Pekalongan- ASI Eksklusif dan Sanitasi Buruk Jadi
Faktor Risiko Utama Stunting di Batang. Penelitian terbaru dari Wika Indriyani,
Ardiana Priharwanti, Jaya Maulana, dan Choiroel Anwar dari Program Studi
Kesehatan Masyarakat, Universitas Pekalongan yang dipublikasikan dalam International
Journal of Education and Life Sciences (IJELS) Vol. 4 No. 2 (Februari 2026).
Penelitian terbaru dari Wika Indriyani, Ardiana Priharwanti, Jaya Maulana, dan Choiroel Anwar dari Program Studi Kesehatan Masyarakat, Universitas Pekalongan, mengidentifikasi empat faktor risiko utama stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kandeman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak mendapatkan ASI eksklusif, pemberian MP-ASI yang tidak tepat, imunisasi tidak lengkap, serta sanitasi lingkungan yang buruk secara signifikan meningkatkan risiko stunting.
Batang Masuk Sepuluh Besar Kasus
Tertinggi di Jawa Tengah
Secara nasional, prevalensi stunting
Indonesia pada 2022 tercatat 21,6 persen—turun dari tahun sebelumnya, namun
masih di atas standar WHO (<20%) dan target RPJMN 2024 sebesar 14 persen.
Di tingkat daerah, Batang sempat
mencatat angka 16,71 persen pada 2020, kemudian turun menjadi 13,56 persen pada
2022. Namun berdasarkan data SSGI, Batang tetap masuk sepuluh besar kasus
tertinggi di Jawa Tengah. Pada Januari 2025, Puskesmas Kandeman mencatat 525
balita stunting—tertinggi kedua setelah Puskesmas Bawang (543 kasus).
Lonjakan ini mendorong penelitian untuk mengidentifikasi faktor risiko spesifik di tingkat layanan kesehatan primer.
Studi Kasus-Kontrol terhadap 88 Balita
Penelitian menggunakan desain
observasional analitik dengan pendekatan case-control. Sebanyak 88 responden
dilibatkan, terdiri dari:
- 44
balita stunting (kasus)
- 44
balita non-stunting (kontrol)
Variabel yang dianalisis meliputi:
- ASI
eksklusif
- Ketepatan
pemberian MP-ASI
- Status
imunisasi dasar
- Kondisi
sanitasi lingkungan
Analisis dilakukan menggunakan uji
Chi-Square dengan tingkat signifikansi 5 persen.
Balita Tanpa ASI Eksklusif 7 Kali
Lebih Berisiko
Hasil analisis pada Tabel 1 (halaman
144) menunjukkan:
- 68,2%
balita stunting tidak mendapat ASI eksklusif
- p-value
= 0,000
- OR =
7,286
- CI =
2,822–18,810
Artinya, balita yang tidak menerima
ASI eksklusif memiliki risiko 7,2 kali lebih tinggi mengalami stunting
dibandingkan yang mendapat ASI eksklusif.
ASI eksklusif selama enam bulan pertama terbukti memberikan perlindungan imunologis dan nutrisi optimal pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan.
MP-ASI Tidak Tepat Tingkatkan Risiko
3,4 Kali
Tabel 2 (halaman 145) menunjukkan:
- 63,6%
balita stunting menerima MP-ASI tidak tepat
- p-value
= 0,006
- OR =
3,383
- CI =
1,410–8,117
MP-ASI yang diberikan terlalu dini,
terlambat, atau tidak memenuhi kebutuhan protein dan energi berkontribusi pada
gangguan pertumbuhan linear anak.
WHO merekomendasikan MP-ASI dimulai pada usia enam bulan dengan kualitas dan kuantitas yang memadai.
Imunisasi Tidak Lengkap dan Sanitasi
Buruk Juga Berisiko Tinggi
Tabel 3 (halaman 145) menunjukkan:
- 61,4%
balita stunting memiliki imunisasi tidak lengkap
- p-value
= 0,000
- OR =
3,383
Balita dengan imunisasi tidak lengkap
memiliki risiko 3,3 kali lebih tinggi mengalami stunting karena rentan terhadap
infeksi berulang.
Sementara itu, Tabel 4 (halaman 146)
menunjukkan:
- 68,2%
balita stunting tinggal di lingkungan sanitasi buruk
- p-value
= 0,000
- OR =
7,286
Sanitasi buruk meningkatkan risiko
paparan patogen yang memicu infeksi saluran cerna berulang dan gangguan
penyerapan nutrisi (Environmental Enteric Dysfunction).
Stunting Masalah Multifaktorial
Penelitian ini menegaskan bahwa
stunting bukan hanya persoalan asupan gizi, tetapi juga perlindungan kesehatan
dan lingkungan.
Kombinasi antara:
- Praktik
pemberian makan yang kurang tepat
- Kurangnya
imunisasi
- Sanitasi
rumah tangga yang tidak memadai
menjadi faktor determinan yang saling memperkuat.
Rekomendasi untuk Intervensi Terpadu
Peneliti merekomendasikan:
- Penguatan
edukasi ASI eksklusif dan MP-ASI melalui kelas ibu hamil dan posyandu.
- Peningkatan
cakupan imunisasi dasar lengkap melalui sweeping dan layanan rutin.
- Perbaikan
akses air bersih dan sanitasi rumah tangga.
- Pendampingan
keluarga berisiko di wilayah prioritas.
Intervensi gizi saja tidak cukup tanpa
perbaikan lingkungan dan perlindungan kesehatan.
Kesimpulan
ASI eksklusif, pemberian MP-ASI yang
tepat, imunisasi lengkap, dan sanitasi lingkungan yang baik terbukti menjadi
faktor protektif terhadap stunting.
Sebaliknya, balita tanpa ASI eksklusif
dan yang tinggal di lingkungan sanitasi buruk memiliki risiko tertinggi
mengalami stunting.
Pendekatan terpadu berbasis 1.000 Hari Pertama Kehidupan menjadi kunci menurunkan angka stunting di tingkat puskesmas.
Profil Penulis
- Wika
IndriyaniUniversitas
Pekalongan
- Ardiana
PriharwantiUniversitas
Pekalongan
- Jaya
MaulanaUniversitas
Pekalongan
- Choiroel AnwarUniversitas Pekalongan
Sumber Penelitian
Indriyani, W., Priharwanti, A., Maulana, J., & Anwar, C. (2026). Risk Factors of Stunting Among Toddlers in the Working Area of Kandeman Community Health Center, Batang Regency. International Journal of Education and Life Sciences (IJELS), Vol. 4 No. 2, 139–150.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijels.v4i2.273
URL: https://ntlmultitechpublisher.my.id/index.php/ijels

0 Komentar