Benteng Moraya Jadi Media Pembelajaran Sejarah Abad ke-21, Studi UNY Soroti Potensi Edukasi Situs Sejarah

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Yogyakarta - Situs bersejarah Fort Moraya dinilai memiliki potensi besar sebagai media pembelajaran sejarah berbasis lokasi pada era pendidikan abad ke-21. Temuan ini disampaikan oleh Nedia Lestari Sihombing dan Miftahuddin dari Universitas Negeri Yogyakarta dalam penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 di jurnal Indonesian Journal of Advanced Research.

Penelitian tersebut menyoroti bagaimana situs sejarah lokal tidak hanya berfungsi sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan pendidikan modern. Dengan pendekatan pembelajaran berbasis situs, siswa dapat memahami sejarah secara lebih kontekstual, visual, dan bermakna.

Studi ini menegaskan bahwa pemanfaatan situs sejarah seperti Benteng Moraya dapat membantu menghidupkan kembali narasi perjuangan masyarakat Minahasa serta meningkatkan minat generasi muda terhadap pembelajaran sejarah.

Jejak Perjuangan Minahasa yang Terlupakan

Benteng Moraya terletak di Tondano, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara. Situs ini merupakan salah satu saksi penting perjuangan masyarakat Minahasa dalam mempertahankan wilayahnya pada masa kolonial.

Namun, seperti banyak situs sejarah lokal lainnya di Indonesia, keberadaan Benteng Moraya belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran yang optimal. Banyak siswa hanya mengenal sejarah melalui buku teks tanpa melihat langsung bukti fisik dari peristiwa yang dipelajari.

Menurut peneliti, kondisi ini membuat pembelajaran sejarah sering terasa abstrak dan kurang menarik bagi peserta didik.

Melalui penelitian ini, Nedia Lestari Sihombing dan Miftahuddin menyoroti pentingnya mengintegrasikan situs sejarah lokal ke dalam proses pembelajaran agar sejarah tidak hanya dipahami sebagai cerita masa lalu, tetapi juga sebagai pengalaman belajar yang nyata.

Pendekatan Pembelajaran Berbasis Situs

Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui studi literatur, analisis sejarah, serta kajian terhadap potensi edukatif situs Benteng Moraya. Peneliti menelaah berbagai sumber sejarah, dokumentasi situs, serta konsep pembelajaran sejarah modern yang menekankan pengalaman langsung.

Pendekatan ini dikenal sebagai site-based learning atau pembelajaran berbasis lokasi. Metode tersebut mendorong siswa untuk belajar langsung di lingkungan yang memiliki nilai historis.

Dalam konteks pendidikan abad ke-21, metode ini dianggap lebih efektif karena menggabungkan pengalaman visual, pemahaman kontekstual, serta keterlibatan aktif siswa.

Alih-alih hanya membaca peristiwa sejarah, siswa dapat mengamati langsung struktur benteng, memahami strategi pertahanan masa lalu, serta mengaitkan cerita sejarah dengan ruang fisik yang nyata.

Temuan Utama Penelitian

Penelitian ini mengidentifikasi beberapa potensi utama Benteng Moraya sebagai media pembelajaran sejarah.

Sumber Belajar Kontekstual
Benteng Moraya menyediakan bukti fisik yang dapat membantu siswa memahami peristiwa sejarah secara lebih konkret.

Penguatan Identitas Lokal
Pembelajaran sejarah berbasis situs lokal dapat memperkuat identitas budaya dan kebanggaan terhadap sejarah daerah.

Meningkatkan Minat Belajar Sejarah
Kunjungan langsung ke situs sejarah terbukti dapat membuat pembelajaran lebih menarik dibandingkan metode ceramah di kelas.

Integrasi dengan Kurikulum Abad ke-21
Pendekatan ini sejalan dengan model pendidikan modern yang menekankan keterampilan berpikir kritis, observasi, dan analisis.

Menurut para peneliti, situs sejarah seperti Benteng Moraya memiliki nilai edukatif yang sangat besar jika dikembangkan secara sistematis dalam kegiatan pembelajaran.

Relevansi dengan Pendidikan Modern

Di era digital saat ini, akses terhadap informasi sejarah semakin luas melalui internet, arsip digital, dan media sosial. Namun, penelitian ini menegaskan bahwa pengalaman belajar langsung tetap memiliki peran penting.

Belajar sejarah di lokasi aslinya dapat membantu siswa memahami konteks ruang dan waktu dari peristiwa yang dipelajari.

Selain itu, pendekatan ini juga membuka peluang pengembangan wisata edukasi berbasis sejarah yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat lokal.

Jika dikelola dengan baik, situs seperti Benteng Moraya tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai laboratorium pendidikan terbuka bagi siswa, mahasiswa, dan peneliti.

Potensi bagi Pariwisata dan Pendidikan

Pemanfaatan situs sejarah sebagai media pembelajaran juga memiliki dampak yang lebih luas.

Pertama, pendekatan ini dapat mendukung pengembangan wisata edukasi sejarah di daerah. Kedua, keterlibatan siswa dan masyarakat dalam kegiatan pembelajaran di situs sejarah dapat meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pelestarian warisan budaya.

Peneliti menilai kolaborasi antara sekolah, pemerintah daerah, dan pengelola situs menjadi kunci untuk memaksimalkan potensi ini.

Dengan dukungan kebijakan yang tepat, Benteng Moraya dapat menjadi contoh bagaimana situs sejarah lokal dapat diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan modern.

Profil Penulis

Nedia Lestari Sihombing merupakan peneliti dan mahasiswa di Universitas Negeri Yogyakarta yang memiliki minat pada bidang pendidikan sejarah, sejarah lokal, dan pengembangan media pembelajaran berbasis situs sejarah.

Penelitian ini juga melibatkan Miftahuddin, akademisi dari Universitas Negeri Yogyakarta yang dikenal aktif dalam kajian sejarah dan pendidikan sejarah di Indonesia.

Keduanya berfokus pada upaya menghubungkan warisan sejarah lokal dengan inovasi metode pembelajaran modern.

Sumber Penelitian

Sihombing, Nedia Lestari & Miftahuddin. 2026.
“Fort Moraya as an Educational Medium: Revitalizing History in Twenty-First-Century Learning.”
Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR), Vol. 5 No. 3, halaman 273–286.

Posting Komentar

0 Komentar