Bali- Arsitektur
Bali Diuji Lonjakan Pariwisata di Kabupaten Badung. Penelitian yang dilakukan Putu
Andre Irawan, Ngakan Ketut Acwin Dwijendra, dan I Dewa Gede Agung Diasana Putra
dari Program Magister Pembangunan Berkelanjutan dan Keuangan, Universitas
Udayana yang dipublikasikan dalam International Journal of Integrated
Science and Technology (IJIST) Vol. 4 No. 2 (Februari 2026).
Penelitian
yang dilakukan Penelitian yang dilakukan Putu Andre Irawan, Ngakan Ketut Acwin
Dwijendra, dan I Dewa Gede Agung Diasana Putra mengungkap bahwa pertumbuhan
pariwisata yang sangat pesat di Kabupaten Badung, Bali, telah mendorong ekonomi
daerah secara signifikan. Namun di balik geliat investasi hotel, vila, dan
infrastruktur, muncul pertanyaan penting: apakah konsep arsitektur Bali masih
diterapkan secara utuh atau hanya menjadi simbol visual?
Identitas
Lokal di Tengah Modernisasi
Kabupaten
Badung, khususnya kawasan Kuta, Seminyak, dan Jimbaran, mengalami perkembangan
pesat di sektor pariwisata dan properti (halaman 104–105). Modernisasi
mendorong munculnya bangunan bergaya internasional yang sering kali mengabaikan
karakter sosial dan ekologis Bali.
Padahal
arsitektur Bali tidak sekadar soal bentuk fisik, melainkan sistem nilai yang
berpijak pada:
- Tri
Hita Karana
(harmoni manusia, Tuhan, dan alam)
- Asta
Kosala Kosali
(aturan tata ruang tradisional)
- Desa
Kala Patra
(kesesuaian tempat, waktu, dan keadaan)
Konsep-konsep
ini mencerminkan keseimbangan spiritual, sosial, dan lingkungan yang menjadi
fondasi arsitektur tradisional Bali.
Metode:
Menggali Perspektif Beragam Pemangku Kepentingan
Penelitian
menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik:
- Wawancara
mendalam
- Observasi
lapangan
- Survei
pendukung
Sebanyak
18 informan dipilih secara purposif, terdiri dari:
- Pemerintah
daerah
- Arsitek
dan konsultan perencana
- Tokoh
adat
- Pelaku
usaha pariwisata
- Masyarakat
lokal
Wilayah
penelitian dibagi menjadi dua karakter utama:
1️Badung Selatan (Kuta,
Seminyak, Jimbaran) sebagai kawasan pariwisata intensif dengan tekanan
investasi tinggi.
2️Badung
Tengah–Utara (Mengwi, Abiansemal, Petang) yang masih kuat mempertahankan
sistem desa adat dan pola permukiman tradisional (halaman 108).
Pendekatan
ini memungkinkan analisis perbandingan antara kawasan urban pariwisata dan
wilayah yang lebih tradisional.
Tri
Hita Karana Masih Diakui sebagai Fondasi
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa secara normatif, Tri Hita Karana (THK)
masih diakui luas sebagai dasar filosofis perancangan bangunan.
Diagram
pada halaman 109 (Gambar 5.2) menggambarkan tiga dimensi utama THK:
- Parahyangan – hubungan manusia dengan Tuhan
- Pawongan – hubungan antarmanusia
- Palemahan – hubungan manusia dengan
lingkungan
Implementasi
di lapangan:
🔹 Parahyangan- Keberadaan pura, pelinggih, dan orientasi bangunan ke arah suci (kaja–kelod) masih terlihat jelas, terutama pada bangunan publik dan fasilitas sosial.
🔹 Pawongan- Ruang komunal seperti bale banjar dan ruang terbuka bersama masih difungsikan untuk menjaga kohesi sosial dan interaksi masyarakat.
🔹 Palemahan- Penggunaan ventilasi silang, halaman terbuka, taman, dan adaptasi terhadap iklim tropis meningkatkan kenyamanan termal dan efisiensi energi.
Di
wilayah Badung Tengah–Utara, penerapan prinsip ini relatif lebih konsisten.
Reduksi
Makna di Kawasan Komersial
Namun,
di kawasan komersial modern seperti hotel dan vila di Kuta dan Seminyak,
penerapan THK sering mengalami reduksi makna.
Arsitektur
Bali kerap diwujudkan dalam bentuk:
- Ornamen
dekoratif
- Patung
dan simbol tradisional
- Atap
bergaya Bali
Namun,
aspek ekologis dan sosialnya tidak selalu diterapkan secara menyeluruh (halaman
110). Akibatnya, Tri Hita Karana lebih berfungsi sebagai identitas estetika
dibandingkan kerangka desain berkelanjutan.
Kontribusi
terhadap Pembangunan Berkelanjutan
Meski
menghadapi tantangan, penelitian menegaskan bahwa arsitektur Bali tetap
memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan berkelanjutan.
🌿 Dimensi Lingkungan
- Ventilasi
silang mengurangi kebutuhan pendingin ruangan
- Material
lokal mendukung adaptasi iklim tropis
- Ruang
terbuka hijau meningkatkan kualitas lingkungan
👥 Dimensi Sosial-Budaya
- Memperkuat
identitas lokal
- Menjaga
kohesi sosial
- Memelihara
nilai spiritual masyarakat
💼 Dimensi Ekonomi
- Menjadi
daya tarik wisata berbasis budaya
- Membedakan
Bali dari destinasi lain
- Mendukung
ekonomi lokal secara berkelanjutan
Arsitektur
Bali terbukti memiliki potensi besar sebagai model pembangunan yang selaras
antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian budaya.
Tantangan
Implementasi
Penelitian
mengidentifikasi sejumlah hambatan:
- Dominasi
arsitektur modern yang diminati pasar
- Pengawasan
regulasi pelestarian yang belum optimal
- Minimnya
pemahaman mendalam pengembang terhadap nilai filosofis arsitektur Bali
- Tekanan
investasi di kawasan wisata
Dengan
menggunakan teori strukturasi Anthony Giddens (halaman 107), penelitian ini
menjelaskan bahwa implementasi arsitektur Bali merupakan hasil negosiasi antara
regulasi, nilai adat, dan kepentingan ekonomi.
Kesimpulan:
Menjaga Substansi, Bukan Sekadar Simbol
Penelitian
menyimpulkan bahwa arsitektur Bali masih berkontribusi terhadap pembangunan
berkelanjutan, terutama di wilayah yang kuat mempertahankan sistem adat.
Namun
di kawasan wisata intensif, konsep tersebut berisiko tereduksi menjadi simbol
visual semata.
Penguatan
regulasi, edukasi pemangku kepentingan, serta integrasi nilai filosofis secara
autentik dalam desain modern menjadi kunci menjaga keberlanjutan identitas
arsitektur Bali.
Profil
Penulis
- Putu
Andre Irawan - Universitas Udayana.
- Ngakan Ketut Acwin Dwijendra- Universitas Udayana.
- I Dewa Gede Agung Diasana Putra- - Universitas Udayana.
Sumber
Penelitian
Irawan, P. A., Dwijendra, N. K. A., & Putra, I. D. G. A. D. (2026). Analysis of the Implementation of the Balinese Architecture Concept in Supporting Sustainable Development in Badung Regency. International Journal of Integrated Science and Technology (IJIST), Vol. 4 No. 2, 104–111.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijist.v4i2.279
URL: https://ntlmultitechpublisher.my.id/index.php/ijist

0 Komentar