Implementasi Praktik Rekrutmen dan Seleksi Berdasarkan Kecocokan Budaya pada Retensi Tenaga Kerja di Industri Kreatif

Gambar Ilustrasi AI

Rekrutmen Berbasis Culture Fit Terbukti Tingkatkan Retensi Pekerja Industri Kreatif

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Hasnawaty Ronrong dari Politeknik ATI Makassar menunjukkan bahwa praktik rekrutmen dan seleksi berbasis culture fit dapat meningkatkan retensi tenaga kerja di perusahaan industri kreatif. Studi berjudul “The Implementation of Culture Fit–Based Recruitment and Selection Practices on Workforce Retention in the Creative Industry” ini dipublikasikan pada tahun 2026 setelah melalui proses penerimaan pada 28 Februari 2026. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa kesesuaian nilai, sikap, dan budaya kerja sejak tahap awal perekrutan memainkan peran penting dalam mempertahankan karyawan dan membangun hubungan kerja jangka panjang.

Penelitian ini menjadi relevan karena industri kreatif dikenal memiliki dinamika kerja yang fleksibel dan tingkat mobilitas tenaga kerja yang relatif tinggi. Dalam kondisi tersebut, perusahaan membutuhkan strategi manajemen sumber daya manusia yang tidak hanya fokus pada kompetensi teknis, tetapi juga pada keselarasan nilai antara karyawan dan organisasi.

Industri Kreatif dan Tantangan Stabilitas Tenaga Kerja

Dalam beberapa dekade terakhir, industri kreatif berkembang pesat dan menjadi salah satu penggerak utama ekonomi berbasis inovasi, pengetahuan, dan kreativitas. Sektor ini mencakup berbagai bidang seperti desain, media digital, animasi, periklanan, hingga produksi konten kreatif.

Namun, ketergantungan tinggi terhadap kualitas sumber daya manusia membuat industri kreatif rentan terhadap masalah stabilitas tenaga kerja. Banyak organisasi kreatif menghadapi tingkat turnover karyawan yang tinggi karena pekerja kreatif memiliki peluang karier yang luas dan mobilitas yang tinggi.

Dalam perspektif manajemen sumber daya manusia strategis, hubungan antara karyawan dan organisasi tidak lagi dipandang sekadar kontrak kerja formal. Hubungan kerja modern dipahami sebagai hubungan jangka panjang yang didasarkan pada kesesuaian nilai, sikap, dan budaya kerja.

Konsep tersebut dikenal sebagai person–organization fit, yang menekankan pentingnya keselarasan antara nilai pribadi karyawan dan nilai inti organisasi. Dari konsep ini berkembang pendekatan culture fit, yaitu strategi perekrutan yang menilai kesesuaian budaya sebagai salah satu kriteria utama dalam seleksi karyawan.

Metodologi Penelitian

Penelitian yang dilakukan oleh Hasnawaty Ronrong menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei eksplanatori. Pendekatan ini digunakan untuk menganalisis hubungan sebab-akibat antara praktik rekrutmen berbasis culture fit dengan retensi tenaga kerja.

Data penelitian dikumpulkan melalui kuesioner menggunakan skala Likert lima poin. Survei dilakukan terhadap 75 karyawan yang bekerja di perusahaan industri kreatif dan telah memiliki masa kerja minimal enam bulan.

Beberapa karakteristik metodologi penelitian meliputi:

  • Pendekatan penelitian: kuantitatif dengan desain survei eksplanatori
  • Teknik sampling: purposive sampling
  • Jumlah responden: 75 karyawan industri kreatif
  • Instrumen penelitian: kuesioner skala Likert lima poin
  • Metode analisis: regresi linear dan analisis mediasi menggunakan teknik bootstrapping
  • Perangkat analisis: IBM SPSS dan PROCESS Macro

Penelitian ini menguji tiga variabel utama, yaitu:

  1. Rekrutmen dan seleksi berbasis culture fit
  2. Komitmen organisasi
  3. Retensi tenaga kerja

Dalam model penelitian, komitmen organisasi juga dianalisis sebagai variabel mediasi yang menjelaskan bagaimana praktik rekrutmen memengaruhi keputusan karyawan untuk tetap bekerja di organisasi.

Temuan Utama Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik rekrutmen berbasis kesesuaian budaya memiliki pengaruh signifikan terhadap stabilitas tenaga kerja di industri kreatif.

Berdasarkan analisis statistik deskriptif, persepsi responden terhadap ketiga variabel penelitian berada pada kategori sedang hingga tinggi.

Rata-rata skor variabel penelitian adalah sebagai berikut:

  1. Rekrutmen berbasis culture fit: 4,02
  2. Komitmen organisasi: 3,95
  3. Retensi tenaga kerja: 4,08

Nilai ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden merasa memiliki kecocokan nilai dengan organisasi tempat mereka bekerja serta memiliki kecenderungan untuk tetap bertahan di perusahaan.

Analisis regresi lebih lanjut menunjukkan beberapa temuan penting:

1. Rekrutmen berbasis culture fit meningkatkan retensi tenaga kerja: Hasil regresi menunjukkan koefisien 0,62 dengan tingkat signifikansi p < 0,001. Artinya, semakin tinggi penerapan rekrutmen berbasis kesesuaian budaya, semakin tinggi pula tingkat retensi tenaga kerja.

2. Rekrutmen culture fit meningkatkan komitmen organisasi: Analisis juga menunjukkan bahwa praktik rekrutmen yang menekankan keselarasan nilai mampu meningkatkan komitmen emosional karyawan terhadap organisasi.

Koefisien regresi yang diperoleh adalah 0,59 dengan signifikansi p < 0,001.

3. Komitmen organisasi memperkuat retensi tenaga kerja: Karyawan yang memiliki komitmen organisasi yang tinggi cenderung menunjukkan loyalitas dan keinginan untuk tetap bekerja dalam organisasi. Koefisien pengaruh yang ditemukan mencapai 0,67, menjadikannya salah satu faktor terkuat dalam mempertahankan tenaga kerja.

4. Komitmen organisasi berperan sebagai mediator: Analisis mediasi menggunakan metode bootstrapping menunjukkan bahwa pengaruh culture fit terhadap retensi tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga melalui peningkatan komitmen organisasi.

Efek langsung tercatat sebesar 0,34, sedangkan efek tidak langsung melalui komitmen organisasi sebesar 0,28. Interval kepercayaan hasil bootstrapping tidak melewati nilai nol, sehingga efek mediasi dinyatakan signifikan secara statistik.

Implikasi bagi Manajemen Sumber Daya Manusia

Temuan penelitian ini memberikan implikasi penting bagi praktik manajemen sumber daya manusia, khususnya di sektor industri kreatif.

Pertama, organisasi perlu mengintegrasikan aspek budaya organisasi dalam proses rekrutmen. Transparansi mengenai nilai dan budaya kerja akan membantu calon karyawan memahami lingkungan kerja yang akan mereka hadapi.

Kedua, proses seleksi sebaiknya tidak hanya menilai kompetensi teknis, tetapi juga kesesuaian nilai dan sikap kerja.

Ketiga, rekrutmen perlu dipandang sebagai tahap strategis dalam membangun hubungan kerja jangka panjang.

Dalam penelitian ini, Hasnawaty Ronrong dari Politeknik ATI Makassar menjelaskan bahwa kesesuaian nilai sejak awal proses perekrutan dapat membentuk hubungan psikologis yang kuat antara karyawan dan organisasi.

Keselarasan tersebut mendorong munculnya komitmen emosional, loyalitas, serta keinginan untuk berkontribusi secara berkelanjutan dalam organisasi.

Profil Penulis

Hasnawaty Ronrong adalah akademisi dari Politeknik ATI Makassar, Indonesia, yang memiliki fokus penelitian pada bidang manajemen sumber daya manusia, perilaku organisasi, dan pengembangan tenaga kerja di industri kreatif.

Penelitian yang dilakukan oleh Hasnawaty Ronrong berfokus pada strategi manajemen SDM yang berkelanjutan, termasuk sistem rekrutmen strategis, penguatan budaya organisasi, serta upaya meningkatkan stabilitas tenaga kerja di sektor ekonomi kreatif.

Sumber Penelitian

Ronrong, Hasnawaty. 2026.
“The Implementation of Culture Fit–Based Recruitment and Selection Practices on Workforce Retention in the Creative Industry.”
Artikel ilmiah open-access di bawah lisensi Creative Commons Attribution 4.0.
Tanggal diterima: 28 Februari 2026.
JURNALIndonesian Journal of Economic & Management Sciences (IJEMS)                          

Posting Komentar

0 Komentar