Dimorfisme Seksual Bergantung Genotipe pada Kinerja Pertumbuhan, Efisiensi Pakan, dan Kelangsungan Hidup Ayam Dwiguna dan Ayam Petelur di Bawah Sistem Produksi Tropis


FORMOSA NEWS-Nigeria

Penelitian University of Abuja Ungkap Perbedaan Pertumbuhan Ayam Jantan dan Betina di Iklim Tropis

Penelitian terbaru dari University of Abuja, Nigeria, menunjukkan bahwa jenis kelamin ayam memiliki pengaruh besar terhadap pertumbuhan, efisiensi pakan, dan tingkat kelangsungan hidup dalam sistem produksi unggas tropis. Studi yang dilakukan oleh Ahmed E. Jubril dan J.O. Alagbe ini membandingkan performa tiga strain ayam populer—Noiler, Aco Black, dan Isa Brown—selama delapan minggu pertama pemeliharaan.

Hasil penelitian mengungkap pola yang jelas: ayam jantan tumbuh lebih cepat dan lebih efisien dalam memanfaatkan pakan, tetapi memiliki risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan ayam betina. Temuan ini penting bagi peternak di wilayah tropis karena dapat membantu menentukan strategi pemeliharaan yang lebih efektif untuk meningkatkan produktivitas dan keuntungan usaha unggas.

Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS).


Pentingnya Produksi Unggas bagi Ketahanan Pangan

Industri unggas merupakan salah satu sumber utama protein hewani di dunia. Ayam menyediakan daging dan telur yang relatif terjangkau serta mudah diproduksi dalam berbagai kondisi lingkungan.

Di negara tropis seperti Nigeria, sektor ini juga berperan besar dalam mendukung pendapatan rumah tangga, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan gizi masyarakat. Namun, produktivitas unggas di daerah tropis sering menghadapi tantangan seperti suhu tinggi, penyakit, dan tekanan lingkungan lainnya.

Perbedaan biologis antara ayam jantan dan betina—yang dikenal sebagai sexual dimorphism—diketahui memengaruhi pola pertumbuhan dan efisiensi produksi. Meski demikian, penelitian yang secara langsung membandingkan perbedaan tersebut pada berbagai strain ayam di kondisi tropis masih relatif terbatas.


Membandingkan Tiga Strain Ayam Populer

Penelitian dilakukan di peternakan penelitian milik University of Abuja yang berada di zona savana Guinea di Nigeria. Wilayah ini memiliki suhu rata-rata 26–30°C dengan kelembapan sekitar 60–70 persen, kondisi yang mewakili sistem produksi unggas di banyak daerah tropis.

Tim peneliti memelihara 360 anak ayam umur sehari yang terdiri dari:

-120 ayam Noiler

-120 ayam Aco Black

-120 ayam Isa Brown

Setiap strain terdiri dari 60 jantan dan 60 betina. Ayam dipelihara selama delapan minggu dengan manajemen pakan dan kesehatan standar.

Para peneliti kemudian mengukur berbagai indikator produksi, antara lain:

-bobot badan mingguan

-pertambahan berat badan

-konsumsi pakan

-rasio konversi pakan (feed conversion ratio/FCR)

-tingkat kematian dan kelangsungan hidup

Data tersebut dianalisis secara statistik untuk melihat pengaruh strain dan jenis kelamin terhadap performa ayam.


Ayam Jantan Tumbuh Lebih Cepat

Hasil penelitian menunjukkan pola yang konsisten pada ketiga strain: ayam jantan selalu memiliki bobot badan lebih tinggi dibandingkan ayam betina.

Strain Noiler jantan menunjukkan pertumbuhan paling cepat. Pada usia delapan minggu, berat rata-rata mencapai sekitar 1.201 gram, tertinggi di antara semua kelompok yang diuji.

Sebaliknya, Isa Brown betina mencatat pertumbuhan paling lambat dengan berat akhir sekitar 697 gram.

Strain Aco Black berada di posisi tengah, dengan pertumbuhan moderat. Ayam jantan Aco Black mencapai sekitar 916 gram pada akhir periode penelitian.

Perbedaan pertumbuhan antara jantan dan betina semakin terlihat seiring bertambahnya usia ayam.


Efisiensi Pakan dan Tingkat Kematian

Selain pertumbuhan, penelitian juga menemukan perbedaan besar dalam efisiensi penggunaan pakan.

Ayam Noiler jantan menunjukkan rasio konversi pakan terbaik dengan nilai sekitar 2,31, yang berarti ayam hanya membutuhkan sekitar 2,31 kilogram pakan untuk menghasilkan 1 kilogram pertambahan berat badan.

Namun keunggulan ini memiliki konsekuensi. Strain yang tumbuh paling cepat ternyata juga memiliki tingkat kematian tertinggi.

Dalam penelitian ini:

-Noiler jantan mengalami kematian hingga 50 persen

-Aco Black memiliki tingkat kelangsungan hidup hingga 96–100 persen

-Isa Brown menunjukkan tingkat kelangsungan hidup tertinggi, mencapai 100 persen pada jantan

Dengan kata lain, semakin cepat ayam tumbuh, semakin besar risiko tekanan metabolik dan kematian.


Betina Lebih Tahan Terhadap Tekanan Lingkungan

Temuan menarik lainnya adalah ketahanan ayam betina yang lebih tinggi terhadap kondisi lingkungan.

Pada beberapa strain, kematian ayam betina hampir tidak ditemukan selama periode penelitian. Para peneliti menduga hormon estrogen dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga ayam betina lebih tahan terhadap stres dan penyakit.

Sebaliknya, ayam jantan memiliki kebutuhan metabolisme yang lebih tinggi karena pertumbuhan otot yang lebih cepat. Hal ini membuat mereka lebih rentan terhadap tekanan panas dan penyakit, terutama di iklim tropis.


Implikasi bagi Peternak

Menurut Ahmed E. Jubril dari University of Abuja, temuan ini menunjukkan bahwa strategi produksi unggas di wilayah tropis sebaiknya mempertimbangkan kombinasi strain ayam dan jenis kelamin.

Beberapa implikasi praktis dari penelitian ini antara lain:

-Noiler jantan cocok untuk produksi daging cepat, tetapi memerlukan manajemen kesehatan dan lingkungan yang lebih ketat.

-Isa Brown lebih cocok untuk produksi telur karena tingkat kelangsungan hidup tinggi dan kebutuhan pakan lebih rendah.

-Aco Black menawarkan keseimbangan antara pertumbuhan dan ketahanan, sehingga berpotensi menjadi pilihan bagi peternakan skala kecil.

Pendekatan manajemen yang mempertimbangkan jenis kelamin ayam juga dapat membantu peternak mengoptimalkan penggunaan pakan, menentukan waktu panen, serta mengurangi kerugian akibat kematian.


Menuju Sistem Produksi Unggas yang Lebih Efisien

Penelitian ini menegaskan bahwa faktor biologis seperti jenis kelamin tidak dapat diabaikan dalam sistem produksi unggas modern. Dengan memahami perbedaan pertumbuhan antara jantan dan betina, peternak dapat membuat keputusan yang lebih tepat dalam memilih strain ayam, mengatur pakan, dan merancang strategi pemeliharaan.

Bagi negara tropis yang bergantung pada sektor unggas sebagai sumber protein murah, informasi semacam ini sangat penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan produksi.


Profil Penulis

Ahmed E. Jubril adalah peneliti dari University of Abuja, Nigeria. Ia menekuni bidang ilmu peternakan, khususnya genetika unggas, performa produksi, dan manajemen ternak di lingkungan tropis.

J.O. Alagbe merupakan akademisi yang juga berfokus pada nutrisi ternak, produktivitas unggas, serta sistem produksi ternak berkelanjutan di wilayah tropis.


Sumber Penelitian

Jubril, A. E., & Alagbe, J. O. (2023).
“Genotype-Dependent Sexual Dimorphism in Growth Performance, Feed Efficiency, and Survivability of Dual-Purpose and Layer Chickens Under Tropical Production Systems.”

Dipublikasikan dalam International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS), Vol. 4 No. 2, halaman 233–240.

DOI: https://doi.org/10.59890/ijatss.v4i2.190

https://aprmultitechpublisher.my.id/index.php/ijatss/index

Posting Komentar

0 Komentar