Inflasi Terkendali Jadi Kunci Penguatan Indeks Saham Syariah Indonesia di Tengah Transformasi Industri

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Jakarta - Stabilitas inflasi di level moderat ternyata menjadi faktor krusial yang mendukung performa pasar modal syariah tanah air. Sebuah riset terbaru yang dilakukan oleh akademisi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengungkapkan bahwa inflasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) selama periode 2019–2024.

Penelitian yang digarap oleh Roikhan Mochamad Aziz, Siti Umi Nurbaidah, Dede Nurdiansyah, Ali Maskur Hasan, dan Muhammad Al Fath ini menyoroti bagaimana kebijakan hilirisasi industri, pergerakan indeks syariah global (IMUS), dan variabel ekonomi makro saling berinteraksi memengaruhi pasar modal syariah. Temuan ini menjadi penting karena memberikan perspektif baru bagi para investor dan pembuat kebijakan di tengah upaya pemerintah melakukan transformasi struktur ekonomi nasional.

Hilirisasi: Investasi Masa Depan yang Membutuhkan Waktu

Hilirisasi industri, yang digencarkan pemerintah sejak pelarangan ekspor bijih nikel tahun 2020, merupakan strategi untuk mengubah Indonesia dari pengekspor bahan mentah menjadi produsen barang bernilai tambah tinggi. Program ini mencakup sektor nikel, bauksit, timah, dan tembaga guna mendukung ekosistem baterai kendaraan listrik hingga industri baja.

Meski secara teoritis hilirisasi diharapkan mendongkrak kinerja emiten terkait, riset ini menemukan bahwa dampak langsung kebijakan tersebut terhadap ISSI belum terlihat signifikan secara statistik dalam jangka pendek. Hal ini disebabkan oleh karakteristik industri hilir yang padat modal dan membutuhkan waktu lama (long lead time) untuk membangun infrastruktur seperti smelter sebelum bisa menghasilkan keuntungan finansial yang besar.

Kejutan dari Faktor Inflasi

Salah satu temuan yang paling menarik adalah peran inflasi. Berbeda dengan pandangan konvensional yang sering kali melihat inflasi sebagai ancaman bagi pasar saham, penelitian ini membuktikan bahwa inflasi moderat di kisaran 3–4% justru berkorelasi positif dengan penguatan ISSI.

“Inflasi yang stabil mencerminkan terjaganya daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi yang sehat, yang pada akhirnya mendukung kinerja perusahaan-perusahaan syariah,” tulis para peneliti dalam laporannya. Selain itu, dalam perspektif ekonomi syariah, stabilitas harga merupakan prasyarat terciptanya lingkungan investasi yang adil dan transparan, sesuai dengan prinsip hifzh al-mal atau perlindungan harta.

Koneksi Pasar Syariah Global

Riset ini juga membedah hubungan antara pasar modal syariah Amerika Serikat melalui Dow Jones Islamic Market US (IMUS) terhadap pasar domestik. Ditemukan bahwa IMUS tidak memengaruhi ISSI secara langsung, melainkan melalui jalur inflasi sebagai jembatan atau variabel mediasi.

Kenaikan indeks syariah global sering kali mencerminkan ekspansi ekonomi dunia yang meningkatkan permintaan terhadap komoditas ekspor Indonesia. Dinamika inilah yang kemudian memicu inflasi domestik yang sehat, yang selanjutnya direspon positif oleh pasar modal syariah di dalam negeri.

Implikasi bagi Investor dan Pemerintah

Berdasarkan hasil studi tersebut, ada beberapa rekomendasi strategis yang diusulkan:

  • Bagi Pemerintah: Diperlukan penguatan insentif fiskal seperti tax holiday atau subsidi energi untuk mempercepat realisasi keuntungan dari proyek hilirisasi.
  • Bagi Bank Indonesia: Sangat penting untuk tetap menjaga inflasi di level 3–4% guna mendukung stabilitas pasar keuangan syariah.
  • Bagi Investor: Inflasi moderat dapat dijadikan indikator positif dalam pengambilan keputusan investasi di pasar saham syariah. Sementara itu, perkembangan hilirisasi harus tetap dipantau sebagai faktor fundamental jangka panjang.
Penelitian ini menggunakan metode Path Analysis (analisis jalur) dengan data bulanan dari sumber tepercaya seperti Bank Indonesia, Kementerian Perindustrian, dan platform data keuangan global.

Profil Penulis:

  • Roikhan Mochamad Aziz: Dosen dan peneliti di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pakar dalam bidang ekonomi dan keuangan syariah.
  • Siti Umi Nurbaidah: Peneliti di bidang manajemen keuangan syariah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
  • Dede Nurdiansyah, Ali Maskur Hasan, & Muhammad Al Fath: Tim peneliti dari universitas yang sama dengan fokus pada integrasi kebijakan industri dan pasar modal.

Sumber Penelitian:

Aziz, R. M., Nurbaidah, S. U., Nurdiansyah, D., Hasan, A. M., & Fath, M. A. (2026). The Effect of Downstreaming, IMUS, and Inflation on Indonesia's Sharia Stock Index. Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR), Vol. 5, No. 3, 321-342.

https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijar

https://doi.org/10.55927/ijar.v5i3.16263


Posting Komentar

0 Komentar