Peningkatan Literasi Pengasuhan Digital Orang Tua Anak Usia Dini melalui Program Harmoni Digital di Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi

Ilustrasi by AI

Kabupaten Bekasi, Jawa Barat— Peningkatan Literasi Pengasuhan Digital Orang Tua Anak Usia Dini melalui Program Harmoni Digital di Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi. Penelitian ini dilakukan oleh Ajat, Imamah, Ida Rarawati, Kurniasari, Siti Utami Agustina, Fahria Zulfah, dan Dewi Syarifah dari Universitas Panca Sakti Bekasi dan dipublikasikan dalam Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF) pada Februari 2026.

Penelitian yang dilakukan oleh Ajat, Imamah, Ida Rarawati, Kurniasari, Siti Utami Agustina, Fahria Zulfah, dan Dewi Syarifah mengungkapkan bahwa pelatihan berbasis teori dan praktik langsung mampu memperkuat kemampuan orang tua dalam mendampingi penggunaan gadget sekaligus mendukung perkembangan bahasa anak.

Penggunaan gadget meningkat, risiko speech delay mengintai

Di Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, penggunaan gadget pada anak usia dini semakin intens. Dalam praktik sehari-hari, perangkat digital sering dijadikan alat hiburan atau penenang tanpa pendampingan memadai.

Kondisi ini berdampak pada berkurangnya interaksi verbal antara orang tua dan anak. Padahal, komunikasi dua arah dan stimulasi multisensori merupakan fondasi utama perkembangan bahasa. Tanpa interaksi aktif, anak berisiko mengalami keterlambatan bicara atau speech delay.

Temuan lapangan menunjukkan sebagian besar orang tua belum memahami batas aman screen time, belum menerapkan pendampingan aktif (co-viewing), dan belum mampu mengenali tanda-tanda awal gangguan perkembangan bahasa. Kesenjangan antara teori dan praktik pengasuhan inilah yang mendorong lahirnya Program Harmoni Digital.

Pelatihan tidak hanya teori, tetapi praktik langsung

Program Harmoni Digital dirancang sebagai model edukasi terpadu. Sebanyak 30 peserta yang terdiri dari orang tua, guru PAUD, kader posyandu, dan tokoh masyarakat mengikuti rangkaian kegiatan yang meliputi:

  • Pre-test untuk memetakan pengetahuan awal
  • Seminar perkembangan bahasa dan risiko screen time berlebih
  • Pengenalan prinsip Harmoni Digital 5P
  • Empat sesi workshop praktik
  • Post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman

Prinsip 5P yang diperkenalkan meliputi:

  1. Pembatasan durasi penggunaan gadget
  2. Pemilihan konten edukatif
  3. Pendampingan aktif (co-viewing)
  4. Pengimbangan aktivitas digital dan non-digital
  5. Penguatan interaksi orang tua dan anak

Dalam sesi workshop, peserta mempraktikkan teknik membangun kontak mata, respons verbal cepat, lagu-gerak multisensori, storytelling interaktif, serta simulasi pendampingan saat anak menonton konten digital.Pendekatan ini membuat peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menerapkannya secara nyata di rumah.

Hasil meningkat 45–64%

Evaluasi program dilakukan melalui perbandingan skor pre-test dan post-test. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan pada seluruh indikator yang diukur.

Beberapa temuan utama antara lain:

  • Pemahaman pendampingan gadget meningkat 61%
  • Penerapan strategi komunikasi responsif meningkat 64%
  • Pemahaman tanda awal speech delay meningkat 52%
  • Kemampuan memilih konten edukatif meningkat 48%

Secara keseluruhan, peningkatan literasi pengasuhan digital berada pada rentang 45–64% setelah peserta mengikuti rangkaian seminar dan workshop.

Temuan ini memperlihatkan bahwa metode pelatihan berbasis praktik lebih efektif dibandingkan penyampaian informasi satu arah. Peserta tidak hanya mengetahui teori, tetapi juga menginternalisasikannya dalam pola pengasuhan sehari-hari.

Perubahan perilaku, bukan sekadar pengetahuan

Ajat dan tim dari Universitas Panca Sakti Bekasi menekankan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari kenaikan skor tes, tetapi juga dari perubahan pola pikir dan kebiasaan orang tua.

Metode yang menggabungkan refleksi, diskusi interaktif, praktik langsung, dan pendampingan memungkinkan peserta merekonstruksi kebiasaan lama. Orang tua mulai memahami bahwa gadget bukan musuh, melainkan alat yang perlu dikelola secara bijak.Pendampingan aktif dan komunikasi dua arah terbukti menjadi faktor penting dalam mendukung perkembangan bahasa anak. Ketika orang tua hadir secara emosional saat anak menggunakan gadget, kualitas interaksi tetap terjaga.

Implikasi bagi pendidikan dan kebijakan keluarga

Hasil program Harmoni Digital memberikan pesan penting bagi dunia pendidikan dan kebijakan publik. Literasi pengasuhan digital perlu menjadi bagian dari program pembinaan keluarga, terutama di wilayah dengan paparan gadget tinggi.

Tim peneliti merekomendasikan beberapa langkah strategis:

• Replikasi Program Harmoni Digital di komunitas lain dengan karakteristik serupa.
• Kolaborasi berkelanjutan antara perguruan tinggi, PAUD, posyandu, dan pemerintah daerah.
• Integrasi materi pengasuhan digital dalam program edukasi keluarga.
• Pelatihan lanjutan agar perubahan perilaku orang tua dapat berkelanjutan.

Profil Penulis

• Ajat – Akademisi Universitas Panca Sakti Bekasi
• Imamah – Universitas Panca Sakti Bekasi
• Ida Rarawati – Universitas Panca Sakti Bekasi
• Kurniasari – Universitas Panca Sakti Bekasi
• Siti Utami Agustina, Fahria Zulfah, dan Dewi Syarifah – Universitas Panca Sakti Bekasi

Sumber Penelitian

Ajat, Imamah, Ida Rarawati, Kurniasari, Siti Utami Agustina, Fahria Zulfah, & Dewi Syarifah. (2026). Improving Digital Parenting Literacy for Early Childhood Parents Through the Digital Harmony Program in Setu District, Bekasi Regency.

Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF), Vol. 5 No. 1, hlm. 37–44.
DOI:https://doi.org/10.55927/jpmf.v5i1.118
URL Resmi: https://ntlformosapublisher.org/index.php/jpmf


Posting Komentar

0 Komentar