Flores—
Bahasa Melayu Larantuka Punya Pola Bunyi Unik, Peneliti Petakan Proses
Morfofonemik di Flores Timur. Penelitian
dilakukan oleh Yosef Demon dan Veronika Genua dari Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Flores, serta Aurelius F. Mento
dari Politeknik Cristo Re Maumere yang dipublikasikan dalam Journal of
Educational Analytics (JEDA) Vol. 5 No. 1 (2026).
Penelitian
yang dilakukan oleh Yosef Demon dan Veronika Genua mengkaji fenomena
morfofonemik dalam Bahasa Melayu Larantuka (LM), sebuah bahasa kreol berbasis
Melayu yang dituturkan di Larantuka, Konga, Flores Timur, hingga sebagian
wilayah Adonara.
Bahasa
Bertipologi Vokalik
Salah satu
ciri utama Melayu Larantuka adalah sifatnya yang “vokalik”. Artinya, sebagian
besar kata berakhir dengan bunyi vokal, bukan konsonan. Karakter ini
memengaruhi banyak perubahan bunyi dalam bahasa tersebut (hlm. 90–93).
Contohnya:
- masak menjadi masa?
- keluar menjadi kelua?
- lepas menjadi lepa?
Pada Tabel 1
(hlm. 93) dijelaskan bahwa konsonan akhir kata secara konsisten dihilangkan dan
digantikan dengan vokal pendek yang sering diakhiri hentian glotal /?/.
Delapan
Pola Morfofonemik Utama
Melalui
metode deskriptif kualitatif dengan teknik simak, rekam, dan catat, peneliti
mengidentifikasi sejumlah pola morfofonemik dominan (hlm. 94–104).
1️⃣ Penghilangan Konsonan Akhir
Konsonan di
akhir kata sering dihapus:
- rambut → rambo?
- tidur → tido?
Penghilangan
ini sering memicu perubahan vokal, terutama /u/ menjadi /o/.
2️⃣ Penghilangan Konsonan Awal
Bunyi /h/ di
awal kata kerap dihilangkan:
- hati → ati
- hampa → ampa
Karena /h/
merupakan konsonan frikatif tak bersuara, bunyi ini rentan hilang dalam sistem
fonologi LM (hlm. 92–94).
3️⃣ Perubahan Vokal (/u/ → /o/, /i/ →
/e/, /a/ → /ə/)
Setelah
konsonan akhir hilang, vokal sering mengalami pergeseran:
- perut → pero?
- rintik → rinte?
- putih → pute?
Tabel 2 dan 3
(hlm. 95–96) menunjukkan bahwa perubahan ini terjadi karena vokal-vokal
tersebut memiliki ciri fonologis yang serupa, seperti sama-sama vokal belakang
atau vokal depan tak membulat.
4️⃣ Nasalisasi Vokal Akhir
Dalam
beberapa kasus, vokal akhir berubah menjadi bunyi sengau:
- makan → makã
- ikan → ikã
- hidung → idõ
Fenomena ini
merupakan hasil penghilangan konsonan akhir yang diikuti penyesuaian fonologis
lokal (hlm. 98–99).
5️⃣ Pergantian Konsonan
Beberapa
konsonan berubah sebelum akhirnya hilang:
- satu → hatu → atu
- sana → hana → ana
Perubahan /s/
menjadi /h/ terjadi karena keduanya sama-sama konsonan frikatif tak bersuara
(hlm. 100–101).
6️⃣ Kontraksi dan Pemendekan
Dalam
percakapan sehari-hari, frasa sering dipendekkan:
- tadi malam → tǝmala
- pagi hari → pǝgari
- dini hari → dǝnari
- tidak ada → tǝrada
Bentuk-bentuk
ini muncul melalui proses penghilangan suku kata, perubahan vokal, dan kadang
penyisipan bunyi /r/ (hlm. 101–104).
7️⃣ Monoftongisasi
Diftong
disederhanakan menjadi vokal tunggal:
- bagaimana → begǝna
- sungai → sunge
- pantai → pante
- pulau → pulo
Proses ini
mempermudah pelafalan dan menunjukkan adaptasi fonologis khas LM (hlm. 104–105).
Penting
bagi Dokumentasi Bahasa Daerah
Penelitian
ini menegaskan bahwa perubahan bunyi dalam Melayu Larantuka tidak terjadi
secara acak, melainkan mengikuti pola fonologis yang konsisten.
Studi ini
berkontribusi pada:
- Dokumentasi bahasa daerah
- Kajian linguistik Austronesia
- Studi bahasa kreol
- Pengembangan materi pembelajaran
bahasa lokal
Di tengah
dominasi Bahasa Indonesia, pemetaan sistem bunyi LM menjadi langkah penting
dalam pelestarian bahasa lokal Flores Timur.
Rekomendasi
Penelitian Lanjutan
Penulis
mendorong penelitian lanjutan dengan pendekatan teoretis yang lebih mendalam,
seperti fonologi berbasis aturan atau Optimality Theory (hlm. 106).
Selain itu,
diperlukan:
- Studi perbandingan dengan
varietas Melayu Indonesia Timur lainnya
- Kajian sosiolinguistik antar
generasi
- Analisis fonetik akustik untuk
memperkuat bukti empiris
Pendekatan
multidisipliner ini diharapkan memperkaya dokumentasi dan pemahaman terhadap
Bahasa Melayu Larantuka.
Profil
Penulis
- Yosef
Demon_Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Flores
- Veronika
Genua_Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Flores
- Aurelius
F. Mento_Politeknik
Cristo Re Maumere
Sumber
Penelitian
Demon, Y., Genua, V., & Mento, A. F. (2026).Morphophonemic Phenomenon in Larantuka Malay Language East Flores District, Indonesia. Journal of Educational Analytics (JEDA), Vol. 5 No. 1, pp. 89–108.
DOI: https://doi.org/10.55927/jeda.v5i1.613
URL : https://nblformosapublisher.org/index.php/jeda

0 Komentar