Indonesia masih menghadapi defisit gula struktural. Pada 2022, produksi gula kristal putih nasional hanya mencapai 2,41 juta ton, sementara impor melonjak hingga 6 juta ton. Jawa Timur menjadi wilayah kunci karena menyumbang produksi tebu terbesar nasional, namun justru mengalami fluktuasi produksi tajam dalam satu dekade terakhir. Kondisi ini berdampak langsung pada pendapatan petani, stabilitas harga pangan, dan ketahanan pangan nasional.
Curah Hujan Berlebih Menjadi Sumber Guncangan Produksi
Penelitian ini menganalisis data selama 1995–2023 untuk melihat bagaimana faktor iklim dan non-iklim memengaruhi produksi tebu di Jawa Timur. Hasilnya tegas: curah hujan berlebih memiliki dampak negatif yang signifikan dan berkelanjutan terhadap produksi tebu.
Setiap kenaikan curah hujan tahunan sebesar 1 persen terbukti menurunkan produksi tebu sekitar 0,46 persen dalam jangka panjang. Air memang penting bagi pertumbuhan tanaman, tetapi hujan berlebihan—terutama menjelang masa panen—menyebabkan genangan, menurunkan kualitas rendemen gula, serta menyulitkan proses panen dan distribusi.
Sebaliknya, variabel suhu—baik maksimum, minimum, maupun rata-rata—tidak menunjukkan pengaruh signifikan secara statistik dalam jangka panjang. Temuan ini mengoreksi asumsi lama yang sering menempatkan suhu sebagai faktor utama penurunan produktivitas tanaman di daerah tropis.
Perluasan Lahan Tidak Lagi Efisien
Dari sisi non-iklim, luas lahan panen memang masih berdampak positif terhadap produksi. Namun efeknya tidak elastis. Artinya, penambahan lahan tidak lagi menghasilkan peningkatan produksi yang sebanding.
Secara angka, kenaikan luas lahan 1 persen hanya meningkatkan produksi sekitar 0,58 persen. Ini menandakan terjadinya diminishing marginal returns, di mana ekspansi lahan mulai menyentuh wilayah kurang subur, berbiaya tinggi, dan tidak efisien secara teknis. Dalam konteks Jawa Timur yang menghadapi tekanan urbanisasi dan alih fungsi lahan, strategi ini dinilai semakin mahal dan berisiko.
Menariknya, faktor jumlah penduduk juga tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap produksi tebu. Artinya, ketersediaan tenaga kerja bukan lagi penentu utama kinerja sektor ini.
Metode Dinamis Ungkap Pola Jangka Panjang
Untuk menangkap dinamika jangka pendek dan jangka panjang sekaligus, para peneliti menggunakan model Autoregressive Distributed Lag (ARDL), metode ekonometrika yang mampu membaca pola penyesuaian pasar dari waktu ke waktu.
Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun sektor tebu sering mengalami guncangan iklim, sistem produksi masih memiliki kemampuan pulih yang cukup tinggi. Sekitar 85 persen ketidakseimbangan akibat guncangan iklim dapat dikoreksi kembali dalam satu tahun. Namun, ketahanan ini memiliki batas, terutama jika risiko iklim terus meningkat tanpa intervensi teknologi.
Implikasi Kebijakan: Fokus pada Mitigasi Risiko Iklim
Temuan penelitian ini membawa pesan penting bagi pembuat kebijakan. Strategi swasembada gula tidak bisa lagi bergantung pada perluasan lahan semata. Biaya ekonomi dan ekologisnya terlalu tinggi, sementara hasilnya semakin terbatas.
Sebaliknya, investasi perlu dialihkan ke:
- teknologi pengelolaan air dan drainase,
- sistem irigasi adaptif,
- peringatan dini cuaca ekstrem,
- serta inovasi budidaya yang tahan terhadap kelebihan air.
Menurut para penulis, meningkatkan efisiensi kurva pasokan melalui mitigasi risiko iklim jauh lebih rasional dibanding membuka lahan baru dengan biaya peluang tinggi.
Selain berdampak pada sektor pertanian, hasil studi ini juga relevan bagi stabilitas harga pangan, pengendalian inflasi, dan perlindungan pendapatan petani—isu yang semakin krusial di tengah krisis iklim global.
Profil Penulis
Sumber Penelitian
Fernanda, D., Khoiryah, E. Z., Wulandari, R., & Wasil, M. (2026).
Economic Impact Analysis of Climate Change on Sugarcane Production: An ARDL Model Approach.
Indonesian Journal of Agriculture and Environmental Analytics (IJAEA), Vol. 5 No. 1, hlm. 69–88.
DOI: 10.55927/ijaea.v5i1.15972
https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijaea

0 Komentar