Implementasi Analisis Faktor Konfirmatori dalam Penelitian tentang Kemakmuran Masjid Al Muhajirin

Ilustrasi by AI

Jambi—Implementasi Analisis Faktor Konfirmatori dalam Penelitian tentang Kemakmuran Masjid Al Muhajirin. Penellitian ini dilakukan oleh Effiyaldi dari Universitas Dinamika Bangsa dan terbit di East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR) tahun 2026.

Penelitian yang dilakukan oleh Effiyaldi mengungkapkan bahwa gaya kepemimpinan, transparansi informasi, tingkat religiusitas jamaah, dan kondisi ekonomi berperan signifikan dalam membentuk kemakmuran masjid.

Masjid sebagai pusat ibadah dan pemberdayaan

Dalam konteks masyarakat Indonesia, masjid bukan hanya tempat salat berjamaah. Ia juga berfungsi sebagai pusat pendidikan, aktivitas sosial, dan pemberdayaan ekonomi umat. Namun, banyak penelitian sebelumnya masih menilai kemakmuran masjid secara normatif tanpa menguji kekuatan instrumen pengukurannya.

Effiyaldi menekankan bahwa konsep “memakmurkan masjid” perlu didefinisikan secara terukur. Dengan CFA, setiap konstruk diuji apakah benar-benar merepresentasikan konsep teoritisnya. Pendekatan ini penting agar pengelolaan masjid dapat berbasis data, bukan sekadar asumsi.

Survei terhadap 156 jamaah

Penelitian ini melibatkan 156 responden yang merupakan jamaah Masjid Al Muhajirin di Kota Jambi. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert berbasis Google Form dan dianalisis menggunakan perangkat lunak Lisrel.

Variabel yang diuji meliputi:

  1. Gaya Kepemimpinan
  2. Transparansi Informasi
  3. Tingkat Religiusitas
  4. Kebutuhan Ekonomi
  5. Kemakmuran Masjid

Hasilnya menunjukkan bahwa seluruh indikator memiliki nilai factor loading di atas 0,50, batas minimum dalam analisis CFA. Artinya, setiap indikator secara statistik mampu menjelaskan konstruk yang diukur.

Lima temuan utama penelitian

Penelitian ini mencatat setidaknya lima temuan penting:

  1. Kepemimpinan yang partisipatif memperkuat kemakmuran masjid.
    Indikator gaya kepemimpinan memenuhi standar Goodness of Fit, menunjukkan bahwa kepemimpinan imam dan pengurus memiliki peran nyata dalam meningkatkan partisipasi jamaah.
  2. Transparansi informasi meningkatkan kepercayaan jamaah.
    Keterbukaan laporan keuangan, akses informasi program, dan akuntabilitas pengelolaan terbukti menjadi faktor yang terukur dan signifikan.
  3. Religiusitas menjadi faktor paling kuat.
    Variabel religiusitas menunjukkan nilai reliabilitas sangat tinggi, dengan Construct Reliability mencapai 0,986 dan AVE 0,901. Ini berarti lebih dari 90 persen variasi indikator dapat dijelaskan oleh konstruk religiusitas.
  4. Kondisi ekonomi memengaruhi partisipasi.
    Nilai reliabilitas variabel kebutuhan ekonomi mencapai 0,977. Temuan ini menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi jamaah berkontribusi terhadap kemampuan mereka mendukung aktivitas masjid.
  5. Kemakmuran masjid terdefinisi secara empiris.
    Variabel kemakmuran masjid memiliki nilai reliabilitas 0,988 dan AVE 0,905, menunjukkan bahwa konsep ini dapat diukur secara konsisten dan stabil.

Kepemimpinan dan transparansi jadi fondasi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa masjid dengan kepemimpinan inklusif dan komunikasi terbuka cenderung memiliki tingkat partisipasi lebih tinggi. Transparansi dalam pengelolaan dana juga memperkuat kepercayaan jamaah.

Sebaliknya, pengelolaan yang kurang terbuka berpotensi menurunkan keterlibatan masyarakat. Dalam konteks organisasi keagamaan, transparansi menjadi modal sosial penting untuk membangun akuntabilitas.

Peran ekonomi dalam kemakmuran masjid

Penelitian ini juga mempertegas hubungan antara kondisi ekonomi jamaah dan keberlanjutan aktivitas masjid. Ketika kebutuhan ekonomi masyarakat terpenuhi, partisipasi dalam program sosial, zakat, infaq, dan sedekah meningkat.

Temuan ini sejalan dengan tren penelitian terbaru yang melihat masjid sebagai pusat pemberdayaan ekonomi, termasuk pelatihan UMKM, koperasi syariah, dan pengelolaan zakat produktif.

Implikasi bagi pengelolaan masjid

Hasil penelitian ini memberi pesan jelas bagi pengurus masjid dan pembuat kebijakan:

  1. Pengelolaan masjid perlu berbasis data dan instrumen yang tervalidasi.
  2. Kepemimpinan partisipatif harus menjadi prioritas.
  3. Transparansi keuangan wajib diperkuat.
  4. Program pemberdayaan ekonomi jamaah perlu dikembangkan secara terstruktur.
  5. Religiusitas jamaah dapat menjadi modal sosial utama dalam membangun solidaritas.

Effiyaldi dari Universitas Dinamika Bangsa menegaskan bahwa validasi konstruk melalui CFA memberikan fondasi ilmiah yang kuat sebelum dilakukan analisis hubungan sebab-akibat lebih lanjut. Dengan instrumen yang sahih, kebijakan masjid dapat dirancang secara lebih tepat dan terukur.

Profil penulis

Effiyaldi –Universitas Dinamika Bangsa.

Sumber penelitian

Effiyaldi. (2026). Implementation of Confirmative Factor Analysis in Research on Prospering the Al Muhajirin Mosque.

East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5 No. 2, hlm. 691–708.

DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i2.30

URL Resmi: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr


Posting Komentar

0 Komentar