Riset 2026: Industri Jamu Besar Secara Budaya, Kecil Secara Ekonomi
Industri jamu Indonesia memiliki basis pasar yang luas dan loyal, tetapi kontribusinya terhadap ekonomi nasional masih rendah. Temuan ini dipaparkan dalam studi berjudul The Strategic Role of the Jamu Industry in the National Economy yang ditulis oleh Agus Rizal, Yudhie Haryono, Firdaus Syamsu, Yaya Sunaryo, Dedi Setiadi, Riskal Arief, Asy’ari Muchtar, dan Heri Susanto dari Badan Rempah dan Herbal Indonesia, dan dipublikasikan pada 2026 di Internasional Journal of Integrative Sciences (IJIS). Penelitian ini penting karena jamu selama ini dipandang sebagai warisan budaya nasional, namun perannya sebagai penggerak ekonomi masih belum optimal.
Pasar Stabil, Tapi Tidak Bertumbuh
Industri jamu berada di persimpangan antara kesehatan, pertanian, dan industri pengolahan. Permintaan domestik tergolong stabil, dengan 64% konsumen lebih memilih jamu tradisional lokal, terutama dalam bentuk cair (49%) dan bubuk (41%). Namun stabilitas ini tidak diikuti ekspansi ekonomi yang signifikan.
Data Badan Pusat Statistik 2024 menunjukkan kontribusi subsektor jamu terhadap PDB industri obat tradisional masih di bawah 0,3%. Artinya, meskipun pelaku usahanya banyak, nilai tambah yang dihasilkan relatif kecil.
Menurut Agus Rizal dan tim dari Badan Rempah dan Herbal Indonesia, persoalan utama bukan pada kurangnya minat pasar, melainkan pada stagnasi produktivitas, skala usaha, dan integrasi rantai nilai.
Metodologi: Survei dan Wawancara Mendalam
Penelitian menggunakan metode campuran (mixed method) dengan desain explanatory sequential.
Tahap pertama berupa survei kuantitatif terhadap 138 responden yang terdiri dari pelaku usaha dan konsumen jamu. Variabel yang diukur meliputi:
- Preferensi konsumen
- Peta distribusi
- Persepsi harga
- Dimensi gender
- Potensi pasar
Tahap kedua berupa wawancara mendalam dengan 25 informan dari berbagai rantai nilai industri, termasuk produsen, distributor, pedagang, dan konsumen.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat hubungan statistik sekaligus memahami dinamika sosial dan struktural di lapangan.
Temuan Utama: Terjebak Skala Kecil
Hasil penelitian menunjukkan pola stagnasi struktural:
1. Skala Usaha Mikro Mendominasi
Mayoritas usaha sudah berjalan lebih dari satu tahun, tetapi tidak menunjukkan akselerasi produksi atau pendapatan.
2. Produktivitas dan Upah Stagnan
Industri ini bertahan, tetapi belum menciptakan lompatan kesejahteraan.
3. Kontribusi Pajak Rendah
Jumlah pelaku usaha besar, tetapi basis pajaknya dangkal.
4. Inovasi Belum Matang
Sebanyak 54% responden melihat potensi penggunaan susu kambing sebagai bahan tambahan jamu. Namun hanya 5% yang menganggapnya peluang pasar nyata. Kendala utama adalah ketersediaan bahan dan ketidakpastian permintaan.
Analisis Strategis: Masalahnya Bukan Budaya
Penelitian menegaskan bahwa jamu memiliki loyalitas budaya kuat, tetapi belum berhasil melakukan transformasi struktural.
Menurut Yudhie Haryono dan tim Badan Rempah dan Herbal Indonesia, industri jamu masih beroperasi sebagai sektor subsisten berbasis UMKM, bukan sebagai sektor industri strategis berorientasi produktivitas tinggi.
Permasalahan utama meliputi:
Industri jamu memiliki keunggulan bahan baku lokal dan akar budaya kuat, tetapi belum terintegrasi dalam ekosistem inovasi nasional.
Dampak bagi Ekonomi Nasional
Studi ini menempatkan jamu sebagai sektor potensial dalam tiga dimensi utama:
Kutipan Akademik
Agus Rizal dan tim dari Badan Rempah dan Herbal Indonesia menegaskan bahwa industri jamu “besar secara budaya dan jumlah pelaku, tetapi kecil secara ekonomi dan fiskal.” Mereka menekankan perlunya kebijakan industri yang memisahkan rezim regulasi jamu dari obat kimia agar pelaku UMKM dapat berkembang tanpa beban biaya kepatuhan yang tidak proporsional.
0 Komentar