Biaya Kualitas Tentukan Produktivitas PT Rumah Jelantah Surabaya

Illustration by AI

FORMOSA NEWS - Surabaya - Produktivitas operasional di industri pengolahan limbah minyak jelantah ternyata sangat dipengaruhi oleh cara perusahaan mengelola biaya kualitas. Temuan ini dipaparkan oleh Imam Rulyadi bersama tim dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dalam riset yang terbit di Asian Journal of Applied Business and Management (AJABM) Vol. 5 No. 1 Tahun 2026. Studi ini meneliti PT Rumah Jelantah Surabaya selama periode satu tahun dan menunjukkan bahwa biaya pencegahan, biaya penilaian, serta biaya kegagalan internal berpengaruh signifikan terhadap produktivitas operasional perusahaan

Hasil penelitian ini penting karena PT Rumah Jelantah Surabaya bergerak di sektor daur ulang minyak jelantah menjadi bahan bernilai tambah seperti bahan baku biodiesel. Industri ini menghadapi tantangan kualitas bahan baku yang tidak stabil. Jika kualitas awal buruk dan pengendalian tidak ketat, mesin mudah tersumbat, produk harus diolah ulang, dan biaya membengkak. Semua itu berdampak langsung pada turunnya produktivitas.

Mengapa Biaya Kualitas Jadi Penentu?

Dalam manajemen akuntansi, biaya kualitas dibagi menjadi empat kategori: biaya pencegahan (prevention cost), biaya penilaian (appraisal cost), biaya kegagalan internal (internal failure cost), dan biaya kegagalan eksternal. Penelitian ini fokus pada tiga komponen pertama karena berhubungan langsung dengan proses produksi sebelum produk dikirim ke konsumen.

Secara sederhana:

  • Biaya pencegahan mencakup pelatihan karyawan, perawatan mesin, dan perencanaan kualitas.
  • Biaya penilaian mencakup inspeksi bahan baku, pengujian laboratorium, dan audit mutu.
  • Biaya kegagalan internal muncul akibat produk cacat sebelum dikirim, seperti scrap, rework, dan downtime mesin.

Produktivitas operasional diukur sebagai rasio output terhadap input dalam periode tertentu.

Metode: Analisis Data 12 Bulan Produksi

Tim peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausal. Data diambil dari laporan keuangan dan laporan produksi internal perusahaan selama 12 bulan. Analisis dilakukan menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan SPSS versi 27

Berbagai uji statistik dilakukan, termasuk:

  • Uji validitas dan reliabilitas
  • Uji asumsi klasik (normalitas, multikolinearitas, autokorelasi, heteroskedastisitas)
  • Uji t (parsial)
  • Uji F (simultan)
  • Koefisien determinasi

Hasilnya menunjukkan model regresi sangat kuat, dengan Adjusted R Square sebesar 0,998. Artinya, 99,8% variasi produktivitas operasional dijelaskan oleh ketiga komponen biaya kualitas tersebut

Temuan Utama: Semua Biaya Berpengaruh Signifikan

Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan penting:

1. Biaya Pencegahan Berpengaruh Signifikan

Biaya pencegahan terbukti berpengaruh signifikan terhadap produktivitas operasional (nilai signifikansi 0,009)

Artinya, investasi pada pelatihan dan perawatan mesin bukan sekadar beban biaya, melainkan fondasi efisiensi jangka panjang. Tanpa pencegahan yang kuat, perusahaan akan terjebak pada perbaikan berulang yang mahal.

2. Biaya Penilaian Juga Signifikan

Biaya penilaian memiliki pengaruh signifikan (signifikansi 0,004)

Inspeksi bahan baku dan pengujian laboratorium berfungsi sebagai “filter kualitas”. Tanpa kontrol yang ketat, bahan baku berkualitas rendah masuk ke proses produksi dan menyebabkan pemborosan.

3. Biaya Kegagalan Internal Jadi Musuh Produktivitas

Biaya kegagalan internal menunjukkan pengaruh paling kuat dengan signifikansi 0,003

Semakin tinggi biaya scrap, rework, dan downtime, semakin besar penurunan produktivitas. Setiap jam mesin berhenti adalah kehilangan output.

4. Ketiganya Berpengaruh Secara Bersama

Uji simultan (F) menghasilkan nilai signifikansi 0,000, menunjukkan ketiga variabel secara bersama-sama memengaruhi produktivitas secara signifikan

Implikasi untuk Dunia Industri

Temuan ini memberikan pesan kuat bagi pelaku industri manufaktur, khususnya sektor daur ulang dan pengolahan limbah:

  • Jangan memangkas anggaran pelatihan dan maintenance.
  • Perkuat inspeksi bahan baku sejak awal.
  • Lakukan evaluasi rutin penyebab scrap dan rework.
  • Terapkan manajemen kualitas terpadu (Total Quality Management).

Menurut Imam Rulyadi dan tim dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, kualitas tidak bisa dikelola secara terpisah. Pencegahan, penilaian, dan pengendalian kegagalan harus berjalan sebagai satu sistem terintegrasi

Dalam konteks industri berbasis ekonomi sirkular seperti pengolahan minyak jelantah, efisiensi menjadi kunci keberlanjutan bisnis. Margin keuntungan relatif tipis, sehingga kebocoran biaya akibat kegagalan internal dapat langsung menggerus profit.

Rekomendasi Penelitian Lanjutan

Peneliti menyarankan beberapa langkah untuk studi berikutnya:

  • Menambahkan variabel biaya kegagalan eksternal.
  • Memperpanjang periode observasi hingga 3–5 tahun.
  • Membandingkan lintas industri untuk memperoleh generalisasi lebih luas

Profil Penulis

Imam Rulyadi
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.
Bidang keahlian: akuntansi manajemen, pengendalian biaya, dan manajemen kualitas.

Penelitian ini juga melibatkan:
Yulika Wahyu, Eko Riswanto, Naufal, Shodik, Ravi Hilal, Maria Yovita R. Pandin, dan Hwihanus, seluruhnya dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Sumber Penelitian

Rulyadi, I., Wahyu, Y., Riswanto, E., Naufal, Shodik, Hilal, R., Pandin, M. Y. R., & Hwihanus. (2026). The Effect of Prevention Costs, Appraisal Costs, and Internal Failure Costs on the Operational Productivity of Manufacturing Companies at PT. Rumah Jelantah Surabaya. Asian Journal of Applied Business and Management (AJABM), Vol. 5 No. 1, 345–358.

Posting Komentar

0 Komentar