Implementasi Intervensi Gizi Spesifik dalam Pemberian Makanan Tambahan pada Ibu Hamil dan Pemberian Makanan Tambahan pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Doro 2, Kabupaten Pekalongan

Ilustrasi by AI

Pekalongan- Evaluasi Program PMT di Puskesmas Doro 2 Ungkap Kendala Penurunan Stunting. Penelitian yang dilakukan Maisyahunnuha Isnada, Yuniarti, Dewi Nugraheni, dan Ardiana Priharwanti dari Universitas Pekalongan yang dipublikasikan dalam International Journal of Integrated Science and Technology (IJIST) Vol. 4 No. 2 (Februari 2026).

Penelitian yang dilakukan Maisyahunnuha Isnada, Yuniarti, Dewi Nugraheni, dan Ardiana Priharwanti dari Universitas Pekalongan mengungkap bahwa pelaksanaan intervensi gizi spesifik, khususnya Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi ibu hamil Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan balita, sudah berjalan tetapi belum optimal.

Stunting Masih Jadi Tantangan Serius

Secara nasional, prevalensi stunting turun dari 24,4% pada 2021 menjadi 19,8% pada 2024. Namun, di wilayah kerja Puskesmas Doro 2, angka stunting masih belum mencapai target nasional di bawah 14%.

Data tahun 2024 menunjukkan dari 791 balita yang diukur, sebanyak 175 anak (22,12%) tergolong pendek dan sangat pendek. Pada kelompok baduta (0–2 tahun), terdapat 63 anak (16,98%) yang mengalami stunting.

Beberapa desa seperti Pungangan dan Harjosari mencatat angka yang relatif tinggi. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kebijakan nasional dan implementasi di lapangan.

Fokus pada PMT Ibu Hamil KEK dan Balita

Program PMT menjadi salah satu intervensi penting dalam percepatan penurunan stunting. Ibu hamil dengan KEK berisiko melahirkan bayi berat badan lahir rendah, yang merupakan faktor risiko stunting. Sementara pada balita, PMT bertujuan memperbaiki status gizi dan mendukung pertumbuhan optimal.

Namun, dua indikator belum mencapai target, yaitu:

  • PMT untuk ibu hamil KEK
  • PMT lokal untuk balita

Kendala utama yang ditemukan antara lain keterbatasan anggaran, konsistensi distribusi makanan tambahan, serta pemahaman keluarga yang belum merata mengenai pentingnya gizi seimbang.

Metode: Analisis Implementasi Kebijakan

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kerangka teori implementasi kebijakan George C. Edward III, yang mencakup:

1️Komunikasi
2️
Sumber daya
3️
Disposisi atau sikap pelaksana
4️
Struktur birokrasi

Informan dipilih secara purposif, melibatkan kepala puskesmas, bidan koordinator, petugas gizi, kader posyandu, ibu hamil KEK, serta ibu balita stunting.

Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman.

Temuan: Komunikasi Belum Merata

Komunikasi dilakukan melalui penyuluhan, posyandu, dan kunjungan rumah. Pendekatan praktik langsung dinilai lebih efektif karena ibu dapat melihat contoh makanan secara nyata.

Namun, efektivitas komunikasi belum merata. Hambatan yang muncul meliputi:

  • Pengaruh mitos yang kuat
  • Literasi kesehatan yang terbatas
  • Faktor ekonomi keluarga
  • Pola makan anak yang sulit diatur

Informasi yang bersifat umum tanpa solusi praktis cenderung kurang efektif. Pendampingan yang intensif dan berbasis kebutuhan keluarga dinilai lebih berhasil meningkatkan pemahaman dan motivasi ibu.

Sumber Daya: Tersedia tapi Terbatas

Secara umum, sumber daya seperti tenaga kesehatan dan fasilitas tersedia. Namun, penelitian menemukan beberapa kendala:

  • Konsistensi kualitas dan jumlah PMT
  • Keterbatasan anggaran
  • Keterbatasan sarana pendukung

Sebagian informan menyatakan PMT yang diterima sudah cukup baik dan memenuhi kebutuhan gizi. Namun, keterbatasan sumber daya berpotensi menurunkan kualitas layanan dan memengaruhi persepsi masyarakat terhadap manfaat program.

Sumber daya tidak hanya berpengaruh secara teknis, tetapi juga menentukan tingkat partisipasi dan kepatuhan sasaran.

Sikap Sasaran Beragam

Disposisi atau sikap penerima program menunjukkan variasi.

Sebagian ibu merasa terbantu dan termotivasi, terutama jika mendapat dukungan keluarga. Mereka rutin menghadiri posyandu dan mengikuti anjuran gizi.

Namun, ada pula yang merasa manfaat program belum signifikan. Kendala seperti biaya transportasi, perilaku anak yang sulit makan, dan pengalaman layanan yang kurang optimal memengaruhi kepatuhan.

Sikap positif pelaksana program menjadi kekuatan utama dalam menjaga keberlanjutan intervensi.

Struktur Birokrasi Relatif Jelas

Penelitian menunjukkan bahwa alur pelayanan, pembagian tugas, dan jadwal posyandu telah tersusun dengan baik. Sebagian informan memahami mekanisme pendataan dan distribusi PMT serta mengetahui petugas yang bertanggung jawab.

Struktur birokrasi yang jelas memberikan rasa aman dan meningkatkan partisipasi masyarakat.

Namun, konsistensi pelaksanaan di lapangan masih perlu diperkuat agar distribusi berjalan merata dan tidak menimbulkan kebingungan.

Rekomendasi Penguatan Program

Penelitian menyimpulkan bahwa intervensi gizi spesifik di Puskesmas Doro 2 telah berjalan, tetapi masih membutuhkan penguatan pada tiga aspek utama:

  • Peningkatan kualitas dan intensitas komunikasi
  • Penguatan sumber daya dan konsistensi distribusi PMT
  • Pendekatan yang lebih adaptif dan personal kepada sasaran

Pendampingan berkelanjutan serta solusi yang aplikatif sesuai kondisi keluarga dinilai menjadi kunci untuk mempercepat penurunan stunting di wilayah tersebut.

Profil Penulis

  • Maisyahunnuha Isnada-  Universitas Pekalongan 
  • Yuniarti- Universitas Pekalongan 
  •  Dewi Nugraheni- Universitas Pekalongan 
  •  Ardiana Priharwanti- Universitas Pekalongan 

Sumber Penelitian

Isnada, M., Yuniarti, Nugraheni, D., & Priharwanti, A. (2026). Implementation of Specific Nutrition Interventions in the Supplementary Feeding of Pregnant Women and Supplementary Feeding of Toddlers in the Working Area of the Doro 2 Health Center, Pekalongan Regency. International Journal of Integrated Science and Technology (IJIST), Vol. 4 No. 2, 82–95.

DOI: https://doi.org/10.59890/ijist.v4i2.276

URL: https://ntlmultitechpublisher.my.id/index.php/ijist


Posting Komentar

0 Komentar