Filipina—
Studi PIT Ungkap Hambatan Dosen dalam Meningkatkan Keterlibatan Riset. Studi
terbaru yang dilakukan Geryl D. Cataraja, Elvenne M. Bate, dan Maricris Potot
dari Palompon Institute of Technology (PIT) yang dipublikasikan dalam Journal
of Educational Analytics (JEDA) Vol. 5 No. 1 (2026).
Studi
terbaru yang dilakukan Geryl D. Cataraja, Elvenne M. Bate, dan Maricris Potot
dari Palompon Institute of Technology (PIT) mengungkap bahwa meskipun dosen
menyadari pentingnya riset untuk pengembangan profesional dan reputasi
institusi, beban kerja tinggi dan keterbatasan dukungan institusional menjadi
penghambat utama.
Riset
sebagai Mandat Akademik, Namun Belum Optimal
Dalam
konteks pendidikan tinggi, penelitian merupakan salah satu fungsi utama selain
pengajaran dan pengabdian. Riset berperan dalam produksi pengetahuan, inovasi,
serta peningkatan daya saing institusi.
Namun,
di institusi yang berorientasi pengajaran seperti PIT, dosen sering harus
menjalankan berbagai peran sekaligus: mengajar, mengelola administrasi,
terlibat dalam komite, dan melakukan penelitian. Kombinasi tanggung jawab ini
menciptakan tekanan waktu yang signifikan.
Penelitian ini menggali sikap dosen terhadap riset, tantangan yang mereka hadapi, serta strategi yang mereka gunakan untuk tetap terlibat dalam kegiatan ilmiah.
Metode:
Wawancara Mendalam pada Dosen PIT
Studi
ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur
terhadap dosen di PIT. Analisis dilakukan dengan metode tematik untuk
mengidentifikasi pola sikap, hambatan, serta strategi adaptasi.
Hasil
penelitian menunjukkan variasi sikap yang cukup kontras di antara dosen.
Lima
Sikap Utama Dosen terhadap Riset
1️⃣ Sikap Positif terhadap Riset
Sebagian
dosen menunjukkan antusiasme tinggi terhadap penelitian. Mereka memandang riset
sebagai:
- Sarana
pengembangan karier
- Bagian
dari identitas akademik
- Kontribusi
terhadap pengembangan institusi
Dosen
dengan motivasi intrinsik kuat cenderung tetap melakukan penelitian meski
dukungan eksternal terbatas.
2️⃣ Keterlibatan Bersyarat
Kelompok
lain bersedia melakukan riset, tetapi dengan syarat tertentu. Mereka menekankan
pentingnya:
- Dukungan
pendanaan
- Pelatihan
metodologi
- Pengurangan
beban mengajar
- Insentif
institusional
Tanpa
dukungan tersebut, riset cenderung menjadi prioritas sekunder.
3️⃣ Pengakuan Manfaat Riset
Banyak
dosen mengakui bahwa riset:
- Meningkatkan
kualitas pengajaran
- Memperbarui
materi kuliah
- Mendukung
promosi jabatan
- Memperluas
jaringan akademik
Penelitian
membantu dosen mengintegrasikan temuan terbaru ke dalam praktik pembelajaran.
4️⃣ Sikap Negatif terhadap Riset
Sebagian
dosen memandang riset sebagai beban tambahan. Faktor utama yang memicu sikap
ini meliputi:
- Beban
mengajar yang berat
- Minimnya
insentif
- Kurangnya
kepercayaan diri dalam metodologi penelitian
- Persepsi
bahwa riset terlalu kompleks
Tanpa
sistem dukungan, sebagian dosen memilih memprioritaskan pengajaran.
5️⃣ Hambatan Institusional yang
Signifikan
Penelitian
ini mengidentifikasi beberapa hambatan utama:
- Keterbatasan
dana penelitian
- Minimnya
akses jurnal dan database ilmiah
- Beban
kerja administratif
- Kurangnya
mentor dan dukungan teknis
- Sistem
insentif yang belum jelas
Hambatan
ini secara langsung memengaruhi tingkat partisipasi dosen dalam riset.
Tantangan
Utama dalam Pelaksanaan Riset
Penelitian
juga merinci lima kategori tantangan utama:
🔹 Keterbatasan Sumber Daya
Pendanaan
minim dan akses terbatas terhadap jurnal ilmiah menghambat kualitas penelitian.
🔹 Kendala Waktu
Beban
mengajar dan administrasi membuat waktu untuk riset sangat terbatas.
🔹 Kesenjangan Dukungan Teknis
Kurangnya
mentor dan layanan statistik memperlambat proses penelitian.
🔹 Aksesibilitas Data
Proses
pengumpulan data sering terhambat oleh prosedur birokratis dan keterbatasan
responden.
🔹 Minimnya Insentif
Tanpa
penghargaan atau pengurangan beban kerja, motivasi menurun.
Strategi
Dosen Mengatasi Hambatan
Meskipun
menghadapi berbagai kendala, dosen menunjukkan beberapa strategi adaptif:
- Kolaborasi
riset untuk berbagi beban kerja
- Mengikuti
seminar dan pelatihan
- Mencari
pendanaan eksternal
- Memanfaatkan
jurnal open-access
- Menjalin
kemitraan antar-institusi
Namun,
strategi ini belum cukup untuk membangun budaya riset yang berkelanjutan tanpa
dukungan sistemik.
Risiko:
Penundaan hingga Pengunduran Diri dari Riset
Dalam
beberapa kasus, dosen:
- Menunda
proyek penelitian
- Terlibat
hanya dalam riset skala kecil
- Menghentikan
aktivitas penelitian sepenuhnya
Fenomena
ini menunjukkan bahwa tanpa reformasi kebijakan, keterlibatan riset dapat terus
menurun.
Implikasi
bagi Kebijakan Perguruan Tinggi
Studi
ini menegaskan bahwa peningkatan budaya riset memerlukan intervensi
institusional yang konkret, antara lain:
- Pengurangan
beban mengajar
- Insentif
dan penghargaan yang jelas
- Program
mentoring terstruktur
- Dukungan
teknis dan statistik
- Peningkatan
akses database akademik
- Pelatihan
penulisan proposal dan publikasi
Tanpa
dukungan tersebut, motivasi intrinsik dosen saja tidak cukup untuk mendorong
produktivitas riset secara konsisten.
Profil
Penulis
- Geryl
D. Cataraja- Palompon Institute of Technology.
- Elvenne
M. Bate- Palompon Institute of Technology.
- Maricris
Potot- Palompon Institute of Technology
Sumber
Penelitian
Cataraja, G. D., Bate, E. M., & Potot, M. (2026). Research Engagement of Faculty in Higher Education Institutions. Journal of Educational Analytics (JEDA), Vol. 5 No. 1, 173–186.
DOI: https://doi.org/10.55927/jeda.v5i1.622
URL : https://nblformosapublisher.org/index.php/jeda

0 Komentar