Penelitian yang dilakukan oleh Nella Mariana Panjaitan dari Universitas Kristen Indonesia menyoroti bahwa Gagasannya dinilai penting di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk dan rentan terhadap polarisasi berbasis identitas.
- Menjaga jarak psikologis antar kelompok - tidak ada konflik terbuka, tetapi juga tidak ada relasi mendalam.
- Memisahkan iman dari realitas sosial - agama dianggap urusan pribadi, bukan sumber tanggung jawab sosial.
- Menciptakan “damai semu” - toleran secara formal, tetapi rapuh saat menghadapi perbedaan nyata.
Sebagai alternatif, penelitian ini mengusulkan pendekatan interkultural. Interkulturalitas tidak hanya mengakui keberagaman, tetapi mendorong perjumpaan yang membentuk cara orang memahami diri, sesama, dan Tuhan. Dalam konteks pendidikan, siswa diajak berdialog, berbagi pengalaman, serta mendengarkan cerita dari latar belakang yang berbeda. Iman tidak lagi berhenti pada hafalan doktrin, melainkan berkembang melalui refleksi dan relasi. Perjumpaan dengan realitas ketidakadilan, diskriminasi, atau penderitaan kelompok lain juga membentuk empati. Iman bergerak dari ranah kognitif ke komitmen etis membela martabat manusia dan membangun perdamaian.
Teologi sebagai Fondasi Martabat dan Keadilan
Pendekatan ini berakar pada teologi Kristen yang menegaskan bahwa setiap manusia diciptakan menurut gambar Allah dan memiliki martabat yang setara. Perbedaan agama dan budaya bukan ancaman, melainkan bagian dari kekayaan ciptaan. Teologi, dalam model ini, tidak berfungsi sebagai tembok eksklusif, tetapi sebagai dasar untuk membangun kasih, rekonsiliasi, dan keadilan sosial. Gereja dan lembaga pendidikan dipanggil untuk berkontribusi dalam dialog lintas iman serta kerja sama sosial demi kebaikan bersama. Dengan demikian, Pendidikan Agama Kristen diposisikan bukan sekadar pelajaran agama, melainkan ruang pembentukan peradaban yang harmonis.
Etika Komunikasi: Kunci Dialog yang Sehat
Elemen penting lainnya adalah etika komunikasi. Tanpa panduan etis, dialog bisa berubah menjadi perdebatan yang melukai.
Model ini menekankan beberapa prinsip
komunikasi:
- Berbicara
dengan jujur dan hormat.
- Mendengar
secara empatik.
- Menghindari
stereotip.
- Mengelola
perbedaan secara konstruktif.
Guru tidak lagi menjadi pengendali
wacana tunggal, melainkan fasilitator dialog. Kelas agama menjadi ruang aman
untuk bertanya, berbeda pendapat, dan berefleksi tanpa rasa takut.
Profil Penulis
Nella Mariana Panjaitan adalah
akademisi dari Universitas Kristen Indonesia yang menekuni bidang Pendidikan
Agama Kristen, teologi kontekstual, dan dialog interkultural. Ia aktif mengkaji
integrasi antara teologi, pendidikan, dan etika komunikasi dalam konteks
masyarakat majemuk Indonesia.
Sumber Penelitian
Panjaitan, Nella Mariana. 2026. From
Tolerance to Transformation: An Intercultural Approach to Christian Education
through Theology and Communication Ethics. Indonesian Journal of Christian
Education and Theology (IJCET), Vol. 5 No. 1, Februari 2026, hlm. 49–56.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijcet.v5i1.6
URL: https://journalijcet.my.id/index.php/ijcet/index

0 Komentar