Industri manufaktur dituntut semakin efisien
Perusahaan manufaktur saat ini menghadapi tekanan untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi dengan biaya rendah dan waktu produksi cepat. Dalam industri logam, terutama produksi komponen transformator, kesalahan kecil dalam proses pengelasan dapat menyebabkan kebocoran, kerusakan produk, dan pekerjaan ulang yang mahal.
Penelitian ini menunjukkan bahwa permasalahan produksi tidak hanya berasal dari faktor teknis, tetapi juga dari alur kerja, manajemen proses, serta sistem pengawasan kualitas. Tanpa evaluasi menyeluruh, pemborosan waktu dan sumber daya dapat terus terjadi dan menurunkan kepuasan pelanggan.
Metodologi penelitian secara sederhana
Penelitian menggunakan pendekatan campuran yang menggabungkan observasi lapangan dan analisis data produksi. Fokus penelitian berada pada proses produksi tangki transformator, khususnya tahap pengelasan, perakitan, pengujian non-destruktif, finishing, dan kontrol kualitas.
Para peneliti memetakan alur produksi menggunakan teknik Value Stream Mapping untuk mengidentifikasi aktivitas yang memberi nilai tambah dan yang tidak. Analisis penyebab cacat dilakukan dengan diagram sebab-akibat, sementara rancangan perbaikan disusun melalui pemetaan kondisi produksi masa depan yang lebih efisien.
Temuan utama penelitian
Hasil studi menunjukkan beberapa fakta penting dalam proses produksi:
- Kebocoran menjadi jenis cacat terbesar pada tangki transformator.
- Tiga jenis cacat utama—kebocoran, spatter pengelasan, dan kesalahan dimensi—menyumbang lebih dari 70 persen total cacat produksi.
- Proses pengelasan memiliki waktu non-value-added tertinggi, mencapai lebih dari 62 persen dari total waktu proses.
- Produksi berada pada tingkat kualitas sekitar 3–3,35 sigma, yang menunjukkan masih banyak ruang untuk perbaikan kualitas.
- Bottleneck pada proses pengelasan menurunkan output dan meningkatkan waktu tunggu.
Data produksi menunjukkan bahwa waktu siklus terbesar juga terjadi pada proses pengelasan dibandingkan perakitan komponen lainnya, sehingga tahap ini menjadi prioritas utama perbaikan.
Akar masalah berasal dari sistem, bukan hanya teknis
Analisis penyebab menunjukkan bahwa cacat produksi tidak hanya disebabkan oleh teknik pengelasan, tetapi juga oleh faktor organisasi dan lingkungan kerja.
Beberapa faktor utama meliputi variasi keterampilan operator, tidak adanya standar parameter pengelasan, performa mesin yang tidak stabil, material yang tidak konsisten, serta pencahayaan area kerja yang kurang optimal. Selain itu, inspeksi kualitas sering dilakukan di akhir proses, sehingga produk cacat terlambat terdeteksi dan harus diperbaiki ulang.
Menurut para peneliti Universitas Mercu Buana, kondisi ini menunjukkan bahwa efisiensi produksi tidak cukup ditingkatkan melalui teknologi saja, tetapi memerlukan standar kerja yang jelas dan pengawasan kualitas yang berkelanjutan.
Dampak dan implikasi bagi industri
Temuan penelitian ini memberikan beberapa implikasi penting bagi dunia manufaktur.
Perusahaan disarankan menjadikan lean manufacturing sebagai budaya kerja berkelanjutan, bukan sekadar proyek perbaikan sementara. Standarisasi proses, terutama dalam pengelasan dan inspeksi, dapat mengurangi variasi kualitas produk. Pelatihan operator secara berkala juga penting untuk meningkatkan konsistensi hasil kerja.
Selain itu, penggunaan pemetaan proses produksi masa depan dapat membantu perusahaan merencanakan kapasitas, mempercepat aliran produksi, dan meningkatkan ketepatan pengiriman produk kepada pelanggan. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga mendukung keberlanjutan operasional jangka panjang.
Pandangan akademik penulis
Faiz Dzaky Himamul Murtafa dari Universitas Mercu Buana menekankan bahwa pemborosan dalam produksi sering kali berakar pada manajemen proses yang kurang terstandarisasi. Ia menilai bahwa penerapan lean manufacturing secara konsisten dapat mengurangi aktivitas yang tidak memberi nilai tambah sekaligus meningkatkan kualitas produk.
Profil penulis penelitian
Faiz Dzaky Himamul Murtafa adalah peneliti di bidang manajemen operasi dan efisiensi industri dari Universitas Mercu Buana, dengan fokus pada lean manufacturing dan peningkatan kualitas produksi.
Dewi Nusraningrum, merupakan akademisi Universitas Mercu Buana yang meneliti manajemen operasional, sistem produksi, dan peningkatan kinerja organisasi industri.
Keduanya aktif meneliti strategi peningkatan efisiensi produksi dalam sektor manufaktur Indonesia.
0 Komentar