Stroke Iskemik



Stroke Iskemik Masih Jadi Ancaman Serius, Dokter Unimal Paparkan Kunci Diagnosis dan Penanganannya

Stroke iskemik masih menjadi salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan jangka panjang di Indonesia. Hal ini ditegaskan dalam artikel ilmiah terbaru yang ditulis Raissa Amanda Helsah, bersama Haur Syakira Radra dan Herlina Sari dari Universitas Malikussaleh, Aceh, dan dipublikasikan di International Journal of Integrative Sciences (IJIS) pada awal 2026.

Melalui kajian literatur yang dipadukan dengan laporan kasus nyata di RSUD Cut Meutia, para peneliti memaparkan bagaimana stroke iskemik terjadi, bagaimana mengenalinya sejak dini, serta bagaimana penanganan yang tepat dapat memperbaiki peluang pemulihan pasien. Temuan ini penting karena stroke masih menjadi penyebab kematian nomor satu di banyak rumah sakit Indonesia.

Stroke Iskemik: Penyakit Mematikan yang Sering Datang Tiba-Tiba

Stroke iskemik terjadi ketika aliran darah ke otak terhenti akibat sumbatan pembuluh darah. Akibatnya, sel-sel otak kekurangan oksigen dan nutrisi, lalu mengalami kerusakan permanen. Menurut data nasional, prevalensi stroke di Indonesia terus meningkat, dari 8,3 per 1.000 penduduk pada 2007 menjadi 12,1 per 1.000 penduduk pada 2013.

Dalam artikel ini, para penulis menjelaskan bahwa sekitar 85 persen kasus stroke adalah stroke iskemik, menjadikannya jenis stroke paling umum dibandingkan stroke perdarahan.

“Stroke bukan hanya masalah orang tua. Siapa pun dengan faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, atau gangguan jantung bisa mengalaminya,” tulis tim peneliti Universitas Malikussaleh dalam artikelnya.

Laporan Kasus: Lemah Mendadak di Sisi Kanan Tubuh

Penelitian ini menyoroti satu kasus pasien laki-laki yang datang ke IGD RSUD Cut Meutia dengan keluhan kelemahan mendadak pada tangan dan kaki kanan sejak dua hari sebelumnya. Keluhan muncul tiba-tiba saat bangun tidur dan disertai sakit kepala, mual, muntah, serta rasa kebas.

Pemeriksaan klinis, penilaian Siriraj Stroke Score, dan CT scan kepala menunjukkan adanya infark di lobus frontal dan parietal kiri otak. Diagnosis mengarah pada stroke iskemik trombotik, yaitu stroke akibat sumbatan pembuluh darah oleh bekuan darah.

Kasus ini mencerminkan pola klasik stroke iskemik yang sering terlambat ditangani karena gejalanya dianggap sepele pada awalnya.

Bagaimana Dokter Menegakkan Diagnosis Stroke

Dalam artikelnya, para peneliti menjelaskan bahwa diagnosis stroke tidak hanya bergantung pada satu pemeriksaan. Dokter harus menggabungkan:

1. Gejala klinis seperti kelemahan tubuh, gangguan bicara, atau penurunan kesadaran

2. Pemeriksaan neurologis untuk menentukan bagian otak yang terdampak

3. CT scan kepala untuk membedakan stroke iskemik dan stroke perdarahan

CT scan menjadi pemeriksaan kunci karena hasilnya menentukan jenis terapi yang aman diberikan kepada pasien.

Penanganan Cepat Menentukan Nasib Pasien

Pasien dalam laporan kasus ini mendapatkan terapi cairan, obat neuroprotektif, obat antihipertensi, obat anti-mual, serta suplemen vitamin saraf. Salah satu obat yang digunakan adalah citicoline, yang dikenal membantu melindungi sel-sel saraf dari kerusakan lebih lanjut.

Selain itu, pasien juga menerima amlodipin untuk mengontrol tekanan darah. Pengendalian tekanan darah dinilai sangat penting karena hipertensi merupakan faktor risiko utama stroke berulang.

Menurut para penulis, penanganan stroke iskemik pada fase awal bertujuan untuk:

1. Menyelamatkan sel otak yang masih bisa dipertahankan

2. Mencegah perluasan area kerusakan otak

3. Memperbaiki peluang pemulihan fungsi tubuh

Hasilnya, pasien dalam laporan kasus ini memiliki prognosis yang cukup baik, dengan peluang pemulihan fungsi yang menjanjikan.

Dampak Besar bagi Layanan Kesehatan dan Masyarakat

Artikel ini menegaskan satu pesan penting: deteksi dini dan penanganan cepat adalah kunci utama menyelamatkan pasien stroke. Keterlambatan beberapa menit saja dapat menentukan apakah seseorang akan pulih, cacat permanen, atau meninggal dunia.

Bagi masyarakat, temuan ini memperkuat pentingnya mengenali gejala awal stroke, seperti:

1. Wajah mencong

2. Lengan atau kaki mendadak lemah

3. Bicara pelo atau sulit bicara

Bagi tenaga kesehatan, artikel ini menjadi pengingat bahwa pendekatan terpadu—klinis, radiologis, dan farmakologis—sangat menentukan hasil akhir pasien.

Profil Penulis

Raissa Amanda Helsah, Universitas Malikussaleh

Haur Syakira Radra, Universitas Malikussaleh

Herlina Sari, Universitas Malikussaleh

Sumber Penelitian

Helsah, R. A., Radra, H. S., & Sari, H. (2026).
Ischemic Stroke.
International Journal of Integrative Sciences (IJIS), Vol. 5 No. 1, halaman 197–206.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijis.v5i1.816
URL: https://mryformosapublisher.org/index.php/ijis/index

Posting Komentar

0 Komentar