Bandung — Praktik manajemen sumber daya manusia berbasis lingkungan terbukti berperan penting dalam meningkatkan kinerja lingkungan hotel-hotel di Bali. Temuan ini disampaikan oleh I Putu Yopha Candra Aditya, Anita Silvianita, dan Alex Winarno dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Telkom University, dalam artikel ilmiah yang terbit pada 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR).
Penelitian ini menyoroti bagaimana Green Human Resource Management (GHRM)—praktik pengelolaan karyawan yang berorientasi pada keberlanjutan—tidak hanya berdampak langsung pada kinerja lingkungan hotel, tetapi juga bekerja lebih efektif ketika didukung oleh green innovation atau inovasi ramah lingkungan. Temuan ini penting karena sektor perhotelan merupakan salah satu industri dengan konsumsi air, energi, dan produksi limbah yang tinggi, terutama di daerah wisata seperti Bali.
Tantangan Lingkungan di Industri Perhotelan
Industri perhotelan global menghadapi tekanan besar akibat eksploitasi sumber daya alam dan meningkatnya tuntutan regulasi lingkungan. Hotel menggunakan air dan listrik dalam jumlah besar setiap hari serta menghasilkan limbah padat dan cair yang signifikan. Di sisi lain, wisatawan kini semakin sadar lingkungan dan cenderung memilih akomodasi yang menerapkan praktik berkelanjutan.
Di Indonesia, konsep green hotel telah diperkenalkan melalui kebijakan dan panduan pemerintah. Hotel hijau diharapkan menerapkan efisiensi energi, pengelolaan limbah, konservasi air, hingga penggunaan material ramah lingkungan. Namun, teknologi saja tidak cukup. Keberhasilan penerapan konsep ini sangat bergantung pada perilaku dan komitmen karyawan.
Di sinilah peran GHRM menjadi krusial.
SDM sebagai Kunci Keberlanjutan
Menurut para penulis, GHRM mencakup rekrutmen karyawan yang peduli lingkungan, pelatihan berbasis keberlanjutan, penilaian kinerja yang memasukkan aspek lingkungan, serta sistem insentif yang mendorong perilaku hijau. Dengan pendekatan ini, karyawan tidak hanya menjalankan prosedur, tetapi juga menjadi agen perubahan di dalam organisasi.
Berdasarkan tinjauan literatur sistematis terhadap berbagai penelitian internasional periode 2020–2026, praktik GHRM terbukti memiliki hubungan kuat dengan peningkatan kinerja lingkungan perusahaan, termasuk hotel. Kinerja lingkungan tersebut antara lain ditunjukkan oleh pengurangan limbah, efisiensi energi dan air, serta kepatuhan terhadap standar lingkungan.
Namun, penelitian ini menegaskan bahwa hubungan tersebut tidak berhenti di situ.
Inovasi Hijau sebagai Penghubung Utama
Temuan utama studi ini menunjukkan bahwa green innovation berperan sebagai jembatan strategis yang menghubungkan praktik SDM hijau dengan kinerja lingkungan yang nyata. Green innovation mencakup inovasi produk dan proses, seperti sistem pengelolaan limbah yang lebih efisien, penggunaan energi terbarukan, layanan digital tanpa kertas, hingga desain operasional yang lebih hemat sumber daya.
“Karyawan yang direkrut, dilatih, dan diberi insentif melalui GHRM memiliki kapasitas untuk menghasilkan solusi inovatif yang ramah lingkungan,” tulis para penulis. Dengan kata lain, potensi SDM baru benar-benar berdampak ketika diwujudkan dalam bentuk inovasi nyata.
Tanpa inovasi, praktik GHRM berisiko hanya menjadi kebijakan administratif. Sebaliknya, ketika digabungkan dengan inovasi hijau, GHRM mampu menghasilkan dampak lingkungan yang terukur sekaligus meningkatkan daya saing hotel.
Dampak Ganda: Lingkungan dan Daya Saing Bisnis
Penelitian ini juga menekankan bahwa kinerja lingkungan bukan sekadar kewajiban moral atau kepatuhan regulasi. Dalam perspektif Resource-Based View (RBV), praktik GHRM dan green innovation merupakan aset tak berwujud yang sulit ditiru pesaing.
Hotel dengan kinerja lingkungan yang baik cenderung memperoleh beberapa keuntungan sekaligus:
- Citra merek yang lebih positif di mata wisatawan
- Penghematan biaya operasional melalui efisiensi energi dan air
- Keunggulan kompetitif jangka panjang di pasar pariwisata global
- Daya tarik bagi talenta muda yang peduli isu keberlanjutan
Dengan demikian, investasi pada SDM hijau dan inovasi ramah lingkungan bukanlah beban biaya, melainkan strategi bisnis yang rasional.
Implikasi bagi Industri dan Kebijakan Publik
Bagi pengelola hotel, hasil penelitian ini memberikan pesan jelas: strategi keberlanjutan harus dimulai dari manusia. Rekrutmen, pelatihan, dan sistem penghargaan perlu dirancang untuk mendukung perilaku dan kreativitas ramah lingkungan.
Dalam jangka pendek, hotel disarankan mengintegrasikan nilai keberlanjutan ke dalam proses rekrutmen dan pengembangan karyawan. Dalam jangka menengah, sistem penilaian kinerja dan kompensasi perlu dikaitkan dengan pencapaian target lingkungan.
Sementara itu, bagi pembuat kebijakan dan lembaga pendidikan, temuan ini membuka peluang untuk mendorong pengembangan kurikulum dan regulasi yang menekankan keterkaitan antara SDM, inovasi, dan keberlanjutan industri pariwisata.

0 Komentar