Sulawesi— Mahasiswa Multibahasa Indonesia
Transfer Pola Berpikir Kritis ke Penulisan Akademik Bahasa Inggris. Penelitian
yang dilakukan oleh Darwin dari Universitas Madako Tolitoli bersama Jaya dan
Pandu Prasodjo dari Universitas Internasional Batam yang dipublikasikan pada
januari 2026 di International Journal of Education and Life Sciences
(IJELS).
Riset
Darwin dari Universitas Madako Tolitoli bersama Jaya dan Pandu Prasodjo dari
Universitas Internasional Batam pada 2026 menunjukkan bahwa pola pikir kritis
mahasiswa justru berakar kuat dari bahasa ibu dan budaya lokal mereka, lalu
“ditransfer” ke penulisan akademik berbahasa Inggris.
Studi yang terbit di International Journal of Education and Life Sciences (IJELS) ini menyoroti bahwa bahasa pertama bukan penghambat, melainkan fondasi kognitif dalam membangun argumen akademik.
Temuan Utama
Beberapa
hasil kunci yang muncul dari wawancara mahasiswa:
1.
Bahasa ibu sebagai medium berpikir
Mayoritas mahasiswa mengembangkan ide kritis terlebih dahulu dalam bahasa
daerah atau bahasa Indonesia, baru kemudian menuangkannya dalam bahasa Inggris.
Ini membantu menjaga kedalaman makna dan keaslian ide.
2.
Proses transfer tidak mekanis
Mahasiswa tidak sekadar menerjemahkan, tetapi “membayangkan ulang” ide agar
sesuai dengan logika akademik bahasa Inggris. Mereka menata ulang struktur
argumen dari yang naratif atau implisit menjadi lebih eksplisit dan sistematis.
3.
Peran kesadaran metabahasa
Mahasiswa yang sadar perbedaan gaya retorika antarbahasa lebih mudah
menyesuaikan argumen. Mereka paham kapan harus lebih langsung, kapan perlu
bukti tertulis, dan bagaimana membuka paragraf secara akademik.
4.
Faktor penghambat utama
Keterbatasan kosakata akademik, kecemasan berbahasa, serta perbedaan struktur
kalimat membuat sebagian mahasiswa sulit mengekspresikan ide kritis secara
maksimal. Fokus pada tata bahasa kadang mengganggu alur berpikir.
5.
Strategi adaptasi mahasiswa
Mahasiswa menggunakan outline, mind map, diskusi teman, membaca jurnal, hingga
alat digital seperti Grammarly. Sebagian mencoba langsung berpikir dalam bahasa
Inggris untuk membiasakan diri dengan pola akademik internasional.
Dampak
bagi Pendidikan Tinggi
Menurut
para penulis, pengajaran menulis akademik tidak cukup hanya mengajarkan
struktur esai bahasa Inggris. Dosen perlu memahami latar budaya dan bahasa
mahasiswa. Pendekatan yang responsif budaya membantu mahasiswa menyesuaikan
diri tanpa kehilangan identitas intelektualnya.
Darwin
dari Universitas Madako Tolitoli menekankan bahwa mahasiswa sebenarnya sedang
melakukan “negosiasi pengetahuan” antara nilai lokal dan tuntutan akademik
global. Ketika dukungan pedagogis memadai, proses ini justru memperkaya wacana
akademik karena membawa perspektif budaya yang beragam ke dalam tulisan ilmiah.
Jaya dan Pandu Prasodjo dari Universitas Internasional Batam menambahkan bahwa
kesadaran lintas bahasa dapat memperkuat kemandirian akademik mahasiswa di
tingkat internasional.
Mengapa
Temuan Ini Penting
Hasil
studi ini relevan bagi:
- Perguruan
tinggi, untuk
merancang kurikulum menulis yang inklusif budaya.
- Dosen
bahasa Inggris,
untuk tidak menganggap gaya lokal sebagai “kesalahan”, melainkan titik
awal pengembangan.
- Mahasiswa
multilingual,
agar percaya diri bahwa pola pikir dari bahasa ibu adalah aset akademik.
- Pembuat
kebijakan pendidikan,
untuk mendorong pendekatan pembelajaran yang menghargai keragaman
linguistik Indonesia.
Profil Singkat Penulis
- Darwin,
M.Pd. – Universitas Madako Tolitoli
- Jaya, M.Pd. – Universitas Internasional Batam
- Pandu Prasodjo, M.Pd. – Universitas Internasional Batam
Sumber Penelitian
Darwin, Jaya, & Pandu Prasodjo. 2026. “Transfer of Critical Thinking Skills from Mother Tongue to English Academic Writing: Exploring the Perspectives of Multilingual Students in Indonesia.” International Journal of Education and Life Sciences (IJELS), Vol. 4 No. 1, hlm. 33–50.
DOI:https://doi.org/10.59890/ijels.v4i1.259
URL resmi: https://ntlmultitechpublisher.my.id/index.php/ijels
.png)
0 Komentar