Jakarta—
Riset UTMJ Soroti Cara Ukur
Kesejahteraan Masyarakat Pesisir Secara Menyeluruh. Penelitian yang dilakukan oleh Peggy Ratna Marlianingrum
bersama Suhana, Sandra Dewi Elizabet Kaunang, dan Sander Noferiyansyah dari
Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan, Universitas Teknologi Muhammadiyah
Jakarta (UTMJ) yang dipublikasikan di Contemporary Journal of Applied Sciences
(CJAS), Vol. 4 No. 2, pada Februari 2026.
Penelitian
yang dilakukan oleh Peggy Ratna
Marlianingrum bersama Suhana, Sandra Dewi Elizabet Kaunang, dan Sander
Noferiyansyah menelaah berbagai model pengukuran kesejahteraan pesisir. Kajian
ini penting karena Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia
dan jutaan warga menggantungkan hidup pada ekosistem pesisir, termasuk
mangrove.
Mengapa
Pengukuran Kesejahteraan Pesisir Penting?
Indonesia
memiliki garis pantai sepanjang 99.083 kilometer dan sekitar 17.001 pulau.
Wilayah pesisir menyimpan keanekaragaman hayati tinggi sekaligus potensi
ekonomi besar. Namun, kawasan ini juga menghadapi tantangan serius, mulai dari
abrasi, kerusakan mangrove, hingga kemiskinan nelayan.
Mangrove
memegang peran vital sebagai pelindung alami dari gelombang dan abrasi,
sekaligus habitat pemijahan dan pembesaran biota laut. Indonesia memiliki
sekitar 15,9 juta hektare mangrove atau 27 persen dari total dunia. Namun, di
sejumlah wilayah seperti Pantai Utara Jawa Tengah, sebagian besar kawasan
mangrove telah mengalami kerusakan berat.
Ironisnya,
masyarakat yang hidup di sekitar mangrove justru banyak yang tergolong kurang
sejahtera. Pendidikan, akses kesehatan, serta posisi tawar ekonomi mereka
relatif rendah. Di sisi lain, pengukuran kesejahteraan yang ada umumnya hanya
berfokus pada aspek ekonomi atau akses dasar, tanpa memasukkan peran ekologi
mangrove secara utuh.
Menelaah
Berbagai Model Pengukuran
Tim
peneliti UTMJ melakukan tinjauan sistematis terhadap literatur dalam rentang
2013–2024. Mereka menelusuri jurnal-jurnal ilmiah yang membahas kesejahteraan
masyarakat pesisir dan mengevaluasi model pengukuran yang digunakan.
Hasil
kajian menunjukkan bahwa selama ini pengukuran kesejahteraan masyarakat pesisir
umumnya didasarkan pada:
- Indikator
kemiskinan menurut Bank Dunia
- Garis
kecukupan pangan
- Indeks
kesejahteraan keluarga (BKKBN)
- Analisis
SWOT
- Dimensi
sosial dan ekonomi
- Program
pemberdayaan masyarakat
Sebagian
besar pendekatan tersebut menilai kesejahteraan dari sisi akses pendidikan,
pendapatan, atau standar hidup layak. Namun, jasa ekosistem mangrove—seperti
perlindungan pantai dan dukungan terhadap stok ikan—jarang dimasukkan sebagai
variabel utama dalam perhitungan kesejahteraan.
Peggy
Ratna Marlianingrum dan timnya menilai bahwa pendekatan parsial ini membuat
kebijakan kurang tepat sasaran. Kesejahteraan masyarakat pesisir tidak bisa
dilepaskan dari kondisi lingkungan tempat mereka bergantung.
Gambaran
Nyata di Lapangan
Literatur
yang dikaji menunjukkan berbagai persoalan struktural yang dihadapi nelayan:
- Ketergantungan
pada tengkulak atau rentenir
- Keterbatasan
modal dan alat tangkap
- Fluktuasi
hasil tangkapan
- Pendidikan
rendah
- Minimnya
diversifikasi pekerjaan
Dalam
salah satu studi yang dikutip, penguatan koperasi nelayan terbukti meningkatkan
daya tawar di pasar input dan output. Model ini dinilai efektif untuk
memperbaiki kesejahteraan secara kolektif.
Studi
lain menunjukkan bahwa integrasi budidaya tambak—misalnya kombinasi rumput laut
dan bandeng—dapat meningkatkan pendapatan petani tambak secara signifikan jika
didukung tambahan modal dan optimalisasi faktor produksi.
Ada
pula pendekatan berbasis keluarga menggunakan indikator BKKBN yang membagi
tingkat kesejahteraan dalam lima kategori, mulai dari Pra-Sejahtera hingga
Sejahtera III Plus. Namun, pendekatan ini tetap belum memasukkan dimensi
lingkungan secara eksplisit.
Peran
Ekowisata Mangrove
Pengembangan
ekowisata mangrove menjadi salah satu strategi yang disoroti dalam literatur.
Model ini berpotensi:
- Meningkatkan
pendapatan desa melalui tiket dan layanan wisata
- Mengurangi
ketergantungan warga pada hasil tangkap semata
- Membuka
lapangan kerja baru
- Meningkatkan
kesadaran lingkungan
Dengan pendekatan berbasis masyarakat, ekowisata mangrove dapat menjadi instrumen ekonomi sekaligus konservasi.
Tantangan
Utama: Perlu Indeks Terpadu
Temuan
utama kajian ini menegaskan belum adanya formulasi indeks kesejahteraan
masyarakat pesisir yang mengintegrasikan tiga dimensi utama:
- Sosial
- Ekonomi
- Lingkungan
Sebagian
penelitian masih memisahkan ketiga aspek tersebut. Padahal, bagi masyarakat
pesisir, kondisi ekosistem seperti mangrove sangat menentukan keberlanjutan
pendapatan dan kualitas hidup.
Tim
peneliti merekomendasikan penyusunan indeks kesejahteraan pesisir berbasis
multidimensi. Model ini diharapkan mampu menjadi dasar kebijakan pemerintah
dalam pengelolaan sumber daya pesisir secara berkelanjutan dan efektif untuk
pengentasan kemiskinan.
Implikasi
Kebijakan dan Pembangunan
Kajian
ini menekankan bahwa peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir tidak cukup
melalui bantuan alat tangkap atau subsidi sesaat. Diperlukan:
- Penguatan
kapasitas pendidikan dan pelatihan
- Kebijakan
yang mendukung konservasi mangrove
- Pemberdayaan
kelembagaan nelayan
- Diversifikasi
sumber pendapatan
- Integrasi
aspek lingkungan dalam perencanaan pembangunan
Menurut
Peggy Ratna Marlianingrum dan tim dari UTMJ, kombinasi dimensi sosial, ekonomi,
dan lingkungan akan menghasilkan kebijakan yang lebih adaptif dan
berkelanjutan.
Pendekatan ini juga relevan bagi pemerintah daerah, kementerian terkait, lembaga pemberdayaan masyarakat, hingga sektor swasta yang bergerak di bidang perikanan dan pariwisata pesisir.
Profil
Penulis
- Peggy Ratna Marlianingrum, S.Pi.,
M.Si._Universitas
Teknologi Muhammadiyah Jakarta
- Suhana, S.Pi., M.Si._Universitas Teknologi Muhammadiyah
Jakarta
- Sandra Dewi Elizabet Kaunang, S.Pi.,
M.Si._Universitas
Teknologi Muhammadiyah Jakarta
- Sander Noferiyansyah_Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta
Sumber
Penelitian
Marlianingrum, P. R., Suhana, Kaunang, S. D. E., & Noferiyansyah. (2026). Systematic Review of Coastal Community Well-Being as Research Implementation and Challenges. Contemporary Journal of Applied Sciences (CJAS), Vol. 4 No. 2, 71–84.
DOI: https://doi.org/10.55927/cjas.v4i2.127
URL: https://ntlformosapublisher.org/index.php/cjas

0 Komentar