Di tengah pertumbuhan kota yang pesat, banyak bangunan bersejarah terancam hilang akibat kebutuhan ruang dan pembangunan baru. Padahal, bangunan ini menyimpan nilai budaya sekaligus potensi lingkungan yang besar. Konsep adaptive reuse—mengubah fungsi bangunan lama menjadi ruang baru—muncul sebagai solusi. Namun, menurut Savitri, pendekatan ini belum sepenuhnya terintegrasi dengan teknologi smart city yang kini berkembang pesat.
Penelitian ini menyoroti adanya “kesenjangan fungsi” pada bangunan lama, seperti keterbatasan efisiensi energi, kenyamanan, dan konektivitas digital. Untuk menjawab tantangan tersebut, Savitri mengembangkan kerangka socio-technical framework yang menggabungkan aspek teknis bangunan dengan kebutuhan sosial penggunanya.
Metode Penelitian: Menggabungkan Data Global dan Analisis Sosial
Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan menganalisis berbagai studi dari database internasional seperti Scopus, Web of Science, dan Google Scholar. Pendekatan ini menggabungkan dua aspek utama:
- Aspek teknis: efisiensi energi, struktur bangunan, penggunaan sensor IoT, dan sistem otomatis.
- Aspek sosial: kenyamanan pengguna, keterikatan terhadap tempat, serta pengalaman estetika.
Dengan menggabungkan dua pendekatan ini, penelitian menghasilkan model yang mampu menjembatani kebutuhan teknologi modern dengan nilai budaya bangunan bersejarah.
Temuan Utama: Teknologi Membuat Bangunan Lama Lebih “Hidup”
Penelitian ini menemukan bahwa integrasi teknologi pintar mampu meningkatkan fungsi bangunan bersejarah tanpa menghilangkan nilai aslinya. Beberapa temuan utama meliputi:
- Penggunaan sensor berbasis AI dan IoT untuk mengatur pencahayaan dan suhu secara otomatis.
- Sistem manajemen okupansi jarak jauh yang meningkatkan efisiensi ruang.
- Optimalisasi energi yang memperpanjang umur bangunan secara signifikan.
- Transformasi bangunan menjadi ruang fungsional seperti kafe pintar atau ruang kerja modern.
Selain itu, pendekatan ini terbukti dapat:
- Mengurangi emisi karbon dari pembangunan baru.
- Meningkatkan keterikatan emosional pengguna terhadap ruang.
- Menjaga identitas budaya kota di tengah modernisasi.
Dampak Lingkungan dan Ekonomi
Adaptive reuse tidak hanya berdampak pada pelestarian budaya, tetapi juga memberikan manfaat luas bagi lingkungan dan ekonomi. Dengan memanfaatkan struktur yang sudah ada, kebutuhan bahan bangunan baru dapat ditekan, sehingga mengurangi limbah dan konsumsi energi.
Penelitian ini juga menyoroti bahwa pendekatan ini mampu:
- Menekan embodied carbon (karbon yang tersimpan dalam material bangunan).
- Menghidupkan kembali kawasan yang sebelumnya terbengkalai.
- Mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui bisnis baru.
Sebagai contoh, bangunan lama yang diubah menjadi ruang komersial modern dapat menarik investasi sekaligus menciptakan lapangan kerja.
Peran Smart City dalam Pelestarian
Savitri menekankan bahwa teknologi bukan sekadar tambahan, melainkan bagian inti dari transformasi bangunan bersejarah. Konsep smart city dalam penelitian ini mencakup:
- Sistem energi cerdas berbasis data real-time
- Infrastruktur digital untuk meningkatkan kenyamanan pengguna
- Teknologi keamanan dan aksesibilitas berbasis AI
Dengan integrasi ini, bangunan lama tidak lagi menjadi objek statis, tetapi berubah menjadi bagian aktif dari ekosistem kota modern.
Pendekatan Regeneratif: Lebih dari Sekadar Berkelanjutan
Penelitian ini juga memperkenalkan konsep regenerative design, yaitu pendekatan yang tidak hanya mempertahankan kondisi, tetapi memperbaiki dan meningkatkan kualitas lingkungan.
Alih-alih mengikuti model linear (bangun–pakai–buang), adaptive reuse mendorong model sirkular yang:
- Menggunakan kembali material lama
- Mengurangi pembongkaran bangunan
- Mengoptimalkan siklus hidup struktur
Diagram pada halaman 3 menunjukkan perbedaan jelas antara model linear dan model sirkular, di mana model sirkular mampu menghentikan siklus emisi tinggi dari pembongkaran dan pembangunan ulang.
Implikasi bagi Kota Masa Depan
Hasil penelitian ini relevan bagi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, perencana kota, hingga pelaku bisnis. Beberapa implikasi penting antara lain:
- Kebijakan publik: mendorong regulasi yang mendukung reuse bangunan lama.
- Dunia usaha: membuka peluang investasi pada properti bersejarah.
- Masyarakat: menciptakan ruang kota yang lebih inklusif dan nyaman.
- Pendidikan: menjadi referensi dalam perencanaan arsitektur berkelanjutan.
Savitri menegaskan bahwa kota masa depan harus mampu menyeimbangkan teknologi dan nilai kemanusiaan. Integrasi ini menjadi kunci dalam mencapai Sustainable Development Goal (SDG) 11, yaitu menciptakan kota yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan.
Profil Penulis
Mila Andria Savitri adalah peneliti dari Program Doktor Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB). Bidang keahliannya meliputi desain arsitektur, pelestarian bangunan bersejarah, dan perencanaan kota berkelanjutan berbasis teknologi.
0 Komentar