Penelitian tersebut mengulas bagaimana potensi alam, dukungan sosial, dan kebijakan pemerintah dapat disinergikan untuk menjawab tantangan fluktuasi jumlah pengunjung wisata Suban Hot Springs selama beberapa tahun terakhir. Temuan ini relevan di tengah upaya banyak daerah di Indonesia yang berusaha mengembangkan pariwisata alam secara berkelanjutan.
Wisata Alam Bengkulu dan Tantangan Daya Saing
Provinsi Bengkulu dikenal memiliki kekayaan wisata alam yang beragam, mulai dari pantai, air terjun, dan pegunungan hingga kawasan konservasi. Salah satu destinasi unggulannya adalah Suban Hot Springs, yang terletak sekitar enam kilometer dari Kota Curup, Kabupaten Rejang Lebong.
Kawasan ini menawarkan sembilan kolam air panas alami, air terjun, serta nilai budaya lokal yang masih terjaga. Air panas Suban bahkan diyakini masyarakat memiliki khasiat bagi kesehatan kulit dan persendian. Namun, data Dinas Pariwisata Rejang Lebong menunjukkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan ke Suban Hot Springs mengalami naik turun antara 2020 hingga 2023, meskipun secara umum menunjukkan tren peningkatan.
Situasi ini mendorong perlunya strategi pengembangan yang tidak hanya berfokus pada promosi, tetapi juga pada pengelolaan internal dan ketahanan terhadap ancaman eksternal.
Pendekatan Penelitian yang Digunakan
Andrea Afriliana Sari dan Romi Gunawan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan data primer yang dikumpulkan melalui kuesioner. Sebanyak 60 responden terlibat dalam penelitian ini, terdiri dari pejabat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, pengelola objek wisata, pedagang lokal, masyarakat sekitar, dan wisatawan.
Untuk menganalisis kondisi Suban Hot Springs, peneliti menerapkan analisis SWOT, yang menilai kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman destinasi wisata. Metode ini dipilih karena mampu memberikan gambaran menyeluruh tentang posisi strategis objek wisata dalam menghadapi persaingan dan perubahan lingkungan.
Kekuatan Alam dan Aksesibilitas Jadi Modal Utama
Hasil analisis menunjukkan bahwa Suban Hot Springs memiliki tingkat kekuatan yang sangat tinggi. Beberapa faktor yang dinilai paling menonjol antara lain:
- Keunikan fenomena air panas alami
- Lokasi strategis di jalur utama transportasi
- Akses yang mudah bagi kendaraan roda dua hingga bus
- Harga makanan dan jasa yang terjangkau
- Keramahan masyarakat lokal terhadap wisatawan
Rata-rata penilaian kekuatan mencapai 3,31 dari skala 4, menandakan bahwa potensi internal kawasan ini sangat solid untuk dikembangkan lebih lanjut.
Kelemahan Infrastruktur Masih Perlu Perhatian
Di sisi lain, penelitian ini juga mencatat sejumlah kelemahan yang tidak bisa diabaikan. Fasilitas pendukung seperti toilet umum, tempat ibadah, area istirahat, jaringan telekomunikasi, dan pusat oleh-oleh dinilai masih belum optimal.
Nilai rata-rata kelemahan berada pada kategori cukup tinggi, yang berarti aspek ini dapat menghambat pertumbuhan wisata jika tidak segera ditangani. Menurut peneliti, peningkatan fasilitas dasar menjadi prasyarat agar kekuatan alam Suban Hot Springs dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Peluang Digital dan Ancaman Persaingan
Dari sisi eksternal, peluang terbesar datang dari kemudahan akses informasi digital dan potensi penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Informasi tentang Suban Hot Springs kini mudah ditemukan melalui internet dan media sosial, membuka ruang promosi yang lebih luas.
Namun, ancaman juga datang dari meningkatnya kualitas dan fasilitas destinasi wisata pesaing di wilayah sekitar. Selain itu, masuknya budaya luar tanpa pengelolaan yang tepat dikhawatirkan dapat menggerus identitas lokal.
Perhitungan SWOT menempatkan Suban Hot Springs pada kuadran strategi diversifikasi, dengan titik koordinat (0,7; -0,1). Posisi ini menunjukkan bahwa kekuatan internal harus dimanfaatkan secara optimal untuk menekan berbagai ancaman eksternal.
Lima Strategi Pengembangan yang Direkomendasikan
Berdasarkan analisis tersebut, peneliti merekomendasikan lima strategi utama pengembangan Suban Hot Springs:
- Pengelolaan bantuan pemerintah berbasis kemandirian lokal, agar tidak menimbulkan ketergantungan
- Pengendalian pembangunan wisata untuk menjaga keindahan dan kelestarian alam
- Penguatan peran masyarakat lokal dalam pengelolaan dan kerja sama wisata
- Pengendalian pengaruh budaya luar dengan mengedepankan nilai dan tradisi lokal
- Standarisasi harga dan kualitas layanan wisata untuk mencegah konflik sosial dan menjaga kenyamanan pengunjung
Andrea Afriliana Sari dari Universitas Bengkulu menekankan bahwa keberhasilan pengembangan wisata alam sangat ditentukan oleh keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, dan sosial budaya masyarakat setempat.
Dampak bagi Kebijakan dan Masyarakat
Temuan ini memberikan rujukan praktis bagi pemerintah daerah dalam merancang kebijakan pariwisata berkelanjutan. Dengan melibatkan masyarakat secara aktif dan menjaga keaslian alam, destinasi seperti Suban Hot Springs tidak hanya berpotensi meningkatkan jumlah wisatawan, tetapi juga memperkuat ekonomi lokal secara jangka panjang.
Bagi sektor pendidikan dan perencanaan wilayah, studi ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas dan analisis strategis dapat menjadi model pengembangan wisata alam di daerah lain.

0 Komentar