Perubahan Iklim Menekan Produksi Tebu Jawa Timur, Curah Hujan Jadi Faktor Paling Kritis

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Surabaya - Produksi tebu di Jawa Timur terbukti sangat rentan terhadap perubahan iklim, terutama anomali curah hujan, yang secara konsisten menekan pasokan gula nasional. Temuan ini diungkap dalam riset terbaru yang ditulis oleh Dandi Fernanda, Eva Zunia Khoiryah, Ririn Wulandari, dan Mohammad Wasil dari Universitas Negeri Surabaya, dipublikasikan pada 2026 di Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA). Studi ini penting karena menunjukkan bahwa strategi swasembada gula Indonesia tidak lagi efektif jika hanya mengandalkan perluasan lahan, tanpa mitigasi risiko iklim

Indonesia masih menghadapi defisit gula struktural. Pada 2022, produksi gula kristal putih nasional hanya mencapai 2,41 juta ton, sementara impor melonjak hingga 6 juta ton. Jawa Timur menjadi wilayah kunci karena menyumbang produksi tebu terbesar nasional, namun justru mengalami fluktuasi produksi tajam dalam satu dekade terakhir. Kondisi ini berdampak langsung pada pendapatan petani, stabilitas harga pangan, dan ketahanan pangan nasional.

Curah Hujan Berlebih Menjadi Sumber Guncangan Produksi

Penelitian ini menganalisis data selama 1995–2023 untuk melihat bagaimana faktor iklim dan non-iklim memengaruhi produksi tebu di Jawa Timur. Hasilnya tegas: curah hujan berlebih memiliki dampak negatif yang signifikan dan berkelanjutan terhadap produksi tebu.

Setiap kenaikan curah hujan tahunan sebesar 1 persen terbukti menurunkan produksi tebu sekitar 0,46 persen dalam jangka panjang. Air memang penting bagi pertumbuhan tanaman, tetapi hujan berlebihan—terutama menjelang masa panen—menyebabkan genangan, menurunkan kualitas rendemen gula, serta menyulitkan proses panen dan distribusi.

Sebaliknya, variabel suhu—baik maksimum, minimum, maupun rata-rata—tidak menunjukkan pengaruh signifikan secara statistik dalam jangka panjang. Temuan ini mengoreksi asumsi lama yang sering menempatkan suhu sebagai faktor utama penurunan produktivitas tanaman di daerah tropis.

Perluasan Lahan Tidak Lagi Efisien

Dari sisi non-iklim, luas lahan panen memang masih berdampak positif terhadap produksi. Namun efeknya tidak elastis. Artinya, penambahan lahan tidak lagi menghasilkan peningkatan produksi yang sebanding.

Secara angka, kenaikan luas lahan 1 persen hanya meningkatkan produksi sekitar 0,58 persen. Ini menandakan terjadinya diminishing marginal returns, di mana ekspansi lahan mulai menyentuh wilayah kurang subur, berbiaya tinggi, dan tidak efisien secara teknis. Dalam konteks Jawa Timur yang menghadapi tekanan urbanisasi dan alih fungsi lahan, strategi ini dinilai semakin mahal dan berisiko.

Menariknya, faktor jumlah penduduk juga tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap produksi tebu. Artinya, ketersediaan tenaga kerja bukan lagi penentu utama kinerja sektor ini.

Metode Dinamis Ungkap Pola Jangka Panjang

Untuk menangkap dinamika jangka pendek dan jangka panjang sekaligus, para peneliti menggunakan model Autoregressive Distributed Lag (ARDL), metode ekonometrika yang mampu membaca pola penyesuaian pasar dari waktu ke waktu.

Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun sektor tebu sering mengalami guncangan iklim, sistem produksi masih memiliki kemampuan pulih yang cukup tinggi. Sekitar 85 persen ketidakseimbangan akibat guncangan iklim dapat dikoreksi kembali dalam satu tahun. Namun, ketahanan ini memiliki batas, terutama jika risiko iklim terus meningkat tanpa intervensi teknologi.

Implikasi Kebijakan: Fokus pada Mitigasi Risiko Iklim

Temuan penelitian ini membawa pesan penting bagi pembuat kebijakan. Strategi swasembada gula tidak bisa lagi bergantung pada perluasan lahan semata. Biaya ekonomi dan ekologisnya terlalu tinggi, sementara hasilnya semakin terbatas.

Sebaliknya, investasi perlu dialihkan ke:

  • teknologi pengelolaan air dan drainase,
  • sistem irigasi adaptif,
  • peringatan dini cuaca ekstrem,
  • serta inovasi budidaya yang tahan terhadap kelebihan air.

Menurut para penulis, meningkatkan efisiensi kurva pasokan melalui mitigasi risiko iklim jauh lebih rasional dibanding membuka lahan baru dengan biaya peluang tinggi.

Selain berdampak pada sektor pertanian, hasil studi ini juga relevan bagi stabilitas harga pangan, pengendalian inflasi, dan perlindungan pendapatan petani—isu yang semakin krusial di tengah krisis iklim global.

Profil Penulis

Dandi Fernanda
Dosen dan peneliti ekonomi pertanian, Universitas Negeri Surabaya. Keahlian: ekonomi sumber daya, ketahanan pangan, dan analisis kebijakan pertanian.
Eva Zunia Khoiryah
Peneliti bidang ekonomi pembangunan dan ekonomi lingkungan, Universitas Negeri Surabaya.
Ririn Wulandari
Akademisi ekonomi regional dan perencanaan wilayah, Universitas Negeri Surabaya.
Mohammad Wasil
Peneliti ekonomi pertanian dan agribisnis, Universitas Negeri Surabaya.

Sumber Penelitian

Fernanda, D., Khoiryah, E. Z., Wulandari, R., & Wasil, M. (2026).
Economic Impact Analysis of Climate Change on Sugarcane Production: An ARDL Model Approach.
Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA), Vol. 5 No. 1, hlm. 69–88.
DOI: 10.55927/ijaea.v5i1.15972

https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijaea 


Posting Komentar

0 Komentar