Kabupaten Karawang, Jawa Barat— PKM Implementasi Berpikir
Komputasional Menggunakan Unplugged Di PAUD. Penelitian ini dilakukan oleh Irma
Yuliantina, Icih Surnasih, Rakhmayanti, Novianti, Rofiatul Fauziyah, dan Kiki
Puspita dari Program Pascasarjana PAUD Universitas Panca Sakti Bekasi, dan
dipublikasikan dalam Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF) pada
awal 2026.
Penelitian yang dilakukan oleh Irma
Yuliantina, Icih Surnasih, Rakhmayanti, Novianti, Rofiatul Fauziyah, dan Kiki
Puspita mengungkapkan bahwa pelatihan berbasis praktik tanpa penggunaan
perangkat digital (unplugged) mampu membantu guru memahami konsep berpikir
komputasional secara lebih kontekstual dan mudah diterapkan di kelas PAUD.
Berpikir
komputasional sejak usia dini
Hasil kegiatan
menunjukkan bahwa banyak guru PAUD sebelumnya belum memahami konsep
computational thinking secara utuh, terutama empat komponen utama yaitu
dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma. Padahal, keterampilan
ini dianggap penting sebagai bagian dari kemampuan abad ke-21 yang membantu
anak belajar berpikir logis, sistematis, dan mampu memecahkan masalah secara
terstruktur.
Tim pelaksana
menemukan bahwa pembelajaran PAUD sering masih berfokus pada hafalan atau
aktivitas rutin, sehingga stimulasi kemampuan berpikir analitis belum maksimal.
Melalui pelatihan ini, guru diperkenalkan pada pendekatan baru yang
mengintegrasikan permainan dan aktivitas kreatif sebagai sarana pengembangan
logika berpikir anak.
Pendekatan
unplugged: belajar logika tanpa teknologi digital
Berbeda dengan
asumsi umum bahwa computational thinking harus menggunakan komputer, pendekatan
unplugged justru memanfaatkan aktivitas non-digital seperti permainan fisik,
cerita, dan eksplorasi lingkungan. Metode ini dinilai lebih sesuai dengan
karakteristik anak usia dini yang membutuhkan pengalaman konkret dan
interaktif.
Selama
pelatihan di TKQ Al-Mubarokah Kabupaten Karawang, peserta mencoba berbagai
aktivitas, antara lain:
- menyusun urutan langkah menggunakan kartu algoritma,
- mengenali pola melalui warna dan bentuk,
- menyelesaikan maze sederhana,
- merancang permainan menggunakan bahan sederhana
(loose parts).
Pelatihan
berbasis kebutuhan guru
Program diawali
dengan analisis kebutuhan melalui survei untuk memetakan tingkat pemahaman guru
PAUD di wilayah Kampung Pedes, Desa Karangsari, Kecamatan Purwasari. Hasilnya
menunjukkan sebagian besar guru belum familiar dengan konsep computational
thinking maupun implementasi unplugged.
Pelatihan
kemudian dirancang secara bertahap meliputi:
- Pembekalan konsep berpikir komputasional.
- Pelatihan teori empat komponen utama.
- Praktik langsung menggunakan media unplugged.
- Pendampingan penerapan di kelas.
- Evaluasi melalui pre-test dan post-test.
Temuan utama
dari kegiatan pengabdian
Evaluasi
menunjukkan adanya peningkatan pemahaman guru terhadap konsep computational
thinking dan kemampuan merancang aktivitas bermain berbasis CT. Tim mencatat
beberapa temuan penting:
- Guru mampu mengidentifikasi dan menerapkan empat
komponen utama berpikir komputasional.
- Aktivitas bermain berbasis CT meningkatkan fokus dan
antusiasme anak.
- Pendekatan unplugged efektif diterapkan meski tanpa
fasilitas teknologi digital.
- Guru menjadi lebih kreatif dalam merancang kegiatan
belajar kontekstual.
Observasi di kelas juga menunjukkan anak lebih mudah mengikuti instruksi langkah demi langkah, yang menandakan adanya peningkatan kemampuan berpikir sistematis.
Dampak bagi
dunia pendidikan PAUD
Program ini
memperlihatkan bahwa integrasi computational thinking dapat dilakukan tanpa
perubahan besar pada kurikulum maupun kebutuhan teknologi mahal. Pendekatan
unplugged membuka peluang bagi lembaga PAUD dengan keterbatasan sarana untuk
tetap mengembangkan kompetensi abad ke-21.
Menurut Irma
Yuliantina dari Universitas Panca Sakti Bekasi, penguatan kemampuan guru
menjadi kunci utama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran anak usia dini.
Dengan pemahaman yang tepat, guru dapat mengemas konsep kompleks menjadi
aktivitas bermain yang sederhana namun bermakna.
Selain
meningkatkan kompetensi individu guru, kegiatan ini juga mendorong kolaborasi
antar lembaga PAUD untuk berbagi praktik baik dan mengembangkan inovasi
pembelajaran secara berkelanjutan.
Tantangan
dan rekomendasi
Meski hasilnya
positif, tim peneliti menilai diperlukan pelatihan lanjutan agar guru dapat
memperluas variasi kegiatan berbasis computational thinking. Dukungan dari
pemerintah daerah dan institusi pendidikan juga dibutuhkan, terutama dalam
penyediaan bahan pembelajaran sederhana dan penguatan komunitas praktisi guru.
Beberapa
rekomendasi strategis yang diajukan meliputi:
- pelatihan berkelanjutan terkait computational
thinking di PAUD,
- penguatan kolaborasi antar guru dan lembaga,
- integrasi aktivitas unplugged dalam berbagai tema
pembelajaran,
- dukungan kebijakan untuk inovasi pembelajaran
berbasis keterampilan abad ke-21.
Profil
penulis
Irma Yuliantina– Universitas Panca Sakti Bekasi.
Icih Surnasih– Universitas Panca Sakti Bekasi.
•
Rakhmayanti – Universitas Panca Sakti Bekasi.
•
Novianti– Universitas Panca Sakti Bekasi.
•
Rofiatul Fauziyah– Universitas Panca Sakti
Bekasi.
•
Kiki Puspita– Universitas Panca Sakti Bekasi.
Sumber
penelitian
Yuliantina, I.,
Surnasih, I., Rakhmayanti, R., Novianti, N., Fauziyah, R., & Puspita, K.
(2026). PKM Implementation of Computational Thinking Using Unplugged in
Early Childhood Education.
Jurnal Pengabdian
Masyarakat Formosa (JPMF), Vol. 5 No. 1, hlm. 57–68
DOI: https://doi.org/10.55927/jpmf.v5i1.120
URL Resmi: https://ntlformosapublisher.org/index.php/jpmf
0 Komentar