Studi Ungkap Pengaruh Lingkungan dan Self-Esteem pada Konsumsi Alkohol Remaja Pekalongan

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Pekalongan - Konsumsi alkohol di kalangan remaja di Kelurahan Panjang Baru, Kota Pekalongan, dipengaruhi kuat oleh tekanan teman sebaya, lingkungan sosial yang permisif, serta rendahnya rasa percaya diri. Temuan ini diungkap dalam riset kualitatif yang dilakukan Nora Dina Maulida bersama Rr. Vita Nurlatif, Wahyuningsih, dan Imam Purnomo dari Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Pekalongan. Penelitian ini terbit pada 2026 di International Journal of Sustainable Applied Sciences dan menyoroti pentingnya pencegahan terpadu berbasis keluarga, sekolah, dan pemerintah daerah.

Riset dilakukan selama tiga bulan di Panjang Baru, wilayah pesisir yang sebagian besar warganya bekerja di sektor perikanan dan kelautan. Para peneliti mewawancarai remaja usia 15–19 tahun sebagai informan utama, serta orang tua, tokoh masyarakat, dan perangkat kelurahan sebagai informan pendukung. Hasilnya menunjukkan bahwa perilaku konsumsi alkohol di kalangan remaja bukan sekadar persoalan coba-coba, tetapi terbentuk melalui interaksi faktor psikologis dan sosial yang saling menguatkan.

Masalah Kesehatan Publik yang Nyata

Masa remaja adalah fase pencarian jati diri. Pada periode ini, kebutuhan untuk diakui dan diterima dalam kelompok sosial menjadi sangat kuat. Di Panjang Baru, sebagian remaja mulai mengenal alkohol sejak SMP atau SMA, umumnya melalui teman sebaya.

Alkohol yang dikonsumsi beragam, mulai dari minuman oplosan hingga minuman beralkohol yang diperoleh secara ilegal. Konsumsi biasanya dilakukan berkelompok, di area pantai, gang sempit, atau rumah teman, sering kali pada malam hari atau saat jam sekolah kosong.

Dampaknya tidak hanya dirasakan secara fisik seperti pusing dan mual, tetapi juga secara psikologis dan sosial. Beberapa remaja mengaku menjadi lebih agresif, sulit mengendalikan emosi, hingga sering bolos sekolah dan terlibat konflik dengan orang tua.

Tekanan Teman Sebaya dan Lingkungan Permisif

Faktor paling dominan dalam penelitian ini adalah pengaruh teman sebaya. Minum alkohol kerap dianggap simbol solidaritas dan kebersamaan. Remaja yang menolak minum berisiko dikucilkan dari kelompoknya.

Selain itu, lingkungan sosial yang terbiasa melihat orang dewasa mengonsumsi alkohol turut membentuk persepsi bahwa perilaku tersebut adalah hal wajar. Ketika konsumsi alkohol dinormalisasi dalam kehidupan sehari-hari, batas antara perilaku menyimpang dan perilaku biasa menjadi kabur.

Nora Dina Maulida menjelaskan bahwa remaja belajar dari apa yang mereka lihat. Ketika lingkungan memberi penguatan sosial berupa penerimaan kelompok, perilaku tersebut cenderung diulang.

Rasa Percaya Diri Rendah Jadi Pemicu

Penelitian ini juga menyoroti peran self-esteem atau harga diri. Remaja dengan rasa percaya diri rendah cenderung lebih mudah terpengaruh tekanan sosial. Alkohol digunakan sebagai cara cepat untuk merasa lebih berani, lebih percaya diri, atau untuk melupakan masalah pribadi.

Sebaliknya, remaja dengan dukungan keluarga yang baik dan rasa percaya diri yang lebih stabil terbukti lebih mampu menolak ajakan minum. Dukungan emosional dari orang tua menjadi faktor pelindung yang signifikan.

“Remaja dengan self-esteem rendah mencari pengakuan dari luar dirinya. Alkohol menjadi alat untuk mendapatkan penerimaan itu,” tulis Maulida dan tim dalam artikelnya.

Peran Keluarga dan Pengawasan yang Lemah

Kondisi keluarga juga menjadi faktor penting. Kurangnya pengawasan, komunikasi yang tidak harmonis, serta contoh negatif dari orang dewasa di sekitar remaja memperbesar risiko konsumsi alkohol.

Beberapa informan orang tua mengakui kesulitan memantau aktivitas anak karena kesibukan kerja. Dalam konteks masyarakat pesisir yang ritme kerjanya tidak menentu, kontrol sosial terhadap remaja menjadi lemah.

Padahal, menurut para peneliti, komunikasi terbuka dan pengawasan yang konsisten dapat menekan risiko perilaku menyimpang sejak dini.

Implikasi bagi Kebijakan dan Masyarakat

Temuan ini menegaskan bahwa konsumsi alkohol remaja adalah masalah multidimensi. Upaya pencegahan tidak cukup hanya dengan razia atau penegakan hukum terhadap penjual minuman keras.

Penelitian merekomendasikan beberapa langkah strategis:

  1. Keluarga meningkatkan komunikasi terbuka dan pengawasan aktif terhadap anak.
  2. Sekolah memperkuat edukasi bahaya alkohol melalui konseling dan pendidikan karakter.
  3. Tokoh masyarakat tidak lagi menormalisasi konsumsi alkohol dalam kegiatan sosial.
  4. Pemerintah daerah memperketat pengawasan distribusi minuman beralkohol serta menyediakan program pemberdayaan remaja berkelanjutan.

Jika tidak ditangani, perilaku ini berpotensi menghambat kualitas sumber daya manusia di tengah peluang bonus demografi. Sebaliknya, intervensi yang tepat dapat mengubah kelompok rentan menjadi generasi produktif.

Potensi Bonus Demografi yang Terancam

Panjang Baru memiliki jumlah remaja yang besar. Secara demografis, ini merupakan aset pembangunan. Namun tanpa pembinaan yang tepat, potensi tersebut bisa berubah menjadi beban sosial dan kesehatan di masa depan.

Konsumsi alkohol pada usia dini berkorelasi dengan risiko kecelakaan, kekerasan, hingga keterlibatan dalam tindak kriminal. Dalam jangka panjang, hal ini meningkatkan beban layanan kesehatan dan sosial.

Penelitian ini memperlihatkan bahwa perubahan harus dimulai dari ekosistem sosial terdekat remaja. Intervensi berbasis komunitas dinilai lebih efektif karena menyentuh langsung norma dan kebiasaan yang berkembang di lingkungan setempat.

Profil Penulis

Nora Dina Maulida, S.KM. adalah akademisi di Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Pekalongan. Ia meneliti isu kesehatan remaja dan perilaku berisiko berbasis komunitas.
Penelitian ini juga melibatkan Rr. Vita Nurlatif, S.KM., M.Kes., Wahyuningsih, S.KM., M.Kes., dan Imam Purnomo, S.KM., M.Kes., yang memiliki keahlian di bidang kesehatan masyarakat dan promosi kesehatan.

Sumber Penelitian

Maulida, N. D., Nurlatif, R. V., Wahyuningsih, & Purnomo, I. (2026). Qualitative Study of Alcohol Consumption Behavior among Adolescents in Panjang Baru Village, Pekalongan City. International Journal of Sustainable Applied Sciences, Vol. 4, No. 2, 111–120.

DOI/URL: https://dmimultitechpublisher.my.id/index.php/ijsas

https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i2.312

Posting Komentar

0 Komentar