Akuisisi Tak Ubah Kinerja Keuangan Perusahaan TMT di Bursa 2019–2022
Akuisisi yang marak terjadi di sektor teknologi, media, dan telekomunikasi (TMT) ternyata belum berdampak signifikan pada kinerja keuangan perusahaan dalam jangka pendek. Temuan ini dipublikasikan tahun 2026 oleh Rahmadani Fitri dan Richad Alamsyah, dosen Program Studi Akuntansi di Institut Bisnis dan Informatika Kesatuan, dalam jurnal internasional International Journal of Advanced Technology and Social Sciences.
Penelitian ini menganalisis perbandingan profitabilitas, likuiditas, dan struktur modal perusahaan TMT yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2019–2022, sebelum dan sesudah melakukan akuisisi. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar rasio keuangan tidak mengalami perubahan signifikan setelah aksi korporasi tersebut.
Akuisisi Marak, Dampaknya Belum Terlihat
Dalam satu dekade terakhir, transaksi merger dan akuisisi (M&A) global mencapai rekor tertinggi pada 2021. Laporan PwC mencatat nilai transaksi global menembus US$5,1 triliun pada tahun tersebut. Di Indonesia, sektor TMT menjadi salah satu yang paling aktif melakukan akuisisi.
Akuisisi kerap dipandang sebagai strategi pertumbuhan eksternal untuk memperluas pasar, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat posisi kompetitif. Teori sinergi menyebutkan bahwa dua perusahaan yang bergabung dapat menghasilkan nilai lebih besar dibandingkan jika berjalan sendiri.
Namun, apakah strategi tersebut langsung memperbaiki kinerja keuangan? Itulah pertanyaan utama yang dijawab dalam riset ini.
Metode: Bandingkan Sebelum dan Sesudah Akuisisi
Penelitian mencakup 30 perusahaan sektor TMT yang melakukan akuisisi pada periode pengamatan 2019–2022. Data diambil dari laporan keuangan tahunan resmi perusahaan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia.
Peneliti membandingkan rasio keuangan sebelum dan sesudah akuisisi, meliputi:
Profitabilitas
-Return on Assets (ROA)
-Return on Equity (ROE)
-Net Profit Margin (NPM)
Likuiditas
-Current Ratio (CR)
-Quick Ratio (QR)
-Cash Ratio
Struktur Modal
-Debt to Asset Ratio (DAR)
-Debt to Equity Ratio (DER)
-Equity to Asset Ratio (EAR)
Analisis dilakukan menggunakan uji statistik komparatif untuk melihat apakah terdapat perbedaan signifikan antarperiode.
Hasil Utama: Tidak Ada Perubahan Signifikan
Secara umum, nilai rasio keuangan memang mengalami perubahan setelah akuisisi. Namun, perubahan tersebut tidak signifikan secara statistik.
Temuan rinci penelitian:
Profitabilitas
-ROA dan ROE cenderung menurun setelah akuisisi.
-NPM justru meningkat.
-Namun seluruh perubahan tidak signifikan secara statistik.
Likuiditas
-CR, QR, dan Cash Ratio mengalami penurunan.
-Tidak ada perbedaan signifikan sebelum dan sesudah akuisisi.
-Kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek relatif stabil.
Struktur Modal
-DAR dan DER mengalami perubahan kecil.
-EAR menunjukkan pergeseran ke pembiayaan berbasis ekuitas.
-Tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam struktur pendanaan.
Dengan kata lain, akuisisi di sektor TMT selama periode 2019–2022 belum memberikan dampak langsung terhadap kinerja keuangan jangka pendek.
Faktor Eksternal dan Integrasi Jadi Penjelas
Rahmadani Fitri dari Institut Bisnis dan Informatika Kesatuan menjelaskan bahwa hasil ini dapat dipengaruhi beberapa faktor.
Proses integrasi pasca-akuisisi membutuhkan waktu panjang sebelum dampaknya tercermin dalam laporan keuangan. Selain itu, periode penelitian beririsan dengan pandemi COVID-19 dan ketidakstabilan ekonomi global, yang turut memengaruhi kinerja perusahaan.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa efektivitas akuisisi sangat bergantung pada:
-Keberhasilan integrasi operasional
-Manajemen risiko pascatransaksi
-Strategi pembiayaan (utang atau ekuitas)
-Respons perusahaan terhadap dinamika pasar
Tanpa pengelolaan integrasi yang optimal, potensi sinergi tidak otomatis tercapai.
Implikasi bagi Investor dan Manajemen
Temuan ini penting bagi investor, manajemen perusahaan, dan pembuat kebijakan.
Bagi investor, hasil riset ini menjadi pengingat bahwa pengumuman akuisisi tidak selalu berarti peningkatan kinerja keuangan dalam waktu dekat. Evaluasi perlu dilakukan secara jangka panjang.
Bagi manajemen perusahaan, fokus tidak hanya pada transaksi, tetapi pada integrasi pasca-akuisisi. Nilai sinergi harus diwujudkan melalui efisiensi operasional, optimalisasi aset, dan strategi pendanaan yang tepat.
Bagi regulator dan pemerintah, terutama dalam konteks penguatan industri digital nasional, hasil ini menunjukkan bahwa konsolidasi sektor belum tentu langsung meningkatkan stabilitas atau profitabilitas perusahaan.
Perlu Kajian Jangka Panjang
Penelitian ini membuka peluang riset lanjutan. Analisis jangka panjang lebih dari tiga tahun dapat memberikan gambaran lebih akurat mengenai dampak akuisisi terhadap nilai perusahaan.
Selain itu, faktor lain seperti pertumbuhan pendapatan, efisiensi biaya, dan inovasi produk juga perlu diteliti untuk memahami dampak strategis akuisisi secara menyeluruh.
Profil Penulis
Rahmadani Fitri, S.E., M.Ak. adalah dosen Akuntansi di Institut Bisnis dan Informatika Kesatuan dengan fokus riset pada analisis laporan keuangan, manajemen keuangan, dan strategi korporasi.
Richad Alamsyah, S.E., M.Ak. merupakan dosen Akuntansi di Institut Bisnis dan Informatika Kesatuan yang meneliti bidang kinerja keuangan, struktur modal, dan kebijakan investasi perusahaan.
Sumber Penelitian
Fitri, R., & Alamsyah, R. (2026). Comparative Analysis of Profitability, Liquidity and Capital Structure Before and After Acquisition. International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS), Vol. 4, No. 2, 175–182.

0 Komentar