistik
Pada
bagian hasil dan pembahasan (halaman 109–111), pembinaan ini dipahami sebagai
bagian dari Missio Dei atau misi Allah.
Model
yang diterapkan mengikuti pola pelayanan Rasul Paulus yang mencakup:
- Mengajar
- Membina
- Memuridkan
- Membangun
komunitas iman
Pendampingan
tidak berhenti di kelas. Siswa juga dibina melalui:
- Grup
WhatsApp
- Ibadah
chapel
- Cell
group (kelompok kecil bertumbuh)
Pendekatan
ini memperkuat pembentukan karakter dan komunitas iman remaja secara
berkelanjutan.
Dampak
Nyata pada Perubahan Karakter
Hasil
kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam:
- Pemahaman
iman Kristen, khususnya pengenalan Allah Tritunggal
- Perubahan
sikap dan karakter yang mencerminkan nilai Kristiani
- Partisipasi
aktif dalam pelayanan dan komunitas iman
Dokumentasi
pada halaman 110–112 memperlihatkan aktivitas pembinaan.
Gambar
4 (halaman 112)
menunjukkan siswa melakukan pelayanan kasih dengan berbagi kepada sesama di
lingkungan masyarakat.
Gambar 5 (halaman 112) memperlihatkan peserta mendoakan teman yang sakit
dan diarahkan untuk mengikuti baptisan di gereja lokal masing-masing
berdasarkan keputusan pribadi.
Temuan
ini menunjukkan bahwa pembinaan tidak hanya menghasilkan pemahaman kognitif,
tetapi juga transformasi perilaku.
Pendidikan
Iman sebagai Pilar Sekolah
Penelitian
menegaskan bahwa pembinaan iman remaja bukan hanya tanggung jawab keluarga dan
gereja, tetapi juga sekolah. Pendidikan Agama Kristen menjadi salah satu pilar
utama pembentukan karakter remaja di tengah tantangan budaya digital dan
lingkungan sekolah umum yang plural.
Pada
bagian kesimpulan (halaman 113), penulis menekankan pentingnya keberlanjutan
program mengingat masih terbatasnya guru PAK di sekolah-sekolah tersebut.
Pembinaan
ini diharapkan menghasilkan remaja Kristen yang:
- Takut
akan Tuhan
- Tidak
mudah terjerumus dalam dosa
- Menjadi
saksi iman di sekolah dan masyarakat
Model
yang Bisa Direplikasi
Program
ini memberikan contoh konkret bagaimana pengabdian masyarakat berbasis
pendidikan agama dapat menjawab kekurangan tenaga pengajar sekaligus memperkuat
pembentukan karakter generasi muda.
Model
pembinaan lintas sekolah dengan pendekatan holistik dan kontekstual dapat
direplikasi di daerah lain yang menghadapi keterbatasan guru PAK.
Profil
Penulis
- Damaianti
Tamba- Sekolah Tinggi
Teologi Kharisma Bandung
- Yohanes
Suprandono- Sekolah
Tinggi Teologi Kharisma Bandung
Sumber
Penelitian
Tamba, D., & Suprandono, Y. (2026). Fostering Christian Youth Faith through Christian Religious Education Services in Public Junior High Schools. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB), Vol. 5 No. 2, 103–114.
DOI: https://doi.org/10.55927/jpmb.v5i2.603
URL: https://nblformosapublisher.org/index.php/jpmb

0 Komentar