Jayapura, Papua—Identitas Budaya
dan Transformasi Perkotaan: Studi Komparatif Kota-Kota Papua dan Metropolitan
Asia Tenggara. Penelitian ini dilakukan oleh Dr. Lazarus Ramandei dan Dr.
Yohanis Yulius Wanane dari Universitas Cenderawasih, Jayapura, dan
dipublikasikan dalam East Asian Journal of Multidisciplinary Research
(EAJMR) pada 2026.
Penelitian yang dilakukan oleh Dr.
Lazarus Ramandei dan Dr. Yohanis Yulius Wanane mengungkapkan bahwa tingkat
pelestarian identitas budaya di kota-kota Papua jauh lebih rendah dibandingkan
kota metropolitan Asia Tenggara seperti Jakarta, Bangkok, dan Kuala Lumpur.
Masyarakat
Adat Menjadi Minoritas di Kota Sendiri
Salah satu
temuan paling krusial adalah perubahan komposisi demografis. Di Jayapura,
penduduk asli Papua kini sekitar 35% dari populasi kota. Di Sorong sekitar 30%,
dan di Merauke kurang dari 25%. Kondisi ini berbeda dengan kota pembanding, di
mana kelompok etnis lokal masih memiliki posisi sosial dan politik yang relatif
lebih stabil.
Ketika
masyarakat adat menjadi minoritas di tanah leluhur, dampaknya tidak hanya pada
statistik kependudukan, tetapi juga pada kontrol ruang, kebijakan publik, dan
simbol kota. Seorang pemimpin adat di Jayapura menggambarkan bagaimana ruang
pertemuan tradisional berubah menjadi area komersial, sementara situs sakral
kehilangan perlindungan.
72% Ruang
Budaya Hilang dalam Dua Dekade
Analisis
spasial menggunakan Geographic Information Systems (GIS) memperlihatkan
kehilangan ruang budaya yang drastis. Dalam periode 2004–2024, kota-kota Papua
kehilangan 72,3% situs budaya, sementara kota pembanding rata-rata kehilangan
37,5%.
Jarak rata-rata
warga Papua ke lokasi budaya terdekat meningkat dari sekitar 1,2 kilometer
menjadi 5,6 kilometer. Di Jakarta, Bangkok, dan Kuala Lumpur, kenaikan jarak
relatif lebih terkendali, sekitar 2,4 kilometer.Artinya, praktik budaya tidak
hanya tergerus secara simbolik, tetapi juga secara fisik dan geografis. Ketika
ruang budaya semakin jauh dan sulit diakses, partisipasi generasi muda ikut
menurun.
Sepuluh
Indikator Ukur Identitas Budaya
Tim peneliti
mengembangkan Cultural Identity Index berbasis sepuluh indikator, termasuk
penggunaan bahasa daerah, partisipasi upacara adat, akses ruang budaya,
arsitektur tradisional, ekonomi berbasis budaya, hingga lanskap simbolik.
Seluruh dimensi
menunjukkan skor lebih rendah di Papua, terutama pada:
- Arsitektur budaya (1,9)
- Tata kelola adat (2,2)
- Akses ruang budaya (2,4)
Analisis statistik menemukan tiga faktor
paling menentukan dalam menjaga identitas budaya:
Persentase populasi adat
Kepadatan ruang budaya
Tingkat representasi politik
Lima Mekanisme
Penggerus Budaya
Penelitian ini
mengidentifikasi lima mekanisme utama yang mempercepat erosi identitas budaya
di Papua:
- Dislokasi demografis – Migrasi besar-besaran
mengubah struktur sosial kota.
- Komodifikasi ruang – Lahan budaya dikalahkan
oleh kepentingan komersial.
- Eksklusi institusional – Suara masyarakat adat
minim dalam perencanaan kota.
- Marginalisasi ekonomi – Pendapatan rumah
tangga adat lebih rendah dibanding non-adat.
- Kekerasan epistemik – Pengetahuan dan sistem nilai
adat tidak diakui dalam kebijakan tata ruang.
Sebaliknya,
Bangkok dan Kuala Lumpur menunjukkan bahwa pelestarian budaya bisa berjalan
seiring pembangunan modern jika ada dukungan kelembagaan, zona konservasi, dan
perlindungan hukum yang jelas.
Rekomendasi:
Kerangka Ketahanan Budaya Perkotaan
Sebagai solusi,
Ramandei dan Wanane mengusulkan Integrated Cultural Resilience Framework
(ICRF), yang mencakup:
1.
Penetapan dan perlindungan hukum distrik budaya.
2.
Integrasi arsitektur adat dalam bangunan publik.
3.
Penguatan kewenangan lembaga adat dalam
pengambilan keputusan.
4.
Dukungan ekonomi bagi usaha budaya masyarakat
adat.
5.
Integrasi pengetahuan lokal dalam perencanaan
kota.
6.
Pengukuran rutin indeks identitas budaya sebagai
alat evaluasi kebijakan.
Kerangka ini
menegaskan bahwa urbanisasi tidak harus menghapus identitas budaya, selama ada
komitmen politik dan kebijakan inklusif.
Implikasi
bagi Papua dan Asia Tenggara
Bagi Papua,
temuan ini menjadi sinyal peringatan bahwa tanpa intervensi struktural, erosi
budaya dapat mencapai titik krisis dalam satu generasi. Implementasi Otonomi
Khusus dinilai perlu diperkuat agar masyarakat adat memiliki kewenangan nyata
dalam perencanaan ruang dan pembangunan.
Secara
regional, studi ini relevan bagi wilayah lain di Asia Tenggara yang tengah
mengalami urbanisasi cepat. Pertanyaan utamanya bukan apakah kota akan
berkembang, tetapi siapa yang diakomodasi dalam perkembangan tersebut.
Profil
Penulis
1.
Lazarus Ramandei – Universitas
Cenderawasih, Jayapura.
2.
Yohanis Yulius Wanane – Universitas
Cenderawasih, Jayapura.
Sumber
Penelitian
Ramandei, L., &
Wanane, Y. Y. (2026). Cultural Identity and Urban Transformation:
Comparative Study of Papuan Cities and Southeast Asian Metropolitan Areas.
East Asian Journal
of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5 No. 2, hlm. 767–780.
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i2.16
URL Resmi : https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr
0 Komentar