Hubungan Sosial Kuat Terbukti Tingkatkan Kesehatan Mental Lansia di Jakarta

Illustration by AI

FORMOSA NEWS - Jakarta - Kesehatan mental lansia ternyata sangat dipengaruhi oleh seberapa kuat hubungan sosial yang mereka miliki. Temuan ini diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Thika Marliana dari Universitas Respati Indonesia bersama Ni Putu Widani Astuti dari Universitas Mahasaraswati Denpasar dan Wijayantono dari Poltekkes Kemenkes Padang. Studi ini dipublikasikan pada 2026 di Formosa Journal of Multidisciplinary Research dan menyoroti pentingnya interaksi sosial dalam menjaga kesejahteraan psikologis lansia di Indonesia .

Penelitian dilakukan pada 60 responden lansia berusia di atas 60 tahun yang tinggal di wilayah Jakarta Timur. Hasilnya menunjukkan bahwa lansia yang memiliki hubungan sosial lebih kuat—baik dengan keluarga, teman, maupun komunitas—cenderung memiliki kondisi mental yang lebih baik. Temuan ini penting karena populasi lansia terus meningkat, sementara masalah seperti kesepian dan isolasi sosial semakin sering terjadi.

Latar Belakang: Lansia Rentan Kesepian

Seiring meningkatnya usia harapan hidup, jumlah lansia di dunia terus bertambah. Namun, pertambahan ini juga membawa tantangan baru, terutama dalam aspek kesehatan mental. Banyak lansia mengalami penurunan interaksi sosial akibat pensiun, kehilangan pasangan, atau berkurangnya aktivitas sehari-hari.

Kondisi ini sering memicu perasaan kesepian, stres, bahkan depresi. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kurangnya hubungan sosial dapat meningkatkan risiko gangguan mental pada lansia. Sebaliknya, hubungan sosial yang aktif dapat menjadi pelindung penting bagi kesehatan psikologis mereka.

Meski demikian, masih sedikit penelitian yang secara komprehensif membahas konsep “keterhubungan sosial” secara luas, terutama dalam konteks masyarakat perkotaan di negara berkembang seperti Indonesia. Inilah yang menjadi fokus utama penelitian ini.

Metodologi: Survei Lansia di Komunitas

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang (cross-sectional). Sebanyak 60 lansia yang tinggal di komunitas—termasuk peserta kegiatan Posyandu Lansia—dipilih sebagai responden.

Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang mengukur dua hal utama:

  • Tingkat keterhubungan sosial (menggunakan Social Connectedness Scale)
  • Kondisi kesehatan mental (menggunakan General Health Questionnaire/GHQ-12)

Analisis dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan uji korelasi untuk melihat hubungan antara kedua variabel tersebut.

Temuan Utama: Hubungan Sosial dan Kesehatan Mental Berbanding Lurus

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara keterhubungan sosial dan kesehatan mental lansia.

Beberapa temuan penting:

  • Nilai rata-rata keterhubungan sosial tergolong cukup tinggi (37,12 dari skala 50)
  • Nilai rata-rata kesehatan mental juga relatif baik (35,02 dari skala 50)
  • Korelasi antara keduanya mencapai r = 0,621, yang berarti hubungan positif sedang dan signifikan

Artinya, semakin kuat hubungan sosial seseorang, semakin baik pula kondisi mentalnya.

Distribusi data juga memperkuat temuan ini:

  • Lansia dengan keterhubungan sosial tinggi mayoritas memiliki kesehatan mental baik
  • Lansia dengan keterhubungan rendah cenderung mengalami masalah psikologis

Secara sederhana, lansia yang aktif bersosialisasi dan memiliki dukungan sosial lebih stabil secara emosional dan lebih sedikit mengalami stres.

Implikasi: Program Sosial Jadi Kunci

Penelitian ini menegaskan bahwa kesehatan mental lansia tidak hanya dipengaruhi oleh faktor medis, tetapi juga oleh lingkungan sosial.

Menurut para peneliti, keterhubungan sosial berperan sebagai:

  • Sumber dukungan emosional
  • Pemberi rasa memiliki dalam komunitas
  • Penyangga terhadap stres dan kesepian

“Lansia yang tetap aktif dalam hubungan sosial cenderung memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih baik,” tulis Marliana dan tim dalam publikasinya .

Implikasinya sangat luas, terutama bagi:

  • Masyarakat: pentingnya menjaga hubungan dengan orang tua atau lansia di sekitar
  • Pemerintah: perlunya program komunitas untuk lansia
  • Tenaga kesehatan: mempertimbangkan aspek sosial dalam penanganan kesehatan mental

Program seperti kegiatan komunitas, kelompok dukungan sosial, hingga aktivitas rutin di lingkungan dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan kualitas hidup lansia.

Konteks Indonesia: Bukti dari Komunitas Perkotaan

Berbeda dengan banyak penelitian sebelumnya yang berfokus pada negara maju, studi ini memberikan bukti dari konteks Indonesia, khususnya masyarakat urban di Jakarta.

Hasilnya menunjukkan bahwa faktor budaya, lingkungan sosial, dan struktur keluarga juga memengaruhi pola interaksi lansia. Dalam konteks ini, komunitas lokal seperti Posyandu Lansia memiliki peran penting sebagai ruang interaksi sosial.

Keterbatasan dan Arah Penelitian Selanjutnya

Peneliti mengakui bahwa studi ini memiliki beberapa keterbatasan:

  • Jumlah responden relatif kecil (60 orang)
  • Desain penelitian tidak dapat memastikan hubungan sebab-akibat

Ke depan, penelitian dengan jumlah sampel lebih besar dan pendekatan longitudinal diperlukan untuk memahami perubahan hubungan sosial dan dampaknya terhadap kesehatan mental secara lebih mendalam.

Profil Penulis

Thika Marliana
Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Respati Indonesia. Fokus pada kesehatan masyarakat dan keperawatan komunitas.

Ni Putu Widani Astuti
Akademisi Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Mahasaraswati Denpasar. Memiliki minat pada kesehatan masyarakat dan perilaku kesehatan.

Wijayantono
Dosen di Poltekkes Kemenkes Padang dengan bidang keahlian kesehatan masyarakat dan epidemiologi.

Sumber Penelitian

Marliana, T., Astuti, N. P. W., & Wijayantono. (2026). Social Connectedness and Mental Health Outcomes in the Elderly Population. Formosa Journal of Multidisciplinary Research, Vol. 5 No. 3, 981–994.

Posting Komentar

0 Komentar