Rumput Laut Dinilai Efektif Menyerap Karbon dan Dukung Mitigasi Perubahan Iklim

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Makassar - Budidaya rumput laut semakin diakui sebagai solusi berbasis alam untuk menekan laju perubahan iklim. Sebuah kajian ilmiah terbaru yang ditulis Sri Mulyani dari Universitas Bosowa, Indonesia, dan dipublikasikan pada 2026 di Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA), menunjukkan bahwa rumput laut memiliki potensi besar dalam menyerap dan menyimpan karbon melalui mekanisme blue carbon.

Dalam artikel berjudul The Role of Seaweed in Carbon Sequestration and Climate Change Mitigation: A Review of Blue Carbon Potential, Sri Mulyani merangkum berbagai temuan penelitian global terkait kemampuan rumput laut dalam menyerap karbon dioksida (CO₂), faktor lingkungan yang memengaruhinya, serta peluang penerapannya sebagai strategi mitigasi perubahan iklim yang berkelanjutan. Temuan ini menjadi penting di tengah meningkatnya kebutuhan dunia akan solusi iklim yang murah, alami, dan dapat diterapkan secara luas, khususnya di wilayah pesisir.

Rumput Laut dan Peran Blue Carbon

Konsep blue carbon merujuk pada karbon yang diserap dan disimpan oleh ekosistem laut dan pesisir, seperti mangrove, lamun, dan rumput laut. Selama ini, mangrove dan lamun lebih sering mendapat sorotan. Namun, Sri Mulyani menegaskan bahwa rumput laut—khususnya makroalga—memiliki keunggulan berupa laju pertumbuhan yang sangat cepat dan kemampuan menyerap karbon dalam jumlah besar melalui fotosintesis.

“Rumput laut mampu menyerap CO₂ dari perairan laut dan mengubahnya menjadi biomassa dalam waktu relatif singkat,” tulis Sri Mulyani dalam kajiannya. Sebagian karbon tersebut tersimpan dalam jaringan rumput laut, sementara sebagian lainnya berpotensi tersimpan lebih lama di sedimen laut atau terbawa ke perairan yang lebih dalam.

Spesies dengan Daya Serap Karbon Tinggi

Kajian ini menyoroti beberapa spesies rumput laut yang paling menjanjikan dalam konteks penyerapan karbon. Ulva lactuca, misalnya, tercatat memiliki laju pertumbuhan sangat tinggi—mencapai lebih dari 35 persen per hari dalam kondisi CO₂ dan suhu yang optimal. Laju pertumbuhan ini memungkinkan penyerapan karbon dalam waktu singkat secara signifikan.

Sementara itu, Kappaphycus alvarezii, spesies yang banyak dibudidayakan di Indonesia, menunjukkan kemampuan penyerapan nutrien dan karbon yang stabil, meski laju pertumbuhannya lebih moderat. Spesies lain seperti Gracilaria spp. dan Ulva fasciata juga dinilai berkontribusi dalam penyimpanan karbon, terutama ketika dibudidayakan dengan pengelolaan nutrien yang tepat.

Perbedaan karakter antarspesies ini menunjukkan bahwa pemilihan jenis rumput laut menjadi faktor kunci dalam memaksimalkan manfaat iklim dari kegiatan budidaya.

Metode Budidaya Menentukan Efektivitas

Selain jenis rumput laut, metode budidaya turut menentukan efektivitas penyerapan karbon. Sri Mulyani menyoroti sistem Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA) sebagai pendekatan paling menjanjikan. Dalam sistem ini, rumput laut dibudidayakan bersama ikan atau kerang, sehingga limbah nutrien dari satu organisme dimanfaatkan oleh organisme lain.

Pendekatan IMTA terbukti mampu meningkatkan siklus nutrien, menekan pencemaran perairan, sekaligus meningkatkan produksi biomassa rumput laut. “Sistem budidaya terintegrasi tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat fungsi ekologis perairan,” jelas Sri Mulyani.

Selain IMTA, budidaya berbasis tangki dan sistem vertikal juga dinilai efektif, terutama ketika suhu, salinitas, cahaya, dan nutrien dapat dikendalikan secara optimal.

Faktor Lingkungan yang Berpengaruh

Kajian ini juga menegaskan bahwa keberhasilan rumput laut dalam menyerap karbon sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Suhu perairan ideal berkisar 20–24 derajat Celsius, sementara tingkat salinitas optimal berada di rentang 31–33 PSU. Ketersediaan nitrogen dan fosfor menjadi faktor penting lain yang menentukan laju fotosintesis dan pertumbuhan biomassa.

Sebaliknya, gangguan seperti kualitas air yang buruk, pertumbuhan epifit berlebihan, serta perubahan iklim ekstrem dapat menurunkan kemampuan rumput laut dalam menyimpan karbon. Oleh karena itu, pengelolaan lingkungan yang baik menjadi prasyarat utama keberhasilan budidaya berorientasi iklim.

Manfaat Ekonomi dan Tantangan Kebijakan

Di luar manfaat ekologis, Sri Mulyani menyoroti potensi ekonomi dari budidaya rumput laut sebagai penyerap karbon. Integrasi rumput laut ke dalam pasar karbon dinilai berpotensi memberikan insentif finansial bagi pembudidaya, sekaligus mendorong pengembangan ekonomi pesisir.

Namun, tantangan masih cukup besar. Ketiadaan regulasi yang jelas, keterbatasan infrastruktur, hingga persaingan ruang laut dengan sektor lain seperti pariwisata dan perikanan menjadi hambatan utama. Selain itu, masih terdapat perdebatan ilmiah terkait seberapa lama karbon yang diserap rumput laut benar-benar tersimpan dan tidak kembali ke atmosfer.

Implikasi bagi Indonesia dan Dunia

Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai panjang, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memanfaatkan budidaya rumput laut sebagai bagian dari strategi mitigasi perubahan iklim nasional. Kajian ini memberikan dasar ilmiah bagi pengambil kebijakan untuk mengintegrasikan rumput laut ke dalam agenda blue economy dan komitmen penurunan emisi karbon.

“Budidaya rumput laut tidak hanya relevan untuk mitigasi iklim, tetapi juga mendukung ketahanan ekonomi masyarakat pesisir,” tulis Sri Mulyani.

Profil Penulis

Sri Mulyani
Dosen dan peneliti di Universitas Bosowa, Indonesia.
Bidang keahlian: pertanian dan lingkungan, ekosistem pesisir, serta analisis keberlanjutan lingkungan.

Sumber Penelitian

Sri Mulyani. The Role of Seaweed in Carbon Sequestration and Climate Change Mitigation: A Review of Blue Carbon Potential.
Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA), Vol. 5 No. 1, 2026, hlm. 89–108.
DOI: 10.55927/ijaea.v5i1.16017

Posting Komentar

0 Komentar